Momen di pusat perbelanjaan itu menjadi jeda yang manis di tengah badai yang baru saja berlalu. Di sebuah gerai perlengkapan bayi yang mewah, aroma kain katun lembut dan nuansa warna pastel menyelimuti Mama Amelia yang tampak sangat antusias.
Mama Amelia mengangkat sepasang sepatu bayi mungil berwarna biru ke arah Anya. "Lihat ini, Nya! Cucuku bakal ganteng banget pakai ini. Mama nggak sabar nunggu dua bulan lagi."
Anya tersenyum manis, tangannya mengusap perutnya yang kini terasa menendang kecil. "Iya, Ma. Ternyata laki-laki. Anya senang banget, setidaknya dia bakal jadi jagoan yang jagain Anya nanti."
Namun, rasa letih mulai merayap di tubuh Anya. Ia memilih duduk di sofa tunggu gerai tersebut, membiarkan mamanya asyik memilih tumpukan pakaian bayi.
Saat itulah, pandangan Anya tertuju pada sebuah kafe terbuka yang terletak di lantai yang sama, hanya berseberangan beberapa meter dari tempatnya duduk.
Di sana, Anya melihat kakaknya, Abimanyu, sedang berbicara serius dengan dua orang klien berkemeja formal. Namun, bukan Abimanyu yang mencuri perhatian Anya. Matanya terkunci pada sosok pria yang berdiri tegap tepat dua langkah di belakang kursi kakaknya.
Candra.
Pria itu berdiri dengan tangan tertaut di depan, wajahnya datar namun sorot matanya tajam menyapu sekeliling, memastikan keamanan tuannya.
Setelan jas hitamnya yang pas di badan mempertegas bahunya yang lebar dan tubuhnya yang gagah. Anya menelan ludah, baru kali ini ia benar-benar mengamati Candra bukan sebagai "pelayan", melainkan sebagai pria yang sangat menarik.
"Kenapa aku baru sadar kalau dia sekeren itu?" batin Anya dalam hati.
"Anya? Kok bengong?" tegur Mama Amelia lembut sambil memegang bahu putrinya.
Anya tersentak, wajahnya memerah karena tertangkap basah memerhatikan arah kafe.
Mama Amelia mengikuti arah pandangan Anya dan tersenyum melihat putranya ada di sana. Tanpa membuang waktu, Mama Amelia melambaikan tangan kecil dan memberikan kode mata kepada Candra yang kebetulan sedang menoleh ke arah mereka.
Candra yang melihat keberadaan Mama Amelia langsung membungkukkan kepala hormat. Ia menunggu hingga Abimanyu menjabat tangan kliennya sebagai tanda urusan selesai, baru kemudian membisikkan sesuatu.
"Pak, ada Ibu Amelia dan Mbak Anya di meja seberang," lapor Candra rendah.
Abimanyu menoleh, lalu berjalan menghampiri mama dan adiknya diikuti Candra di belakangnya. Mereka duduk di kursi yang saling berhadapan.
"Lagi belanja?" tanya Abimanyu santai, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Iya, Abi! Lihat ini," Mama Amelia menyodorkan lembaran foto hasil USG dengan bangga.
"Anak Anya laki-laki! Dokter bilang semuanya sehat dan sempurna."
Abimanyu mengambil foto itu, menatapnya sebentar, lalu mengalihkannya pada Anya.
"Selamat, Nya. Jaga kesehatan lo, jangan banyak pikiran lagi. Sebentar lagi lo bakal jadi Ibu."
Anya mengangguk pelan, "Makasih, Mas Abi."
Di sela percakapan keluarga itu, Anya sesekali melirik ke arah Candra yang berdiri mematung di samping kursi Abimanyu. Candra tampak sangat menjaga sikap; ia menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya ke lantai, seolah tidak berani atau tidak pantas menatap sang Tuan Putri dari dekat.
Namun, bagi Anya, sikap diam Candra justru terlihat sangat karismatik. Ia menikmati setiap detail wajah Candra, rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan aura misterius yang menyelimutinya.
Anya tidak tahu bahwa di balik tundukan kepala itu, jantung Candra berdegup kencang karena bisa mencium aroma parfum Anya yang lembut dari jarak sedekat ini.
"Candra, kamu sudah makan?" tanya Mama Amelia tiba-tiba.
"Sudah, Bu. Terima kasih," jawab Candra singkat tanpa mengangkat wajahnya, membuat Anya semakin penasaran dengan apa yang ada di pikiran pria itu.
Suasana mall yang ramai menjadi saksi bisu dari awal sebuah permainan hati yang halus. Saat Abimanyu dan Mama Amelia mulai melangkah lebih dulu menuju eskalator, Anya berjalan sedikit tertinggal di belakang.
Dengan gerakan yang sangat natural, ia membiarkan sapu tangan sutra berwarna putih miliknya jatuh tepat di samping sepatu hitam mengkilap milik Candra.
Candra, yang selalu waspada terhadap setiap gerakan di sekitarnya, langsung menyadari benda kecil yang jatuh itu. Ia membungkuk dengan sigap, memungut kain lembut yang masih menyebarkan aroma parfum floral yang sangat ia kenal dari mimpi-mimpinya.
"Mbak Anya, maaf... sapu tangannya jatuh," ucap Candra pelan sambil melangkah menyusul Anya.
Anya berhenti, menoleh perlahan dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia menatap tangan Candra yang menggenggam sapu tangan itu. "Oh, iya. Itu punyaku."
Candra menyodorkan kain itu dengan sikap sangat hormat, kepalanya tetap sedikit menunduk. Namun, alih-alih mengambilnya, Anya justru melipat kedua tangannya di depan perut buncitnya.
"Simpan saja dulu, Can," ucap Anya tenang.
Candra tersentak, ia akhirnya mengangkat wajah dan menatap mata Anya dengan bingung. "Maksud Mbak? Ini... ini barang pribadi Mbak Anya."
"Tanganku lagi penuh bawa tas, dan aku harus gandeng Mama. Kamu simpan saja dulu, nanti kalau kita ketemu lagi... baru kamu kembalikan," Anya mengedipkan matanya sekali, sebuah isyarat yang tidak pernah ia berikan pada bawahan mana pun sebelumnya. "Jangan sampai hilang ya, itu pemberian spesial."
Candra tertegun. Kalimat "Nanti kalau kita ketemu lagi" terngiang di telinganya seperti melodi yang manis sekaligus berbahaya.
Sebagai asisten yang cerdas, ia tahu bahwa ada banyak cara bagi Anya untuk mengambil sapu tangan itu sekarang jika dia mau. Namun, Anya memilih untuk menitipkannya.
"Tapi, Mbak—"
"Anya! Ayo cepat, Sayang!" seru Mama Amelia dari kejauhan.
Anya tidak memberikan kesempatan bagi Candra untuk mendebat. Ia berbalik dan berjalan menyusul mamanya dengan langkah ringan, menyisakan Candra yang berdiri mematung di tengah keramaian mall.
Candra perlahan memasukkan sapu tangan itu ke dalam saku dalam jas hitamnya, tepat di atas posisi jantungnya. Ia bisa merasakan tekstur lembut kain itu menempel di balik kain kemejanya.
Abimanyu yang menyadari asistennya tertinggal, menoleh sekilas. "Ada apa, Can?"
"Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya memastikan tidak ada barang yang tertinggal," jawab Candra dengan nada profesional yang sempurna, meski di dalam dadanya, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Di dalam lift, Anya melirik pantulan dirinya di cermin besi. Ia melihat rona merah di pipinya sendiri.
Ia tahu tindakannya berisiko, apalagi mengingat betapa protektifnya Abimanyu.
Namun, ada rasa berdebar yang menyenangkan saat ia melihat ekspresi bingung di wajah kaku Candra tadi.
"Ternyata nggak susah buat bikin asisten dingin itu goyah," batin Anya sambil mengusap perutnya.
***
Makan malam di kediaman mewah keluarga Kalandra berlangsung dengan penuh kehangatan, namun di balik denting sendok dan tawa ringan, ada getaran rahasia yang mulai tumbuh di antara dua orang yang berbeda kasta itu.
Di meja makan panjang yang dipenuhi hidangan lezat, Pak Wahyu mengangkat gelasnya ke arah Candra dan Raga yang duduk dengan sikap sempurna di ujung meja.
"Candra, Raga... Saya tidak akan pernah berhenti berterima kasih pada kalian. Jika bukan karena keberanian kalian malam itu, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada putri dan cucu saya," ucap Pak Wahyu dengan suara berwibawa namun tulus.
"Sebagai tanda penghargaan, saya sudah menyiapkan bonus khusus untuk kalian berdua. Anggap saja ini investasi untuk masa depan kalian."
Candra menunduk hormat. "Terima kasih, Pak Wahyu. Itu sudah menjadi bagian dari tugas dan loyalitas kami."
Sepanjang acara makan malam, Candra merasa sangat tidak tenang. Ia bisa merasakan tatapan Anya yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Setiap kali mata mereka bertemu, Candra segera mengalihkan pandangannya ke piring, jantungnya berdegup tak beraturan.
"Maaf, Pak Abi... Saya izin ke toilet sebentar," bisik Candra pelan karena merasa udara di ruang makan mendadak sangat panas.
Tak lama setelah Candra beranjak, Anya pun meletakkan serbetnya. "Ma, Pa... Anya ke dapur sebentar ya, mau ambil vitamin yang tertinggal di sana."
Di dapur yang luas dan sepi, Candra sedang mencuci mukanya dengan air dingin untuk menenangkan diri. Saat ia berbalik, ia terkejut melihat Anya sudah berdiri di sana, menyandar pada meja bar marmer.
"Mbak Anya..." gumam Candra terkejut. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sapu tangan sutra itu. "Ini... sapu tangannya. Sudah saya simpan dengan baik."
Anya melangkah mendekat, mengambil kain itu sambil tersenyum manis. "Terima kasih ya, Can. Kamu benar-benar asisten yang bisa dipercaya."
Saat Anya hendak berbalik menuju ruang makan, langkahnya sedikit goyah. Kakinya tak sengaja tersandung kaki meja bar yang berat.
"Aah!" Anya memekik kecil.
Dengan refleks yang luar biasa, Candra melompat maju. Tangannya yang kuat dengan sigap menangkap pinggang Anya, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya agar tidak terjatuh. Posisi mereka sangat dekat; napas Candra menerpa wajah Anya.
"Mbak Anya... Anda tidak apa-apa?" tanya Candra dengan suara serak karena gugup.
Anya tidak segera melepaskan diri. Ia justru menatap mata tajam Candra, tangannya bertumpu pada d**a bidang pria itu.
"Ternyata kamu bukan cuma sigap ya, Can... tapi juga semakin tampan kalau dilihat sedekat ini."
Wajah Candra memerah sempurna. Ia merasa telapak tangannya berkeringat.
"M-maaf, Mbak... saya harus melepaskan..."
Candra hendak menarik tangannya, namun sebelum ia sempat menjauh, Anya dengan cepat berjinjit.
mendaratkan sebuah ciuman lembut namun berani di bibir Candra. Hanya sekilas, namun cukup untuk membuat dunia Candra seolah berhenti berputar.
Anya melepaskan ciumannya, menatap Candra yang mematung seperti patung lilin, lalu berbisik tepat di telinganya. "Itu ucapan terima kasih dariku... untuk semua yang sudah kamu lakukan."
Tanpa menunggu jawaban, Anya berjalan pergi meninggalkan dapur dengan senyum kemenangan, meninggalkan Candra yang masih berdiri mematung dengan jantung yang berdegup kencang, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.