Bab 1. Hidup Baru
"Jangan hubungi aku lagi! Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing!" Nadira berteriak kemudian mematikan sambungan telepon.
Tak lama berselang Nadira melempar ponselnya ke arah laut. Dia berteriak histeris seakan sedang berlomba dengan deru ombak. Dia mengacak rambut frustrasi.
Perempuan tersebut tiba-tiba membaringkan tubuh ke tepi pantai. Dia menatap langit lepas di atasnya dengan kelip bintang. Suara ombak saling bersahutan seakan ingin berlomba untuk menyentuh tubuh perempuan cantik tersebut.
Isak tangis mulai keluar dari bibir Nadira karena teringat akan pengkhianatan mantan suaminya. Dia menutup mata dengan salah satu lengan. Ketika rasa dingin mulai menusuk, Nadira perlahan bangkit dari atas pasir.
"Di luar dingin. Kenapa malah tiduran di sini?" Dari arah punggung Nadira, terdengar suara ramah dari seorang laki-laki.
Nadira pun menoleh. Di belakangnya kini ada lelaki tampan berkulit putih dengan mata yang tidak begitu lebar ciri khas orang-orang Tionghoa. Nadira hanya tersenyum simpul kemudian berjalan kembali ke arah hotel.
"Bajumu basah, pakai ini." Lelaki tersebut menyodorkan sebuah atasan rajut berwarna biru tua.
"Tidak, terima kasih."
Nadira terus berjalan dan mengabaikan tawaran dari lelaki tersebut. Namun, tiba-tiba lelaki itu menghadang Nadira. Dia menyelimuti tubuh perempuan tersebut dengan atasan rajut yang tadi dia tawarkan.
"Aku Chandra Dharmawangsa," ucap Chandra seraya mengulurkan tangan.
Nadira tersenyum miring sekilas kemudian tertawa kecil. Dia hanya menatap lengan Chandra yang masih menggantung di udara dan setia menunggu respons darinya. Nadira mengambil napas dalam dan memutuskan untuk menyambut uluran tangan lelaki tersebut.
"Nadira Stevia Cakra ...." Nadira menggantung ucapannya.
Nadira merasa tidak pantas lagi menyandang nama belakang itu. Mengingat sang ayah sudah mencoretnya dari daftar ahli waris. Ya, dia bukanlah putri kandung Reza Cakrabumi.
"Nadira Stevia." Nadira mengulang perkenalannya lagi tanpa menyebutkan nama belakang.
"Kamu liburan?" tanya Chandra sambil mulai melangkah mengikuti Nadira.
"Tidak, Pak. Saya berencana pindah ke sini. Saya ingin membuat usaha kecil-kecilan. Beberapa waktu lalu saya mengikuti kelas pembuatan kue." Nadira tersenyum tipis sambil melirik Chandra yang kini sedang menatapnya.
"Aku memiliki satu rumah kosong yang ada di sekitar Jimbaran. Kalau boleh tahu, usaha apa yang akan kamu buat?" tanya Chandra sambil tersenyum kepada Nadira.
"Cafe and bakery. Saat mencium aroma kopi dan kue membuat hatiku sedikit lebih baik. mungkin itu salah satu healing yang aku perlukan." Nadira tersenyum getir.
"Baiklah, bisa minta nomor ponselmu? Aku akan menghubungimu untuk menunjukkan rumah itu besok."
Nadira kembali tersenyum lebar, kemudian terkekeh. Melihat sikap perempuan di hadapannya yang agak lain, membuat Chandra mengerutkan dahi. Nadira pun menunjuk lautan lepas tempat dia tadi melemparkan ponsel menggunakan jempolnya.
"Aku tadi membuang ponselku ke laut. Aku sedang kesal dengan seseorang yang terus menghubungi dan mengganggu kehidupanku." Nadira kembali tersenyum kecut ketika teringat bagaimana kehidupannya yang tidak langsung tenang pasca bercerai dengan Arya.
"Ah, baiklah." Chandra melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Bagaimana kalau kita beli ponsel baru? Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum pusat perbelanjaan tutup." Chandra mencoba untuk memberikan saran kepada Nadira dan disetujui dengan anggukan oleh perempuan tersebut.
Dari sana pertemuan mereka berawal. Chandra dan Nadira semakin dekat karena urusan bisnis. Ketika bisnis Nadira berjalan hampir satu tahun, dia berhasil membeli rumah milik Chandra.
Awalnya Chandra menolak untuk menjualnya karena sangat menyukai tempat itu. Akan tetapi, Nadira terus mendesak lelaki tersebut karena sudah terlanjur nyaman tinggal dan menjalankan usaha di tempat itu. Akhirnya kesepakatan pun dibuat.
Satu bulan setelah akad jual beli rumah itu terjadi, Chandra mengajak Nadira untuk makan malam bersama keluarganya di restoran. Nadira tak enak menolak ajakan itu karena mengingat kebaikan yang sudah diberikan oleh Chandra.
"Wah, cantiknya!" ujar Dewi saat melihat Nadira pertama kali.
"Sini, Sayang! Duduk di samping ibu!" seru Dewi sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.
"Baik, Tante." Nadira pun menarik kursi itu dan mendaratkan b0kong ke atasnya.
Tiba-tiba Dewi menggenggam jemari Nadira dan mengusapnya lembut. Nadira sempat tersentak dan mengalihkan tatapannya kepada Chandra. Chandra hanya mengusap tengkuk sambil tersenyum canggung.
"Kamu suka makan apa? Menu di sini sangat beragam! Kamu suka masakan Indonesia, China, Jepang, Korea, atau ala barat?"
"Sa-saya pemakan segala, Tante!"
Senyum Dewi langsung sirna ketika mendengar jawaban Nadira. Suasana di restoran itu mendadak hening. Joe, Chandra, Dewi saling melemparkan tatapan sehingga membuat Nadira menelan ludah kasar. Akan tetapi, beberapa detik kemudian tawa mereka pecah.
"Astaga, Chandra! Di mana kamu menemukan perempuan humoris seperti dia?" Dewi mencolek lengan atas Nadira sambil terus tertawa.
Tak lama kemudian makanan pun datang. Mereka mulai banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing. Nadira langsung merasa nyaman dan akrab karena Dewi yang begitu ramah dan humoris.
"Jadi, kapan kalian akan menikah? Ibu sangat cocok sejak melihat Nadira!"
Mendengar hal itu membuat Nadira tersedak. Dia terbatuk-batu sehingga membuat Dewi begitu panik. Perempuan itu langsung menyodorkan segelas air putih kepada Nadira.
"Astaga, maafkan ibu, Nad! Ibu terlalu bersemangat!" ujar Dewi sambil mengusap punggung Nadira.
"Bu, se-sepertinya sudah malam. Chandra antar Nadira pulang dulu, ya? Besok dia harus buka kafe." Chandra langsung menarik lengan Nadira.
Keduanya pun langsung keluar dari restoran itu setelah berpamitan. Sepanjang perjalanan menuju rumah Nadira, tidak ada perbincangan yang terjadi di antara mereka. Sesekali Chandra melirik Nadira yang terlihat sedang merenung.
"Maafkan ibuku, ya? Kamu pasti sangat terkejut!"
"Iya, Mas. Nggak apa-apa." Nadira memaksakan senyum agar tidak membebani hati Chandra.
Chandra menepikan mobil meski belum sampai rumah Nadira. Kini dia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Nadira. Perempuan tersebut sempat terenyak dan menarik lengannya, tetapi Chandra kembali menggenggam tangan Nadira.
"Nad, tapi apa yang dikatakan sama ibu itu adalah perwakilan dari isi hatiku."
"Maksud Mas Chandra?" tanya Nadira dengan alis yang saling bertautan.
"Nad, kamu mau menikah denganku?"
Mata Nadira langsung terbelalak. Dia tidak menyangka mendapatkan lamaran dari Chandra. Sejujurnya dia sangat nyaman dan merasa aman selama dekat dengan lelaki tersebut.
Nadira tidak menyangka justru lelaki tersebut malah melamarnya padahal sebelumnya tidak pernah menyatakan cinta. Lidah Nadira seakan kelu detik itu juga. Hanya air mata kebahagiaan yang menetes.
"Aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu. Saat melihat kamu terlihat sedih di tepi pantai waktu itu, entah mengapa hatiku ikut merasa sakit. Seiring berjalannya waktu, Aku terus berusaha untuk menghadirkan kebahagiaan di setiap harimu." Chandra mengusap pipi Nadira yang kini banjir dengan air mata.
"Tapi, Mas. Aku ini janda. Terlebih aku tidak memiliki asal-usul yang jelas. Apa keluargamu mau menerimaku? Keluargamu itu orang terpandang di sini."
Chandra langsung memeluk tubuh Nadira. kali ini sudah tidak ada penolakan yang dilakukan oleh Nadira karena perempuan cantik itu sudah mulai nyaman dengan setiap sentuhan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Justru dia semakin merasa tenang.
"Keluargaku dulu juga orang biasa, Nad. Ibu juga bapak nggak pernah memandang status sosial orang lain. Jadi ...." Chandra melepaskan pelukannya kemudian merangkum wajah Nadira.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Chandra lagi.
Nadira terdiam. Sebenarnya bukan hanya masalah asal-usulnya. Ada hal lain yang membuat dia ragu untuk menikah lagi. Namun, saat melihat ketulusan Chandra, Nadira berharap semua akan baik-baik saja di kemudian hari.
“Semoga keputusan ini tidak pernah aku sesali, tapi bagaimana kalau Mas Chandra tahu kalo aku ...."
Nadira takut membayangkan jika kebahagiaan harus berakhir saat rahasianya terungkap. Namun, hanya itu jalan satu-satunya demi bisa dinikahi oleh pria yang dicintainya. Nadira terlalu takut jika Chandra malah akan meninggalkannya jika tahu soal kekurangannya.