Kehamilan Anya dan Luka Lama Elvina

1641 Kata
Di bawah temaram lampu tidur, gairah Abimanyu benar-benar meluap. Setiap gerakannya mencerminkan rasa lapar akan kehadiran Elvina yang selama ini ia tekan demi harga diri. Malam itu terasa panjang, diisi oleh erangan kenikmatan yang saling bersahutan di antara deru napas yang memburu. "Lo cantik banget, Elvina... Milik gue. Cuma punya gue," bisik Abimanyu di sela-sela pergulatan panas mereka. Elvina memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam gelombang kenikmatan yang diberikan suaminya. Di dalam dekapan Abimanyu, ia merasa utuh. Segala duka dan hinaan yang ia terima seolah menguap, digantikan oleh rasa cinta yang intens dan membara. Mereka melalui malam itu dengan keintiman yang paling dalam, membiarkan raga mereka bicara saat kata-kata tak lagi cukup untuk menggambarkan betapa besarnya obsesi dan cinta di antara keduanya. **** Saat fajar mulai mengintip dari celah gorden, Abimanyu masih memeluk Elvina erat dalam tidurnya. Selimut tebal menutupi tubuh polos mereka yang masih bersentuhan. Abimanyu terbangun lebih dulu, menatap wajah damai istrinya yang tertidur di ceruk lengannya. Ia mengecup pucuk kepala Elvina dengan lembut. Baginya, malam tadi bukan sekadar pelampiasan nafsu, melainkan cara ia mengklaim kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya sejak awal. *** Sinar matahari pagi mulai menyerobos masuk lewat celah gorden, menyinari wajah Elvina yang masih terlihat lelah namun tampak bercahaya. Abimanyu masih memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu polos Elvina. "Gimana semalam? Masih bisa jalan?" bisik Abimanyu dengan nada rendah yang menggoda. Elvina memutar bola matanya, pipinya langsung merona merah. "Mas... apa sih. Malu tahu." Abimanyu terkekeh pelan, sebuah pemandangan langka yang hanya bisa dilihat oleh Elvina. "Lo itu kayak saham perusahaan gue, Vin. Makin lama makin naik... bikin gue nggak mau lepas." Elvina tertawa kecil mendengar perumpamaan kaku suaminya. "Gombalan kamu aneh banget, Mas. Saham kok disamain sama aku." "Ya habisnya gue nggak pinter susun kata-kata puitis," Abimanyu mengecup bahu Elvina dengan posesif, menghirup aroma tubuh istrinya yang sudah jadi candu baginya. "Pokoknya mulai hari ini, lo dilarang keluar kamar tanpa izin gue. Gue mau lo cuma bisa dilihat sama gue aja. Posesif? Emang. Biarin aja." "Mas, lepasin dulu. Aku mau mandi, gerah banget," Elvina berusaha melepaskan diri dari dekapan kuat Abimanyu. "Mandi? Sendiri?" Abimanyu menaikkan sebelah alisnya. Tanpa aba-aba, ia menyibak selimut dan langsung mengangkat tubuh Elvina dalam gendongan bridal style. "Mas Abi! Turunin, aku bisa jalan sendiri!" pekik Elvina kaget, refleks mengalungkan lengannya di leher Abimanyu. "Tadi katanya nggak kuat jalan? Biar gue yang anter sampai tujuan," ucap Abimanyu sambil melangkah mantap menuju kamar mandi yang luas dan mewah di dalam kamar itu. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Abimanyu tidak langsung menurunkan Elvina. Ia justru menyandarkan punggung istrinya ke dinding marmer yang dingin, menciptakan kontras dengan suhu tubuh mereka yang mulai memanas kembali. "Mas... bukannya tadi katanya mau mandi?" suara Elvina mulai melemah saat tangan Abimanyu mulai bergerilya kembali. "Iya, mandi bareng. Tapi kita butuh pemanasan dulu supaya nggak kedinginan di bawah shower," gumam Abimanyu tepat di depan bibir Elvina. Gairah yang sempat mereda semalam kini berkobar kembali dengan intensitas yang lebih besar. Di bawah kucuran air shower yang mulai membasahi tubuh mereka, Abimanyu kembali merengkuh Elvina dengan penuh gairah. Suara gemericik air berpadu dengan deru napas yang memburu dan erangan kenikmatan yang memenuhi ruangan lembap itu. Sentuhan kali ini terasa lebih liar, seolah-olah Abimanyu ingin menanamkan ingatan di setiap sel tubuh Elvina bahwa dia adalah satu-satunya pria yang berhak memilikinya. Hampir satu jam kemudian, mereka keluar dengan rambut yang masih basah dan wajah yang tampak segar namun menyimpan rahasia keintiman yang baru saja terjadi. Abimanyu dengan telaten mengeringkan rambut Elvina dengan handuk, matanya tak lepas dari pantulan wajah istrinya di cermin. "Sekarang lo siap buat ketemu Anya?" tanya Abimanyu, kembali ke mode seriusnya. "Jangan takut. Gue ada di belakang lo." Elvina menarik napas panjang, mengangguk mantap. "Aku siap, Mas. Selama ada kamu." *** Suara mual dan muntah yang tertahan terdengar dari balik pintu kamar mandi Anya. Ibu Amelia yang kebetulan lewat langsung mengetuk pintu dengan panik. Wajahnya yang semula tenang kini dipenuhi kecemasan. "Anya? Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?" seru Ibu Amelia sambil memutar kenop pintu. Anya keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Rambutnya berantakan, dan ia tampak lemas, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. Tanpa kata, ia berjalan perlahan menuju tempat tidur dan duduk di tepiannya. Ibu Amelia segera duduk di samping putrinya, meraba dahi Anya. "Badan kamu nggak panas, tapi muka kamu pucat banget. Kita ke dokter sekarang, ya?" Anya menggeleng pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. "Nggak usah, Mah. Anya tahu Anya kenapa." Ibu Amelia terdiam sejenak. Insting seorang ibu mulai bekerja. Ia menatap perut Anya yang masih rata, lalu menatap mata putrinya dalam-dalam. "Nya... jujur sama Mamah. Kamu... kamu hamil?" tanya Ibu Amelia dengan suara bergetar, antara takut dan berharap. Anya tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke pangkuannya. Kemudian, ia mengangguk pelan, hampir tak terlihat. "Udah jalan dua bulan, Mah," bisik Anya lirih. Ibu Amelia tersentak. Dunianya seolah berputar. Di dalam rahim putrinya, sedang tumbuh darah daging dari pria yang baru saja ia kutuk habis-habisan karena ingin membunuh suaminya. Namun, melihat kerapuhan Anya, kemarahan itu seketika luntur menjadi rasa iba yang mendalam. "Ya Tuhan, Anya..." Ibu Amelia langsung menarik Anya ke dalam pelukannya. Ia menangis sesenggukan di bahu putrinya. "Kenapa baru bilang sekarang, Sayang? Kenapa kamu simpan sendiri?" tanya Ibu Amelia di sela isak tangisnya. Anya terisak di pelukan ibunya. "Anya takut, Mah. Anya takut semua orang bakal makin benci sama Anya karena anak ini... anak Reza." Ibu Amelia merenggangkan pelukannya, memegang kedua bahu Anya dan menatapnya dengan tegas namun penuh kasih. "Dengerin Mamah. Anak ini nggak berdosa. Dia cucu Mamah, cucu Papah. Apapun yang papahnya lakuin, itu nggak ada hubungannya sama bayi ini." Ibu Amelia mengusap air mata di pipi Anya. "Kamu harus kuat, Nya. Demi anak ini. Mamah bakal selalu ada di samping kamu. Kita bakal lalui ini bareng-bareng, ya?" Anya hanya diam, menyembunyikan wajahnya di d**a ibunya. Namun, di balik tangisnya, tatapan mata Anya perlahan berubah. Rasa sedihnya mulai bercampur dengan ambisi baru. Baginya, anak ini adalah senjatanya, tiket terakhirnya untuk tetap berkuasa di keluarga Kalandra dan menyingkirkan Elvina. Sementara itu, di lantai bawah, Abimanyu dan Elvina baru saja turun dengan wajah berseri-seri setelah sesi intim mereka. Mereka tidak tahu bahwa di lantai atas, sebuah "bom waktu" baru saja aktif. "Mas, kok sepi ya? Mamah mana?" tanya Elvina pelan sambil merapikan letak duduknya di meja makan. Abimanyu menarik kursi untuk Elvina, lalu duduk di sampingnya. "Mungkin lagi sama Papah di kamar. Bentar, biar gue panggil Candra buat cek." Tepat saat itu, Ibu Amelia turun dari tangga dengan wajah sembap namun terlihat berusaha tegar. Ia menatap Abimanyu dan Elvina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Abi, Elvina... ada yang mau Mamah omongin," ucap Ibu Amelia serius. Ibu Amelia duduk dengan tangan gemetar, ia menatap Abimanyu dan Elvina bergantian. "Abi, Elvina... Anya hamil. Sudah dua bulan." Abimanyu tertegun sejenak. Tangannya yang sedang memegang sendok terhenti di udara. Ia melirik adiknya, Anya, yang duduk di ujung meja dengan wajah pucat namun dagu yang tetap terangkat angkuh. "Hamil?" gumam Abimanyu. Ia menghela napas panjang, mencoba meredam egonya. "Nya... selamat. Gue nggak nyangka. Meskipun gue benci sama perbuatan Reza, tapi bayi itu nggak berdosa. Lo harus kuat, jaga kesehatan lo demi keponakan gue." Elvina, dengan ketulusan yang murni, tersenyum kecil meski hatinya sedikit perih mengingat masa lalunya sendiri. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, mencoba menyentuh jemari Anya. "Selamat ya, Anya. Semoga kamu dan bayinya sehat terus. Aku ikut seneng, beneran," ucap Elvina lembut. Plak! Anya menepis tangan Elvina dengan kasar. Matanya menyala penuh kebencian. "Nggak usah akting jadi malaikat di depan gue, Elvina!" bentak Anya. Suaranya melengking, memecah keheningan pagi. "Gue tahu lo iri, kan? Lo iri karena anak lo sama Mas Reza dulu mati, sementara gue sekarang mengandung pewaris Kalandra?" Elvina tersentak, wajahnya mendadak pias. Luka lama tentang kegugurannya dulu seolah dikoyak kembali tanpa ampun. "Anya, aku nggak maksud gitu—" "Halah, basi!" potong Anya sinis. "Meninggalnya anak lo itu karma! Karma karena lo cuma istri simpanan yang nggak pantes punya keturunan dari laki-laki terhormat kayak Mas Reza. Rahim lo itu nggak layak. Makanya Tuhan ambil anak itu, biar nggak malu-maluin keluarga ini!" "ANYA! CUKUP!" Abimanyu menggebrak meja makan hingga gelas-gelas berdenting keras. Ia berdiri, matanya memerah menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Elvina di sampingnya sudah mulai terisak pelan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Lo bener-bener udah nggak punya hati nurani, ya?" desis Abimanyu dengan suara rendah yang mengerikan. "Istri gue kasih doa, kasih selamat, tapi mulut lo malah keluar sampah kayak gitu?" "Emang bener kan, Mas? Dia itu pembawa sial!" teriak Anya, tidak mau kalah. "Jaga mulut lo, Anya Dian Safitri!" Abimanyu menunjuk adiknya dengan telunjuk yang bergetar. "Meninggalnya anak Elvina itu takdir, bukan bahan buat lo jadiin hinaan! Lo pikir lo lebih mulia? Lo mengandung anak dari laki-laki yang sekarang mendekam di sel karena mau ngebunuh bokap lo sendiri! Kalau mau bicara soal karma, mending lo cermin, siapa yang sebenarnya kena karma di sini!" "Abi, sudah... Anya lagi hamil," sela Ibu Amelia mencoba menenangkan, namun suaranya tenggelam. "Hamil bukan alasan buat jadi iblis, Mah!" sahut Abimanyu tegas. "Gue nggak peduli dia adik gue atau bukan. Kalau dia terus-terusan nyakitin Elvina dengan kata-kata menjijikkan kayak tadi, jangan harap dia bisa dapet rasa hormat dari gue sebagai kakak!" Anya bangkit dari kursinya, menatap Abimanyu dan Elvina dengan dendam yang semakin membara. "Lihat aja nanti. Begitu anak ini lahir, semua perhatian Papah dan Mamah bakal balik ke gue. Dan lo, Elvina... lo bakal tetep jadi sampah di mata gue sampai kapan pun!" Anya berlari meninggalkan ruang makan, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Abimanyu segera berlutut di samping kursi Elvina, menarik istrinya ke dalam pelukan erat. "Maafin gue, Sayang... Maafin mulut dia," bisik Abimanyu sambil mengusap punggung Elvina yang terguncang karena tangis. Elvina hanya bisa terdiam dalam dekapan suaminya. Kata-kata Anya benar-benar menusuk tepat di jantungnya. Kehamilan Anya bukan hanya menjadi kabar gembira, tapi menjadi genderang perang baru yang jauh lebih menyakitkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN