Sore beranjak berganti malam, seperti biasanya pada saat acara pencarian bakat penyanyi dangdut di akhir pekan malam eliminasi kontestan. Ruang depan rumahku ramai oleh penghuni tiga petak kontrakan, menonton penampilan penyanyi idolanya.
Sementara aku yang tak tertarik dengan acara seperti itu memilih duduk di luar teras sambil membuka smatphoneku dan melihat chat beberapa group di w******p.
"Sebaiknya aku ke rumah Irvan mumpung belum terlalu malam." Gumamku sembari berdiri dari tembok jembatan dan berjalan masuk ke kontrakan mengambil kunci motor dan jaketku.
"Mus, aku ke luar dulu... !?" Ucapku sambil tersenyum.
"Mau ke mana bang !?" Tanya Musdar.
"Ada panggilan dari temanku... siapa tahu saya pulangnya larut, pintunya di kunci saja !?" Ucapku sambil melirik sesaat pada Yusti.
"Pak bu nonton saja ya, aku tinggal dulu !?" Ucapku pada ke dua pasangan suami istri teranggaku.
"Baik om, hati-hati di jalan !?" Ucap pak guru.
Aku pun pergi mengendarai motor RXKing kesayanganku menuju rumah temanku yang berada di tengah-tengah kota.
Di tengah perjalanan saat melintasi fly over nampak sekumpulan komunitas motor RXKing tengah mangkal sedang menggeber dan membunyikan klakson tanda persahabatan beberapa di antaranya melambaikan tangan.
"ROOUNG... RROOOUNG."
"PIIIP.. PIIIIPIIIIP..."
Aku berlalu dengan membalas bunyi klakson sambil mengacungkan jempol pada mereka.
Hingga akhirnya aku tiba di sebuah gang yang hanya bisa di lewati satu motor, u tung saja rumah temanku berada paling dekat dari jalan keluar masuk lorong itu.
Seorang wanita paruhbaya dan anak kecil tengah berada di teras rumah sedang duduk di bawah temaram lampu dinding.
"Permisi bu, Irvannya ada !?" Tanyaku sambil membungkuk.
Wajah ke duanya nampak pucat tanpa ekspresi dan tertunduk sambil menunjuk ke dalam rumah yang pintunya di biarkan terbuka, aku lalu melangkah masuk.
"Assalamualaikum." Sapaku sambil mendorong pintu kamar yang tidak tertutup rapat dan mendapati Irvan tengah terbaring lemah di kasurnya.
"Waalaikumsalam... masuk bro !?" Ucap Irvan dengan suara kemah.
"Kamu kenapa bro... kamu mabuk, ya !?" Ucapku sambil menjatuhkan pantatku di pinggir kasur.
"Ayo bangun bro... kalau saya perhatikan sepertinya kamu ada masalah !?" Ucapku sambil menepuk pundaknya.
Irvan lalu bangun sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"No problem lah bang, cuma sekarang istri dan ibuku serta si bungsu lagi pulang kampung !?" Katanya sambil mencomot rokok di kantongku.
Sejenak aku terdiam sambil memijat daguku, ke dua alisku tertaut memandang Irvan yang sedang menyulut rokok di bibirnya.
"Hmm... ibu kamu pulang kampung... !?" Tanyaku sambil memicingkan mata menatapnya.
"Iya kemarin dulu mereka berangkat naik kapal laut !?" Ucap Irvan tanpa ragu.
"Jjadi siapa yang berada di teras tadi !?" Tanyaku dengan ke dua alis terangkat.
"Siapa... di rumah ini cuma ada aku dan anak si sulung !?" Kata Irvan menghempaskan asap rokok di bibirnya.
"Tadi ibu dan anak kamu yang kecil ada di teras, dan saya juga menyapanya... dia juga menujuk ke dalam saat aku bertanya kamu ada apa lagi ke luar." Ucapku sambil menyandarkan punggungku di tembok.
Tak ingin membahas lebih jauh apa yang kulihat di teras, aku pun mengalihkan pembicaraan dengan merasakan bulu kudukku berdiri.
"CK, beberapa hari ini nomor HP kamu tidak aktif, susah di hubungi !?" Ucapku sambil melihat benda pipih yang ku genggam.
"Iya bang Dey, terpaksa HP ku gadaikan dulu untuk tambah-tambah ongkos perjalanan ibu dan istriku." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya.
Bermaksud ingin mengalihkan pembicaraan namun topik kembali mengarah ke ibu dan istri Irvan yang berangkat ke kampungnya.
"Memangnya kampung kamu sebenarnya di mana Van !?" Tanyaku sambil menghisap kretek yang terselip di jariku.
"Di Sulawesi Tenggara, bang tepatnya di Kendari." Ucap Irvan.
"O, mereka berangkat lewat jalur mana !?" Tanyaku lagi.
"Lewat jalur laut melintasi teluk, kenapa memang abang ada progroes ke sana !?" Ucapnya santai.
"Irvan... coba kau hubungi, apa mereka sudah tiba !?" Kataku dengan sedikit gelisah, sambil mengusap-usap tengkukku.
"Mau di hubungi pakai apa bang, HP aku saja lagi tergadai sementara si sulung belum pulang-pulang sejak kemarin." Ucapnya seraya berdiri mengambil kartu chip di dalam laci nakas.
"Kamu hafal nomor istri kamu, ini coba hubungi dia tanyakan sudah tiba apa belum !?" Ucapku sambil menyodorkan benda pipih di tanganku.
"Iya aku hafal bang, tapi untuk apa menghubungi dia toh mereka tahu HPku lagi sekolah." Ucap Irvan.
"Apa kamu tidak menonton berita di televisi kemarin ada kapal tenggelam di teluk." Ucapku sambil menatap Irvan.
"Boro-boro nonton, televisi saja kami tak punya... trus kapan berita itu abang dengar." Ucapnya sedikit memsjukan tubuhnya dan meraih HP di tanganku.
Irvan lalu menekan beberapa angka di layar HPku hingga mengulang beberapa kali panggilan namun tidak terhubung.
"Kenapa !?" Tanyaku singkat.
"Tidak aktif bang !?" Jawabnya.
Coba hubungi nomor keluargamu yang kau tahu !?" Ucapku lagi.
Irvan lalu berdiri mengambil sebuah buku kecil dan mencoba menghubungi nomor keluarganya. Baru beberapa saat terdengar nada sambung terhubung.
"Halo tante ini Irvan." Ucapnya pada orang yang di hubungi.
"Apa Ina ku sudah sampai di rumah tante !?" Ucapnya sambil mengerjapkan mata.
"Iya tante kemarin dulu mereka berangkat lewat penyebrangan di Bone." Ucap Irvan terlihat gelisah.
"Iya ini teman saya yang mengatakan juga padaku..." Ucapnya.
"Tidak tante... ini nomor teman saya, hubungi saja La Fahri tapi dia juga belum pulang-pulang sampai sekarang." Ucapnya sambil memutuskan panggilan.
Nampak raut kegelisahan di wajah Irvan sesekali dia menghempaskan nafasnya sambil mencengkram rambutnya.
"Hhaahhh... semoga saja ibu, istri dan anakku selamat... mereka berada di kapal yang tenggelam itu." Ucap Irvan lirih, matanya nampak berkaca-kaca dan sedikit lagi menumpahkan air tergenang di sudut matanya.
"Doakan saja mereka selamat.... Kamu gadaikan berapa HPmu !?" Tanyaku sambil mengusap punggungnya.
"Sekarang sebutkan nomor rekening kamu, aku transfer untuk menebus HPmu juga sedikit ongkos untuk kau gunakan ke posko pencarian mengecek korban kapal tenggelam." Ujarku sambil menekan sejumlah angka dalam aplikasi bank yang ada di HPku.
"Okey sudah terkirim, gunakan saja dengan bijak... kalau ada apa-apa hubungi saja aku !?" Ucapku sambil berdiri dan pamit pada Irvan.
Saat berada di luar kamar Irvan, sebuah bayangan putih terlihat menggendong anak kecil berdiri membelakangiku, sosok yang aku kenal seperti istri Irvan... aku pun menoleh tanpa rasa takut sedikitpun.
"Tenanglah kalian di alam barumu, aku tahu kalian datang sekedar ingin menyampaikan pada Irvan jika kalian sudah tidak berada di dunia ini... aku juga tahu saat ini petugas penyelamat tengah berupaya menemukan jasad-jasad para korban... tuntunlah para petugas agar secepatnya menemukan jasad kalian" Gumamku dalam hati seraya tersenyum pada tiga sosok bayangan yang berdiri di pintu dapur yang terlihat remang-remang.
Aku tak lupa mengirimkan doa pada ke tiga sosok bayangan itu sebelum meninggalkan rumah Irvan.