Istana Pasir di Ujung Sleman
Lampu kuning temaram menggantung di langit-langit ruang tamu rumah Paman Ahmad di daerah Sleman. Aroma melati yang rontok dari sanggul Elvina menyeruak, bercampur dengan wangi kayu cendana dari tungku kecil di sudut ruangan. Sore itu, dunia seolah berhenti berputar bagi Elvina Prayoga.
Di depannya, Reza Mahardika—lelaki yang ia cintai sejak semester tiga di UGM—duduk dengan punggung tegak. Reza tampak gagah dengan beskap putih tulang, meskipun raut wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Saya terima nikahnya Elvina Prayoga binti (Almarhum) Prayoga Raharjo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Reza dengan satu tarikan napas yang mantap.
"Sah?" tanya Pak Penghulu. "Sah!" seru Paman Ahmad dan beberapa saksi lainnya.
Air mata Elvina jatuh tanpa bisa dibendung. Ibu, Ayah, Elvina sudah menikah, batinnya perih sekaligus bahagia. Sejak kecelakaan sepuluh tahun lalu yang merenggut orang tuanya, Elvina selalu merasa sendirian di dunia ini, meski Paman Ahmad dan Bibi Ratminah merawatnya dengan baik. Namun hari ini, ia memiliki pelindung baru.
Saat prosesi sungkeman, Reza menggenggam jemari Elvina erat. Ia berbisik tepat di telinga istrinya dengan logat Jakarta-nya yang kental namun lembut.
"Akhirnya, Vin. Sorry ya, baru bisa nikah siri dulu. Gue janji, begitu bokap nyokap balik dari London, kita langsung ke KUA. Gue mau seluruh dunia tahu kalau lo punya gue," bisik Reza.
Elvina tersenyum manis, lesung pipitnya mengintip. "Mboten nopo-nopo, Mas. Yang penting di mata Allah kita sudah halal. Aku percaya sama Mas Reza."
Bibi Ratminah mendekat, mengelus bahu Elvina. "Gek ndang istirahat, Nduk. Mas Reza-mu pasti capek habis perjalanan dari Jakarta langsung akad."
Kamar Elvina yang biasanya hanya berbau bedak bayi dan buku kuliah, malam ini bertransformasi. Aroma lilin aromaterapi sandalwood dan mawar putih yang baru dipetik memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang berat oleh antisipasi. Elvina duduk mematung di tepi ranjang yang seprainya baru diganti pagi tadi oleh Bibi Ratminah. Jantungnya bertalu-talu, seirama dengan suara jangkrik di luar jendela yang sesekali memecah sunyi Sleman.
Pintu terbuka pelan. Reza masuk, aromanya yang maskulin—campuran sabun segar dan parfum kayu-kayuan—langsung mendominasi ruangan. Ia sudah berganti pakaian, hanya mengenakan kaos putih tipis yang mencetak jelas lekuk otot bahunya dan sarung yang melilit pinggangnya dengan santai.
"Belum dibuka jarumnya, Sayang?" suara Reza rendah, serak, dan sangat dekat di telinga Elvina.
Elvina tersentak kecil, jemarinya yang gemetar masih berusaha melepas ronce melati di sanggulnya. "Susah, Mas... jarumnya banyak banget."
Reza terkekeh pelan, sebuah suara yang menggetarkan d**a Elvina. Ia mengambil posisi di belakang istrinya. Jemarinya yang panjang dan hangat mulai bekerja dengan sangat telaten. Satu per satu jarum pentul diletakkan di atas meja rias dengan denting halus. Setiap kali ujung jari Reza menyentuh kulit tengkuk Elvina yang sensitif, gadis itu merasakan aliran listrik yang membuatnya merinding.
"Mas... beneran nggak nyesel nikah sama aku?" bisik Elvina, matanya menatap pantulan mereka di cermin. Ada ketakutan di sana, ketakutan seorang yatim piatu yang merasa dirinya tidak punya apa-apa untuk ditawarkan pada lelaki sukses seperti Reza.
Reza menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh Elvina agar mereka berhadapan. Ia berlutut di antara kaki Elvina, menatapnya dengan intensitas yang nyaris membuat Elvina lupa cara bernapas.
"El, dengerin gue," panggilnya dengan logat Jakarta yang kini terdengar sangat posesif. "Dari zaman kita masih makan di angkringan selokan Mataram sampai sekarang gue jadi manajer, cuma lo yang gue mau. Lo itu rumah, El. Lo itu jawaban dari semua doa gue. Jangan pernah nanya itu lagi, ya?"
Reza menarik tengkuk Elvina lembut, mendaratkan kecupan lama di keningnya. Bibir Reza kemudian berpindah, menyisir pelipis, turun ke cuping telinga, dan memberikan gigitan kecil yang membuat Elvina mendesah tertahan. Gairah yang selama ini mereka bendung selama bertahun-tahun masa pacaran seolah meledak malam itu.
Tangan Reza bergerak ke punggung Elvina, mencari ritsleting kebaya putih yang membalut tubuh ramping itu. Dengan sekali tarikan halus, kain itu melonggar, menyingkap kulit putih bersih Elvina di bawah cahaya lampu yang temaram.
"Mas..." Elvina berpegangan pada bahu kokoh Reza saat bibir pria itu mulai menjelajahi ceruk lehernya dengan lapar namun penuh pemujaan.
"Aku bakal bahagiain kamu, El. Sumpah," bisik Reza di sela-sela napasnya yang memburu.
Reza membimbing Elvina untuk berbaring di atas ranjang. Di bawah tatapan Reza yang begitu mendamba, Elvina merasa dirinya adalah wanita paling cantik di dunia. Setiap sentuhan Reza—mulai dari usapan lembut di pipi hingga cengkeraman posesif di pinggang—terasa seperti segel kepemilikan.
Keintiman mereka bukan sekadar pemuasan hasrat, melainkan sebuah simfoni emosi. Reza bergerak dengan ritme yang menuntut namun penuh kasih, seolah setiap inci tubuh Elvina adalah wilayah suci yang harus ia jelajahi dengan hormat. Elvina menyambutnya dengan kepasrahan total, membiarkan suaminya itu membawanya ke puncak gairah yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di sela-sela keringat yang bercampur dan desah napas yang saling memburu, Reza terus membisikkan kata-kata cinta. Ia memuja Elvina, menciumi jemarinya, dan berjanji akan selalu menjaganya. Malam itu, di kamar kecil di sudut Yogyakarta, Elvina menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada Reza, tanpa sedikit pun curiga bahwa pria yang mendekapnya dengan begitu protektif itu memiliki kehidupan lain yang jauh lebih megah di ibu kota.
Bagi Elvina, ini adalah awal dari selamanya. Bagi Reza, ini adalah pelarian termanis dari ambisi yang menyesakkan.
Satu minggu itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Reza tidak membiarkan ponselnya menyala lama, dia sepenuhnya milik Elvina. Dari aspal Yogyakarta yang bersejarah hingga angin dingin di puncak ijen, setiap detiknya adalah perayaan cinta.
Di Gumuk Pasir Parangkusumo, angin berhembus membawa aroma laut Selatan. Reza menyewa sebuah Jeep, namun mereka lebih banyak menghabiskan waktu berjalan kaki, meninggalkan jejak kaki berdampingan di hamparan pasir yang luas.
"Mas, lihat! Mataharinya bagus banget," tunjuk Elvina ke ufuk barat yang memerah.
Reza tidak melihat matahari. Dia menatap Elvina yang rambutnya berantakan tertiup angin. Dengan gerakan pelan, Reza menarik Elvina ke dalam pelukannya dari belakang. Lengannya yang kokoh melingkar erat di perut Elvina, dagunya bertumpu di bahu istrinya.
"Mataharinya kalah cantik sama istri gue," bisik Reza, suaranya berat dan maskulin tepat di telinga Elvina.
Reza memutar tubuh Elvina, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang hangat. Di tengah padang pasir yang sunyi, dia mencium Elvina dengan lembut namun dalam, sebuah ciuman yang terasa seperti janji abadi. Elvina meremas kerah kemeja Reza, kakinya terasa lemas setiap kali bibir pria itu bergerak memujanya. "Jangan pernah tinggalin aku ya, Mas," gumam Elvina di sela ciuman mereka.
Sesampainya di Batu, Malang, suhu udara turun drastis. Mereka menginap di sebuah vila kayu yang memiliki perapian kecil. Saat kabut mulai turun menyelimuti kebun apel di luar, di dalam kamar, suasana justru memanas.
Malam itu, mereka baru saja kembali setelah makan bakso hangat di pinggir jalan. Elvina yang kedinginan mencoba menghangatkan tangannya di depan perapian, namun Reza punya cara lain. Pria itu menarik Elvina ke atas pangkuannya di sofa depan api yang meredup.
"Mas... nanti dilihat orang," protes Elvina lemah meski dia tidak berontak.
"Siapa yang lihat? Cuma ada kita di sini, Sayang," balas Reza sambil mulai menciumi ceruk leher Elvina, menghirup aroma sabun dan kulit istrinya yang memabukkan.
Tangan Reza masuk ke bawah sweater tebal Elvina, mencari kehangatan di kulit punggungnya yang halus. Sentuhan itu membuat Elvina memejamkan mata, kepalanya tersandar pada bahu Reza. Di Malang, keintiman mereka terasa lebih santai namun provokatif. Mereka b******u di bawah selimut tebal sementara suara hujan rintik-rintik menghantam atap seng, menciptakan irama yang menemani penyatuan mereka yang penuh gairah hingga fajar menyapa.
Puncaknya adalah di Kawah Ijen. Pendakian yang melelahkan di tengah malam tidak terasa berat karena Reza nyaris tidak pernah melepaskan tangan Elvina. Setiap kali Elvina merasa lelah, Reza akan berdiri di belakangnya, memberikan dorongan, atau sesekali mengecup keningnya untuk memberi semangat.
Saat mereka sampai di puncak dan melihat Blue Fire yang langka, Reza menarik sebuah kotak beludru dari saku jaketnya. Bukan berlian yang sangat besar, tapi sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bunga melati kecil—bunga favorit Elvina.
"Vina, dengerin aku," kata Reza serius, kali ini tanpa bahasa gaul Jakarta-nya, seolah ingin menekankan ketulusannya. "Di tempat tertinggi yang pernah kita daki bareng ini, aku janji. Kamu adalah puncak dari pencarianku. Kamu satu-satunya perempuan yang aku pilih untuk jadi ibu dari anak-anakku nanti."
Reza memasangkan kalung itu, jari-jarinya yang dingin karena suhu pegunungan bersentuhan dengan kulit leher Elvina yang hangat, menciptakan kontras yang menggelitik. Elvina menangis bahagia, memeluk suaminya erat di atas kawah yang megah.
Di Banyuwangi, mereka menutup bulan madu dengan malam yang luar biasa di sebuah resor pinggir pantai. Suara deburan ombak Selat Bali menjadi latar belakang saat Reza membimbing Elvina ke atas ranjang yang penuh dengan taburan kelopak mawar. Malam itu, cinta mereka terasa lebih matang, lebih dalam, dan penuh dengan harapan akan masa depan yang cerah.
Elvina sama sekali tidak menyadari, bahwa setiap janji manis yang diucapkan Reza di atas gunung dan di pinggir pantai itu, hanyalah sebuah istana pasir yang akan segera disapu oleh ombak kenyataan di Jakarta.