Candra mematung di bawah selimut. Pelukan Anya yang tiba-tiba berbalik menghadapnya justru menjadi "siksaan" yang manis. Aroma tubuh Anya yang wangi sabun mawar menyeruak, sementara deru napas teraturnya menerpa d**a Candra. Candra hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan napas yang tertahan. Bagian tubuhnya yang menegang seolah memberontak, namun setiap kali ia melihat wajah damai Anya yang kelelahan setelah mengurus Arjuna seharian, egonya luruh. Ia hanya mengusap lembut rambut Anya, menyalurkan rasa sayangnya lewat sentuhan jari yang gemetar. "Sabar, Can... Sabar," bisiknya pada diri sendiri hingga akhirnya matanya menyerah pada kantuk tepat saat jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. *** Saat azan Subuh berkumandang sayup-sayup dari kejauhan, Anya perlahan membuka matanya. I

