SELESAI menonton film “Frozen 2”, Alka dan Alden keluar dari area. Mereka berjalan bersisian sambil bergandengan tangan. Ada beberapa pengunjung yang menatapi nereka, tetapi mereka tetap berjalan, tidak peduli dengan sekitar.
“Habis ini mau langsung pulang atau mampir dulu ke tempat lain?”
Alka berdeham panjang, menimbang pertanyaan Alden. “Aku ngikut kamu aja, Ald.”
“Padahal, aku ngikut kamu, lho, Alk.”
Alka tertawa kecil mendengar kalimat Alden tersebut. “Kalo mampir ke tempat lain, mau mampir ke mana?”
“Kamu maunya ke mana?”
“Aku---”
“Jangan ngikut aku. Aku sesat, lho, orangnya,” sela Alden, berusaha menebak lanjutan kalimat Alka.
Alka mengerucutkan bibir. Gadis itu terdiam beberapa saat, memikirkan tempat yang cocok ia kunjungi bersama Alden usai dari bioskop. “Eum, tiba-tiba aku pengin makan es krim, deh, Ald.”
“Es krim?” Alden memikirkan sejenak keinginan yang baru saja diutarakan oleh Alka. “Ah, aku tau. Pasti gegara nonton film tadi, kamu jadi kepengin makan es krim. Iya, enggak?”
Alka tersenyum lebar. “Pinter! Aku keinget sama Olaf. Dia, kan, dari es.”
Alden tersenyum mendengar pernyataan Alka. “Jangan-jangan kamu juga keinget sama boneka Olaf yang waktu itu aku hadiahin ke kamu.”
Alka ikut tersenyum. Ia kagum pada Alden yang pandai menebak pikiran orang. “Iya. Aku juga jadi keinget boneka Olaf.”
“Berarti ... keinget sama aku juga, dong?”
Alka tersenyum misterius. “Iya, enggak, ya?”
“Inget, lah. Masa pacar sendiri enggak diinget.”
Alka tertawa kecil. Ia mengangguk kemudian. “ Iya. Aku juga keinget sama kamu. Sama ....” Alka tiba-tiba terdiam. Ia teringat dengan seseorang yang lain.
“Kamu sendiri, siapa tokoh favoritnya dari film ‘Frozen’? Siapa, Ma?”
“Olaf.”
“Kenapa Olaf?”
Percakapan beberapa hari lalu kembali terbayang di pikiran Alka. Percakapan dirinya bersama Delma usai menonton film “Frozen 2” di taman kota.
Alka termangu. Ia jadi teringat dengan sahabatnya. Sahabatnya itu mengaku menyukai tokoh Olaf. Akan tetapi, sampai saat ini, Delma tidak menjelaskan alasan mengapa ia menyukai tokoh tersebut.
Alden menatap Alka dengan raut herna. “Alk?” tegurnya. Namun, Alka hanya diam dengan tatapan kosong. Hal itu membuat Alden semakin bertanya-tanya. Alden tak sengaja menatap depan. Kedua matanya terbuka lebar saat melihat ada beberapa anak kecil yang berlari berlawanan arah dengan dan juga Alka. Laki-laki itu dengan tanggap menarik tangan Alka, mengajaknya menepi ke kiri.
Alka tersentak dari lamunan. Jantungnya serasa mencelus saat merasakan tubuhnya tertarik tiba-tiba ke kiri. Gadis itu baru tersadar jika ada beberapa anak kecil yang berlari berlawanan arah dengannya. Ia lantas menoleh ke kiri, menatap Alden dari samping.
Alden balas menatap Alka. “Kamu enggak apa-apa, ‘kan?”
Alka berkedip beberapa kali. Ia menoleh ke belakang, menatap anak-anak kecil yang tadi. Kemudian, ia kembali menatap Alden. “Iya, aku enggak apa-apa, kok.”
“Kamu ngelamun, ya, tadi?”
Alka terdiam beberapa saat. Gadis itu tak menjawab.
“Untung tadi aku langsung narik kamu ke samping. Kalo enggak, pasti kamu bakal tabrakan sama anak-anak kecil tadi.” Alden menatap Alka dengan tatapan cemas. “Emang, kamu lagi mikirin apa, sih, Alk?”
Alka kembali menatap Alden. Gadis itu tersenyum tipis dan segera menggeleng. "Bukan apa-apa, kok. Yuk, lanjut jalan lagi. Jadi, ‘kan, beli es krimnya?”
Alden diam beberapa saat. Jujur, ia masih penasaran pada Alka. Ia penasaran dengan apa yang membuat gadis itu tidak fokus saat berjalan tadi. Akan tetapi, Alden sepertinya harus memendam rasa penasarannya lebih dulu.
Alka dan Alden kembali melanjutkan perjalanan menuju kedai es krim yang kebetulan berada tidak jauh dari bioskop. Mereka naik sepeda motor dan segera melakukan perjalan. Tak sampai 10 menit, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan.
“Kamu mau pesen apa, Alk?” tanya Alden begitu berdiri di depan meja kasir.
Alka mendongak, membaca menu es krim yang beragam. Mulai dari rasa, bentuk, dan penyajiannya. Setelah beberapa menit berpikir, gadis itu telah menemukan pilihannya. “Saya pesen es krim bucket yang rasa cokelat pake choco chips, ya, Mbak.”
“Baik. Kalo Mas-nya?”
“Saya juga sama, Mbak. Tapi, ditambahin pasta cokelat juga, ya.”
“Baik. Itu aja?”
"Ah, Mbak. Saya juga ditambahin pasta cokelat, ya,” ujar Alka tiba-tiba.
Alden langsung melirik Alka. Ia tersenyum geli kemudian. “Tiru-tiru aja kamu.”
“Ih, kamu juga tadi. Tiru-tiru pesen es krim bucket cokelat juga.”
Alden hanya tersenyum geli. Ia kembali menatap pegawai kedai. “Itu aja, Mbak.”
“Baik, silakan ditunggu.”
Alka dan Alden serempak mengangguk. Baru saja mereka akan berjalan menuju salah satu meja, Alden tiba-tiba menghentikan langkah. Laki-laki itu terlihat mengambil ponsel dari saku jakat. Ada pesan singkat yang masuk.
“Ada apa, Ald?” tanya Alka penasaran. Sayangnya, pertanyaan itu tidak dibalas oleh Alden. Pacarnya itu malah terlihat fokus memandang ponsel. Alka yang melihat hal tersebut agak kecewa. Akan tetapi ia mencoba menahan diri.
Alden memasukkan kembali ponsel ke saku jaket. Ia membalikkan badan dan memanggil pegawai kedai yang tadi. “Mbak, saya pesen satu es krim lagi, ya. Tapi, rasa matcha. Dibungkus, Mbak.
"Oh, ya. Ditunggu, ya, Mas.”
Alden mengangguk.
Alka mengernyit bingung. Ia menatap Alden dengan tatapan curiga. “Kamu pesen lagi? Buat siapa?”
Alden menatap Alka dengan kedua alis terangkat. “Ah, itu. Itu ... temen kos aku. Tadi, dia nanya aku lagi di mana. Niatnya mau nitip beliin makanan, tapi karena aku bilang lagi di kedai es krim, jadinya dia nitip.”
Alka terdiam beberapa saat. Ia merasa agak ragu. “Beneran temen kos? Cowok?”
Alden tertawa kecil. Ia tanpa permisi mengacak pelan rambut Alka. “Iya, lah, cowok. Enggak usah cuirga berlebih, Alk.”
Alka mengembuskan napas. Ia tidak menanggapi apa-apa dan berjalan mendekat ke meja kasir. Hal itu membuat Alden mengernyit bingung. “Alk, kenapa ke situ? Kita nunggu sambil duduk aja, jangan di sini.”
Alka tidak menggubris perkataan Alden. Gadis itu sibuk memanggil pegawai kedai.
“Iya, Mbak. Ini pesanannya udah jadi. Semuanya jadi---”
“Saya pesen satu lagi, Mbak,” sela Alka.
Alden yang mendengar hal tersebut langsung mengernyit bingung.
“Rasa apa?”
“Sama kayak saya, tapi dibungkus, ya.”
“Baik, silakan ditunnggu.”
Alka tersenyum tipis. Ia membalikkan badan dan bertemu tatap dengan Alden.
“Kamu pesen lagi buat siapa?”
“Temen kos juga,” jawab Alka santai.
“Cewek?”
“Cowok, kok.”
“Delma?”
Alka tersenyum lebar dan mengangguk yain. “Yuk, nunggu di meja itu aja.” Gadis itu berjalan lebih dulu.
Alden menatap Alka dengan ekspresi agak tak suka. Penyebabnya tentu karena gadis itu membahas tentang Delma di depannya.
BERSAMBUNG
ke
PART 19
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡