Part 2 - Rencana yang Gagal

1174 Kata
“YEAY, sampe!” seru Alka begitu sampai di indekos tempat ia dan Delma tinggal. Delma tersenyum tipis mendengar seruan Alka tersebut. “Turun kali. Betah banget duduk di situ,” tegurnya karena Alka masih duduk di jok belakang. Alka terkekeh pelan, terlupa beranjak dari sepeda. Ia pun menapakkan kaki ke tanah dan menunggu Delma memasang standar sepeda. “Lah, kenapa masih di sini?” Kedua alis milik Alka terangkat tinggi mendengar pertanyaan Delma. “Masuk sana ke kamar.” Delma menunjuk bangunan di sebelah kirinya dengan dagu. Bangunan itu adalah kubu indekos putri. Sedangkan di sisi kanan adalah kubu indekos putra, di mana kamarnya berada. Alka menoleh, menatap bangunan indekos putri dan mengembuskan napas pelan. “Aku ke kamar juga mau apa coba? Sendirian. Bengong doang gitu?” “Ya ... cari kegiatan, lah. Makan kek, minum kek, belajar kek, nonton film kek, mandi kek.” “Kak kek kak kek mulu. Mau jadi tokek kamu?” cibir Alka. Delma hanya terkekeh geli. “Ma, temenin aku, dong,” rengek Alka pada sahabatnya. Delma bergeming beberapa saat. Temenin? batinnya. “Te—temenin apaan? M—mandi?” Kedua mata Alka membulat sempurna. Sontak saja, ia memukul lengan Delma cukup keras, membuat laki-laki itu mengaduh sambil mengusap-usap lengan yang baru saja dihadiahi pukulan. “Kurang ajar kamu! Bukan temenin mandi. Ya ... intinya temenin aku, lah, sampe Alden dateng ke sini. Ya?” Gerakan Delma mengusap lengan terhenti ketika mendengar nama pacar sahabatnya disebut. “Emang ... Alden mau ke sini?” Alka tersenyum dan mengangguk dengan semangat. “Iya. Kan tadi aku udah bilang kalo malem ini, dia mau ajak aku jalan. Hah, jadi gak sabar, deh." “Oh,” balas Delma sekenanya. Alka tiba-tiba menggamit lengan Delma. Delma menatapnya bingung. “Temenin, ya? Biar aku gak bosen nungguin Alden sendirian. Ya? Ya? Ya?” Alka memasang wajah memelas dengan mata berkedip-kedip manja. Childish banget nih anak, ucap Delma dalam hati. Walau beranggapan seperti itu, Alka tetaplah sahabatnya, orang yang sudah mengenal baik dirinya. Begitupun sebaliknya. “Ya, mau ditemenin apa?” “Yes!” Alka terlonjak kegirangan mendengar tanggapan Delma. Itu artinya, Delma bersedia menemani dirinya sembari menunggu kedatangan Alden. “Al, suaranya kecilin, dong. Entar dimarahin sama anak kos yang lain,” tegur Delma. Alka spontan membekap mulut. Ia tersenyum di balik tangan. Matanya terlihat agak sipit saat tersenyum. “Jadi, mau ditemenin apa, nih?” “Makan mi mau gak?” “Ya ampun, Alka. Barusan kita ke kafe apaan kalo bukan makan?” Alka mengerucutkan bibir. “Masih laper, Ma. Lagian, tadi kan cuma cemilan.” “Lagian, kamu kan nanti pergi sama Alden, pasti makan-makan juga, ‘kan?” “Eum ... iya juga, sih. Terus ngapain, ya, enaknya?” Delma menepuk dahi pelan. “Malah balik nanya.” “Hih, aku juga bingung kali harus ngapain biar ada kerjaan.” “Nonton film, mau?” tawar Delma. Alka bergumam panjang. Jarinya mengetuk-ketuk dagu, berpikir. Matanya lantas mengerling ke arah sahabatnya. “Film apa?” “Frozen?” Alka tercengang mendengarnya. “Frozen? Kamu ... nonton gituan?" “Emang kenapa? Ada yang salah?” “Ya ... enggak, sih. Tapi ...,” Alka berusaha menahan tawa, “lucu aja, sih. Kamu kan udah gede, udah kuliah, tontonannya masih kartun Disney?” “Heh, inget. Kamu waktu SMA aja tontonannya masih Dora and The Explorer. Apa lagi coba? Upin dan Ipin, Doraemon, Ninja Hatori, Shinchan, Spongebob Squarepants.” Delma mengabsen jenis film animasi tontonan Alka. “Kadang kamu juga masih nonton Barbie, Tinker Bell, terus—mph!” Mulut Delma langsung dibekap cepat oleh Alka, memaksa laki-laki itu untuk diam. “Ya ... itu kan dulu, waktu masih SMA. Sekarang udah enggak kali,” kilah Alka. Delma menyingkirkan tangan Alka dari mulut. “Halah, kemarin aja kamu ngerengek-rengek ke aku minta cariin film Spongebob Squarepants The Movie.” Alka mengerucutkan bibir, kesal. Baiklah, ia menyerah. Ia pasti kalah debat dengan Delma. Laki-laki itu selalu memiliki ribuan alasan dan bukti logis. “Ya udah, deh. Nonton Frozen juga gak apa-apa. Yang ke berapa, by the way?” “Dua.” “Nah, pas! Aku juga belum pernah nonton yang itu.” Delma hanya geleng-geleng kepala akan tingkah sahabatnya itu. “Mau nonton di mana?” “Eum ....” Alka mengedarkan pandang, mencari lokasi yang cocok untuknya menonton film bersama Delma. “Di teras kos aku aja.” Delma mengangguk. “Ya udah, tunggu. Aku ambil laptop dulu.” “Okay. Sekalian aku mau siapin minum sama cemilan.” “Emang ada?” sindir Delma. Alka memicing sinis pada Delma. “Ada kali. Gini-gini walaupun aku anak kos, aku selalu sedia minuman sama cemilan.” Alka langsung melenggang ke dalam indekos. Delma hanya tersenyum geli melihat respons Alka baru saja. Ia pun segera masuk ke dalam indekos untuk menaruh tas dan mengambil laptop. Begitu mendapat apa yang ia butuhkan, ia keluar dan berjalan menuju kubu indekos putri. Langkahnya terhenti saat mendengar suara deru mesin motor. Niatnya mengetuk pintu kamar Alka urung. Ia menoleh dan menemukan seseorang mengendarai sepeda motor matic, berhenti di depan kubu indekos putri. Tak sulit bagi Delma untuk mengenali siapa sosok tersebut. Delma terus memandangi orang tersebut dengan raut muka serius. Pintu di sebelah kanan Delma bergerak terbuka, menampakkan sosok Alka dari baliknya. Gadis itu agak terkejut melihat kemunculan Delma. “Eh, udah di sini? Yuk, duduk,” ajak Alka. Namun, Alka terheran karena Delma hanya diam dengan tatapan lurus. Alka lantas mengikuti arah pandang Delma. Matanya membeliak melihat seseorang yang sedang melepas helm. “Alden?” Orang itu, Alden, menoleh dan tersenyum ke arah Alka. Namun, senyumnya lenyap seketika begitu melihat Delma yang ada di dekat pacarnya. Alden berjalan menghampiri Alka. Ia kembali mengulas senyum. “Kok, kamu udah dateng? Katanya malem jalannya.” “Ah, kebetulan kerjaan di kafe udah selesai. Jadi, aku langsung aja ke sini. Lebih cepet, lebih baik, ‘kan?” Alka tersenyum malu mendengarnya. “Mau jalan sekarang?” Alka baru teringat kalau ia punya rencana untuk menonton film Frozen 2 bersama Delma. Ia lantas menatap sahabatnya. Jujur, ia jadi merasa tak enak hati. “Ma ...,” panggilnya lirih. Delma menatap ke arah Alka dan tersenyum tipis. “Gak apa-apa. Nonton filmnya bisa lain kali, kok.” “Maaf, ya.” Delma hanya tersenyum sambil mengangguk. “Ah, ini,” Alka memberikan satu buah mug berisi cokelat panas kepada Delma, “buat kamu.” Alka tersenyum pada sahabatnya itu, lantas beralih menatap Alden. “Aku siap-siap dulu, ya.” Alden hanya menanggapinya dengan anggukan singkat. Alka masuk ke dalam kamar, menutup pintu, meninggalkan Alden dan Delma yang kini beradu tatap. Tatapan yang memiliki sirat berbeda. Tentu, bukan aura persahabatan jika ditelaah lebih lanjut. Delma menghela napas dan mengangkat kaki, hendak kembali ke kamar. Baru beberapa langkah tercapai, ia berhenti saat Alden memanggilnya. Ia menengok dari balik bahu. “Aku harap, kamu sama Alka emang bener-bener cuma sahabatan.” Alden menatap Delma datar. “Enggak lebih,” lanjutnya kemudian. BERSAMBUNG ke PART 3 See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN