“CHA ...?” Alden berdiri di sisi kanan brankar. Ia melihat adiknya yang sudah membuka kedua mata. Benar apa yang yang dikatakan oleh Pak RT tadi bahwa Trisha sudah siuman. Alden memegang lengan kanan Trisha, memandang adiknya dengan tatapan haru. Pak RT dan dokter berdiri tak jauh dari brankar. Mereka mengawasi Alden dan juga Trisha. “Cha, ini ... Kakak ...,” ucap Alden dengan suara bergetar. Ia masih berusaha mempercayai kalau adiknya sudah siuman. Rasa syukur tentu tak henti laki-laki itu panjatkan ke hadirat Tuhan karena adiknya masih hidup. Itu artinya, ia masih ada yang menemani. Entah bagaimana jadinya jika adiknya juga pergi seperti mama dan papanya. “K-Kak .... K-Kak ... Alden ...?” ucap Trisha dengan terbata-bata. Suaranya pun terdengar begitu lemah. Alden menggigit bibir bawa

