Part 3 - Pasar Malam

1166 Kata
UDARA yang dingin berembus, menerpa tubuh dua insan yang sedang diliputi rasa senang. Senang karena bisa pergi sama dengan orang terkasih, tersayang, dan tercinta. Seolah, dunia hanya milik mereka berdua, milik dua insan bernama Alka dan Alden. Remaja yang telah menjalin hubungan percintaan hampir satu tahun lamanya. Alka mengeratkan pelukannya pada Alden. Alden yang merasakan hal tersebut tersenyum. Sejenak, ia menurunkan tatapan, menatap tangan Alka yang melingkar di sekitar perutnya, salah satu hal yang Alden suka. Alden melepas sebelah tangan dari stang sepeda motor untuk menyentuh tangan Alka tersebut, mengelusnya lembut dengan ibu jari. Alka yang merasakan sentuhan tersebut, tersenyum. Ia mencondongkan wajah, menaruh dagu di atas bahu tegap Alden. “Kita mau ke mana, sih, sebenernya? Kayaknya, dari tadi gak sampe-sampe.” Alden tersenyum geli. “Nanti kamu juga tau sendiri. Kenapa? Bosen?” “Enggak, dong. Kan sama kamu. Gak akan bosen aku.” Lagi, Alden tersenyum mendengar jawaban polos Alka. Beberapa menit berkendara, Alden menurunkan kecepatan sepeda motor. Ia menepikan kendaraannya itu di sebuah tanah lapang yang juga diisi oleh kendaraan serupa. Cukup padat hingga Alden sedikit kesulitan mencari tempat lowong untuk memarkirkan motor. Mau tak mau, Alka harus turun lebih dulu. Gadis itu menunggu Alden. Sembari menunggu, matanya mengedar ke sekeliling. Ia baru menyadari kalau Alden mengajaknya ke pasar malam. Alka sama sekali tidak tahu jika ada pasar malam hari ini. Delma juga tidak memberitahunya. Padahal, laki-laki itu yang paling rajin memberitahu Alka tentang acara-acara yang ada di kota tempat mereka kuliah ini. “Ayo, Al.” Alka menoleh ke sumber suara. Ia mengangguk menanggapi ajakan Alden. Mereka berdua berjalan beriringan, memasuki area pasar malam dengan tangan bertaut. “Kamu ngajak aku ke pasar malem ternyata,” ujar Alka, membuka obrolan. Alden melirik ke sebelah kiri, di mana Alka berada. Senyum terkembang di bibir laki-laki itu. “Iya. Tadi ada temen kerja aku yang ngasih tau kalo ada pasar malem. Aku jadi keinget kamu. Makanya, tadi waktu telepon, aku bilang mau ngajak kamu pergi malem ini.” Alka manggut-manggut, paham. Pasangan muda itu mencoba beberapa permainan yang ditawarkan di pasar malam tersebut. Pertama-tama, mereka mencoba permainan lempar bola ke kaleng yang disusun seperti piramida. Alka dan Alden bersaing, siapa yang akan memenangkan permainan tersebut. Mereka sepakat, yang kalah akan mendapat hukuman dari pemenang. Penjaga lapak pun menjadi saksi pertandingan mereka berdua. Alka yang mencoba pertama. Ia mendapat tiga kesempatan bermain. Jika ketiga susunan kaleng berhasil ia robohkan dengan bola di tangannya sekarang, ia akan mendapat hadiah, bebas pilih. Itu artinya, ia akan menang telak dari Alden. Mata Alka memicing, menajamkan penglihatan. Ia mengambil ancang-ancang untuk melempar bola. Dengan sekuat tenaga, ia pun melemparkan bola ke arah susunan kaleng pertama. TRENG TENG TENG TENG! Berhasil! Susunan kaleng tersebut terjatuh. Suaranya yang gaduh menarik perhatian beberapa pengunjung yang kebetulan sedang lewat. “Yes!” sorak Alka senang. Alka menoleh dan menatap Alden dengan senyum miring, seolah sedang menyombongkan diri. Gadis itu kembali fokus dengan susunan kaleng kedua. Matanya memicing. Siku tangan kanannya tertekuk, mengambil ancang-ancang. TREEET! Lemparan kedua meleset karena Alka dikejutkan oleh suara terompet yang terdengar begitu keras. Tak ada kaleng yang jatuh sama sekali. Gadis itu berdecak kesal dan menoleh ke sumber suara. Matanya terjatuh pada bocah laki-laki yang sedang asyik meniup terompet mainan berbentuk kerucut di belakangnya. Alka mencoba bersabar. Sabar. Namanya juga anak kecil, batinnya. Alden tertawa atas apa yang terjadi pada pacarnya itu. Langsung saja Alka menghadiahi pacarnya itu tatapan tajam dan raut muka masam. “Gak lucu tau!” sungutnya. Namun, Alden tetap tertawa. Alka mencebikkan bibir kesal. Ia mengambil bola lagi. Kesempatan terakhir. Ia harus fokus dan membidik dengan benar. Jangan sampai kejadian sebelumnya terulang lagi. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa saat, dan mengembuskannya perlahan. “Kamu bisa, Alka!” gumamnya, menyemangati diri sendiri. Bola meluncur di udara dan .... TRENG! Alka mendesah berat. Ia kecewa karena hanya satu kaleng saja yang berhasil jatuh. Sisanya masih bertahan di tempat. Suara tepuk tangan mencuri perhatian Alka. Ia menoleh ke sumber suara, menemukan Alden yang tengah berjalan mendekatinya. Wajah Alka berubah masam. Pacarnya itu seolah sedang meremehkan. “Siap-siap dapet hukuman, ya,” kata Alden sambil mengacak rambut Alka, santai. Alka menatap Alden sinis. “Paling juga gak ada yang kena.” Alden hanya tersenyum miring. Ia mulai mengambil bola dan bersiap melempar. Sebelumnya, ia menyempatkan diri melirik Alka. “Let's see,” katanya. Alka hanya memutar bola mata. Ia berharap besar kalau Alden gagal dan tidak menang atas permainan ini. Namun, harapannya itu pupus ketika mendengar suara riuh kaleng terjatuh. Alden berhasil merubuhkan susunan kaleng pertama. Laki-laki itu melirik Alka lagi, seolah memamerkan kebolehannya. "Baru juga sekali,” cibir Alka. Ia mulai harap-harap cemas. Semoga gak kena. Gak kena, please, rapalnya dalam hati. Lagi, harapannya pupus karena susunan kaleng kedua rubuh total. Hal yang sama juga terjadi pada susunan kaleng ketiga. Alka mendesah berat, kecewa. Ia kalah pada permainan ini, sedangkan Alden memenangkannya. “Gimana? Omonganku bener, 'kan, kalo kamu bakal dapet hukuman?” Alka hanya diam, tak menanggapi apa-apa. Alden yang melihat ekspresi masam Alka tertawa geli. Tangannya terangkat, kembali mengacak rambut Alka. “Sana milih, mau hadiah apa.” Kedua mata Alka langsung berbinar mendengar perkataan Alden baru saja. Senyum lebarnya terkembang di bibir. “Hukumanku dapet hadiah, nih?” “Enak aja. Kamu tetep dapet hukuman, lah, dari aku nanti.” Senyum Alka langsung memudar. “Emang apa, sih, hukumannya?” “Pilih dulu hadiahnya.” Alka menurut. Matanya memindai, memilih hadiah apa yang akan ia ambil. Cukup lama berpikir, ia pun menjatuhkan pilihan pada boneka karakter Olaf di film Frozen. Mendadak, ia jadi teringat Delma dan rencana menonton film yang seharusnya dilakukan tadi sore. Gadis itu menggeleng pelan, menepis ingatan itu. Ia pun segera mengutarakan pilihannya pada Alden. Alden mengangguk dan menyampaikannya pada penjaga lapak. “Ini bonekanya,” kata penjaga lapak sambil menyodorkan boneka Olaf yang berekspresi tersenyum lebar. Senyum itu menular pada Alka. Ia menerima boneka Olaf tersebut dengan raut senang. “Makasih.” Alka menatap Alden dan memamerkan boneka Olaf yang kini ada di tangan. “Lucu, gak?” “Enggak.” Alka mengerucutkan bibir, sebal. “Kok, enggak?” Alden tersenyum penuh arti. “Soalnya, lebih lucu kamu daripada tuh boneka.” Alden menunjuk boneka Olaf di pelukan Alka. “Halah, gombal,” cibir Alka. Padahal, dalam hati, gadis itu merasa senang. “Oh, ya. Hukumannya apa?” Alden memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket. “Nanti aja, deh, waktu pulang dari sini.” “Kenapa harus nanti?” Alden tersenyum misterius. “Biar ditabung dulu siapa yang bakal dapet hukuman paling banyak.” Alka berdecih. “Oh, nantangin nih ceritanya? Okay, kita coba permainan yang lain. Aku pastiin, kamu bakal dapet hukuman yang paling banyak." “Okay. Kita buktiin bareng-bareng. Aku ... atau kamu yang bakal dapet hukuman paling banyak. Tapi, kalo kamu yang kalah banyak, jangan nangis, ya." ”Ih, aku gak akan nangis kali,” bantah Alka. Alden terkekeh geli melihat reaksi Alka. BERSAMBUNG ke PART 4 See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN