MENIKMATI es krim di siang hari memang satu hal yang cocok dilakukan. Apalagi, matahari di luar sana sedang bersinar dengan teriknya. Hal itu juga yang tengah dilakukan oleh Alka dan Alden. Sudah 15 menit lebih mereka berada si sebuah kedai es krim. Tentu, untuk menikmati sajian es krim yang sudah mereka pesan.
“Alk, makannya jangan cemong gitu, dong. Kayak anak kecil aja,” sindir Alden.
Alka spontan memegang sudut bibir kanan. Namun, ia tidak menemukan ada noda es krim di sana. Ia langsung menatap Alden dengan sinis. ”Apaan? Enggak ada, kok. Enggak baik tau, Ald, ngibulin pacar sendiri.” Alka mengerucutkan bibir dengan raut muka kusut.
Alden geleng-geleng. Tangannya bergerak mengambil selembar tisu yang ada di tengah meja. “Dibilangin malah ngeyel kamu. Ini, ada es krimnya,” jelas Alden sambil membersihkan noda es krim yang ada di sudut bibir sebelah kanan Alka.
Alka tercenung mendapat perlakuan tersebut. Ia menurunkan pandang, menatap tangan Alden yang sedang membersihkan noda es krim di sudut bibirnya. Gadis itu lantas menatap Alden. Kontak mata pun tak terhindarkan. Mereka berdua terdiam selama beberapa saat dengan tatapan saling mengunci. Waktu mendadak seolah berjalan dengan lambat. Begitupun dengan pergerakan orang-orang di sekitar mereka.
Alden berdeham dan memutus kontak mata lebih dulu. Laki-laki itu menjauhkan tangannya dari wajah Alka. “Udah bersih sekarang.”
Alka berkedip beberapa kali. Ia kemudian mengangguk kaku. Hah, tiba-tiba saja ia merasa gugup setelah apa yang terjadi.
“Oh, ya. Habis ini mau langsung pulang?” Alden bertanya, mencoba untuk mencairkan suasana kembali.
Alka mengangguk sambil menghabiskan sisa es krim dalam wadah. “Iya, langsung pulang aja. Takutnya es krimnya Delma meleleh. Kan, bukan es krim lagi namanya nanti.”
Mendengar nama sahabat Alka disebut, raut muka Alden sedikit berubah. Pastilah raut muka tidak suka. Laki-laki itu memang agak sensitif jika Alka membahas Delma di depannya.
Laki-laki itu berdeham dan segera menghabiskan sisa es krimnya. Setelah itu, tidak ada obrolan lagi. Alka dan Alden terdiam, sibuk menghabiskan es krim masing-masing.
“Aku udah habis,” kata Alka. Ia menggeser wadah es krim ke bagian tengah. Gadis itu mengambil tisu dan membersihkan noda es krim di sekitar mulut.
“Aku juga udah selesai. Pulang sekarang?”
Alka mengangguk. Ia dan Alden bersiap untuk berdiri, tetapi gerakan mereka terhenti saat seorang laki-laki berjaket hitam tiba-tiba datang ke meja mereka.
“Alden?” sapa laki-laki berjaket hitam itu.
Alden menuding laki-laki yang baru saja menyapanya. Ia tersenyum lebar dan langsung mengajak laki-laki berjaket hitam untuk bersalaman. “Faza? Ngapain ke sini?”
“Ya, makan es krim, lah. Ya kali makan pasta.” Laki-laki bernama Faza tertawa ringan kemudian.
“Haha, bisa aja.”
Alka memperhatikan Alden dan Faza. Ia tiba-tiba merasa canggung. Canggungnya sama seperti saat ia bertemu teman Alden tadi, yaitu Dava.
“Eh, mukamu kenapa itu? Kok, lebam-lebam?”
Alden refleks memegang wajah. Ia tersenyum tipis kemudian. “Ada kecelakaan kecil, lah. Tapi, enggak apa, kok.”
“Ada-ada aja kamu. Eh, omong-omong ....” Faza melirik Alka, lantas kembali menatap Alden. “Itu ... siapa?” tanyanya dengan suara pelan.
Alden mengikuti arah pandang Faza. Ia tersenyum menatap Alka. “Dia pacar aku. Alka namanya.”
Faza melebarkan mata mendengar pernyataan Alden. “Ha? Pacar?” Ia geleng-geleng tak percaya. “Wah, parah kamu! Diem-diem ternyata udah punya pacar? Ck! Keduluan, dong, aku.”
Alden tertawa ringan mendengar perkataan temannya.
Alka yang tak sengaja mendengar pembicaraan Alden dengan Faza semakin tak tenang. Ia benar-benar gugup. Gugup campur senang lebih tepatnya. Ada rasa senang tersendiri saat Alden mengenalkannya sebagai pacar pada teman-teman laki-laki itu. Namun, bersamaan dengan hal itu, rasa gugup juga tak ingin ketinggalan menyerangnya.
“Alka,” panggil Alden.
Alka menoleh ke sumber suara dengan kedua alis terangkat. “Ya?”
“Sini.”
Alka mengikuti perintah Alden untuk mendekat. Tebakannya, pacarnya itu akan mengenalkannya pada Faza. Ia mengangguk takzim pada Alka. Faza membalas dengan hal serupa.
“Ini Faza, temen aku.”
“Temen kuliah,” sambung Faza sambil mengulurkan tangan. “Faza.”
Alka menatap Alden sekilas. Pacarnya itu memberikan kode untuk menyambut salam perkenalan Faza. Alka perlahan menatap Faza. Dengan perasaan gugup, gadis itu segera menyambut uluran tangan Faza, menjabatnya. “Alka,” katanya, memperkenalkan diri.
Faza tersenyum. “Nama kamu bagus. Selain itu, kamu juga cantik.”
Pernyataan Faza itu sukses membuat Alka dan Alden terkejut. Keduanya membulatkan mata.
Faza tertawa kecil melihat ekspresi Alka dan Alden. Ia melepas jabat tangannya dengan Alka. “Eits, jangan salah paham. Maksud aku, kamu emang bener cantik, Al. Makanya, Alden suka sama kamu dan jadiin kamu pacarnya. Gitu.”
Alden yang sudah terkejut jadi urung untuk meluapkan amarah pada Faza setelah mendengar penjelasan laki-laki itu. “Ck! Aku kira apaan. Awas aja kalo kamu macem-macem sama Alka.”
Faza tertawa menanggapi perkataan Alden. “Cemburuan banget kamu.”
Alden tidak membalas.
“Eh, Al.”
Alka dan Aldeb serempak menatap Faza.
“Euh, maksud aku Alden,” ralat Faza. Ia mendekati Alden dan membisikkan sesuatu padanya.
Alka menatap Alden dan Faza penasaran. Tentu, penasaran dengan apa yang sedang dibisikkan Faza. Lagi-lagi, rasa canggung menyergap gadis itu.
“Bentar,” kata Alden. Laki-laki itu menatap Alka. “Alk, kamu tunggu bentar di sini, ya. Aku sama Faza mau ngobrol bentar. Enggak apa, ‘kan?”
Alka berdeham panjang sejenak. Tak lama kemudian, gadis itu mengangguk, mengizinkan. “Jangan lama-lama, ya.”
Alden tersenyum dan mengangguk. “Iya. Kamu duduk dulu aja.”
Alka mengangguk dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Alden. Ia menatap kepergian pacarnya dengan Faza. Kedua laki-laki itu tampak berjalan keluar dari kedai. Jujur, Alka merasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh dua laki-laki itu. Mengapa sampai harus mencari tempat yang jauh darinya? Sepenting dan serahasia apa topik obrolan mereka?
Kedua tangan Alka terlipat di depan d**a. Ia masih mengawasi Alden dan Faza yang mengobrol di luar kedai. Kebetulan, pintu dan dinding kedai terbuat dari kaca tembus pandan. Alka merasa heran saat beberapa kali Faza dan Alden melirik ke arahnya. Dahi Alka berkerut. Kenapa mereka ngeliatin aku?
Alka langsung menggeleng beberapa kali, mencoba untuk tetap berpikir positif. Ia memilih menunggu Alden kembali sambil bermain ponsel.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Alden dan Faza kembali ke dalam kedai. Mereka berjalan menuju meja yang ditempati Alka.
“Kalo gitu, aku mau pesen es krim dulu.”
Alka mengangkat wajah dan menatap siapa yang baru saja berkata. Ternyata, Faza.
“Duluan, ya, Alka.”
Alka mengangguk takzim sambil tersenyum pada Faza. Ia menatap Faza yang mulai berjalan menjauh darinya dan juga Alden.
“Ayo, Alk. Kita pulang sekarang.”
Alka segera menatap Alden. “Ayo,” balasnya. Namun, ia termangu saat tak sengaja melihat tangan Alden yang seperti sedang memegang sesuatu. “Itu ... apa, Ald?”
Kedua alis Alden terangkat. Ia mengikuti arah pandang Alka. Laki-laki itu memasukkan tangan ke saku jaket. Hal itu membuat Alka terheran.
“Bukan apa-apa, kok. Tadi ... Faza ngasih permen doang.”
Alka terdiam beberapa saat dengan batin bertanya-tanya. Ia merasa ragu dengan jawaban yang diberikan oleh Alden. Rasanya seperti ada yang janggal.
“Udah, sekarang kita pulang, yuk.” Alden tanpa permisi meraih sebelah tangan Alka, lalu menggandengnya. Laki-laki itu menuntun sang pacar keluar dari kedai es krim.
Sesampainya di halaman parkir, Alden mengambil satu helm, lalu mengenakannya pada Alka. Alka yang mendapat perlakuan itu hanya diam sambil menatap Alden.
Alden terdiam begitu pengait helm terkunci. Ia merasa heran karena Alka terus menatapnya dengan ekspresi datar. “Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu, Alk?”
Alka terdiam beberapa saat. Ia memutus kontak matanya dengan Alden. “Ada yang mau aku omongin sama kamu, Ald.”
“Tentang apa?”
Alka menatap Alden dengan lekat. “Tentang kita.”
BERSAMBUNG
ke
PART 20
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡