Part 11 - Ketika Mama Curiga

1376 Kata
SAMPAILAH Alka dan Delma di kawasan tempat tinggal mereka. Mereka sempat menyapa tetangga yang berpapasan, sekadar tersenyum dan mengangguk takzim. “Kamu mau mampir dulu enggak, Ma?” tawar Alka, berhenti di depan rumahnya yang berhadapan tepat dengan rumah Delma. “Kayaknya enggak---” “Eh, Alka? Delma? Kalian udah sampe ternyata?” Suara seorang wanita mencuri perhatian Alka dan Delma. Mereka bersamaan menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang wanita yang berdiri di teras rumah Alka. Wanita itu adalah Agatha. “Mama?” gumam Alka. Agatha berjalan menghampiri putri sulungnya dan Delma. Senyum cerah terpatri di wajah wanita itu. Wajah yang terlihat awet muda. Dengan sopan, Alka dan Delma bergantian menyalami tangan wanita itu. “Kamu enggak telepon, sih, kalo udah sampe?” Alka meringis tanpa suara dan menunjukkan cengirannya. “Lupa,” jawabnya polos. Agatha hanya geleng-geleng menanggapi jawaban putrinya. “Kebiasaan, deh, kamu, Al.” “Hehe, maaf, Ma.” “Ya udah. Masuk, yuk. Mama udah masak yang spesial buat kamu. Delma,” Agatha beralih menatap Delma yang berdiri di sebelah kiri Alka, “kamu juga ikut, yuk. Kita makan siang bareng.” “Eum ..., tapi Delma mau ke rumah dulu, Tante. Mau ketemu mama papa.” “Ah, iya, tante baru inget. Mama sama papa kamu lagi pergi. Tadi sempet bilang ke tante.” “Oh, gitu ....” Delma menoleh ke belakang, ke arah rumahnya. Dari luar, keadaan rumahnya memang terlihat sepi. Sepertinya, benar jika orang tuanya sedang pergi, seperti yang Agatha katakan baru saja. “Kalo gitu mampir dulu ke rumahku, yuk, Ma,” hasut Alka. “Iya, bener itu,” timpal Agatha. Delma pun mengangguk, mengiyakan tawaran Alka dan juga Agatha. “Yuk,” ajak Agatha. Mereka bertiga lantas berjalan menuju rumah Alka. Mereka masuk secara bergantian. Keadaan rumah Alka tidak banyak berubah. Masih sama seperti saat terakhir kali Alka berada di sini, tepatnya minggu lalu. Delma juga merasakan hal yang sama. Ia sudah sering mampir ke rumah sahabatnya itu. Begitupun sebaliknya, Alka juga sering berkunjung ke rumahnya. Sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka berdua berkunjung atau main ke rumah satu sama lain. “Ayo, Delma, dicoba makanannya,” tawar Agatha begitu sampai di ruang makan. Delma mengangguk. “Iya, Tante, terima kasih,” jawabnya sopan. Laki-laki itu kemudian menarik kursi di sebelah Alka yang sudah lebih dulu duduk. Sedangkan Agatha, duduk berseberangan darinya. “Papa masih kerja, Ma?” Alka bertanya sambil tangannya sibuk menyendok nasi. Bukan untuknya, melainkan untuk Delma. “Oh, enggak. Papa lagi di rumah temen.” Alka manggut-manggut paham. “Kalo adek?” “Aku di sini dan kau di sana.” Seseorang tiba-tiba muncul di ruang makan, mencuri perhatian Alka, Delma, dan juga Agatha. Orang itu adalah Sena, anak kedua sekaligus bungsu dari Agatha, adik kandung Alka. Alka menatap sinis adiknya. “Kamu dateng-dateng malah nyanyi. Salim dulu sama Kakak,” sindirnya langsung. “Enggak mau, wlek!” balas Sena sambil menjulurkan lidah, meledak sang kakak. Alka ternganga akan reaksi yang diberikan oleh adiknya. Berani-beraninya! batinnya, menahan kesal. “Hush, Sena. Yang sopan, ah, sama Kakak. Tuh, ada Kak Delma juga, lho.” Agatha akhirnya turun tangan menegur si bungsu. Sena tertawa kecil. “Bercanda kali, Ma.” Gadis yang masih menempuh pendidikan SMA itu lantas berjalan menghampiri Alka, menyalami tangannya. Lantas, bergantian menyalami tangan Delma. Barulah setelah itu, ia menarik kursi di sebelah Agatha dan mendudukinya, ikut bergabung untuk makan siang. Mereka berempat mulai menikmati sajian makan siang. Sesekali, Agatha melontarkan pertanyaan mengenai perkembangan kuliah Alka dan Delma, juga keadaan mereka selama tinggal di indekos atau kesibukan di kampus. Juga, rutinitas sehari-hari lainnya. “Delma,” panggil Agatha, “Alka enggak macem-macem, ‘kan, selama di sana?” Delma terdiam beberapa detik saat Agatha bertanya padanya. Laki-laki itu melirik sekilas ke arah Alka. Lantas, kembali menatap Agatha. “Enggak, kok, Tante. Alka ... enggak macem-macem.” Diam-diam, Alka mulai merasakan firasat yang kurang enak. Ia agak cemas jika mamanya nanti akan menyinggung soal hubungan berpacaran. Agatha manggut-manggut mendengar jawaban Delma. “Baguslah." Wanita lantas beralih menatap si sulung. “Kamu ... enggak pacaran, ‘kan, Al, di sana?” Alka langsung tersedak saat Agatha menodongnya dengan pertanyaan itu. Benar saja ternyata. Apa yang sempat ia cemaskan tadi berubah menjadi kenyataan. Buru-buru Delma memberikan segelas air putih untuk Alka. Alka menerimanya dan segera meneguk minuman itu hingga tandas. “Pelan-pelan, dong, Al. Lagian, kamu kenapa sampe kesedak gitu waktu Mama tanya soal pacaran?” Alka terdiam. Ia ragu untuk menjawab pertanyaan sang mama. “Jangan-jangan, Kakak sebenernya udah punya pacar, tuh, Ma,” cetus Sena, memanas-manasi keadaan. Langsung saja, Sena dihadiahi tatapan tajam dari Alka. “Apaan, sih, Dek? Nuduh yang enggak-enggak!” sewot Alka. “Ih, santai aja kali, Kak. Aku, kan, cuma ngira. Kenapa Kakak malah sewot? Ah, jangan-jangan ... emang bener kalo Kakak sebenernya udah punya pacar. Hayooo ....” “Enggak! A-aku enggak punya pacar, kok.” Mendadak, Alka diserang gugup. Gadis itu khawatir jika mamanya akan curiga dengannya. Duh, ganti topik, dong. Please, please, please, pintanya dalam hati. Agatha menatap putri sulungnya lekat-lekat. Ia merasa ada yang janggal dari cara bicara Alka. Juga, ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis itu. Agatha lantas beralih menatap Delma. “Delma, Tante mau kamu jujur.” Delma yang disebut namanya menghentikan gerakan tangan menyendok makanan. Laki-laki itu ikut diserang gugup. Sepertinya, Agatha akan berusaha mengorek informasi lebih jauh terkait pergaulan Alka selama tidak ada di rumah. “Apa ... Alka punya pacar?” Alka menggigit bibir bawah. Ia resah mendengar pertanyaan Agatha untuk Delma. Gadis itu lantas melirik Delma. Perasaannya waswas. Ia tidak bisa menebak jawaban apa yang akan sahabatnya itu berikan. Semoga saja, Delma tidak mengatakan yang sejujurnya jika ia sudah berpacaran. Agatha menatap Delma lekat-lekat, menunggu jawaban dari sahabat putrinya itu. “Gimana, Delma?” Delma menunduk sejenak, menghindari tatapan Agatha yang mengintimidasi. Sebenarnya, di satu sisi ia ingin jujur, mengingat bahwa gaya pacaran Alka mulai menuju ke arah yang kurang baik. Namun di sisi lain, ia tidak ingin membuat sahabatnya kecewa dan kehilangan kepercayaan padanya. Laki-laki benar-benar ragu sekarang, apakah harus mengatakan yang sejujurnya pada Agatha atau tidak. Suasana tegang di ruang makan terinterupsi oleh ponsel yang berdering nyaring. Semua pasang mata memusatkan perhatian pada ponsel yang tergeletak di atas meja makan. Ponsel itu adalah milik Alka. Segera, gadis itu mengambil ponsel dan memeriksa apa yang membuat benda canggih itu berdering. Gadis itu membulatkan mata tatkala menatap layar ponsel yang menampilkan notifikasi panggilan video dari Alden. Alka meringis tanpa suara. ‘Ya ampun, Ald! Kenapa sekarang, sih, video call-nya?’ batinnya, gemas. “Ada apa, Al?” Alka tersentak. Ia menatap mamanya dengan ekspresi gugup. Terpaksa, ia menolak panggilan video dari Alden. Dalam hati ia merapal kata 'maaf' untuk pacarnya itu. “B-bukan siapa-siapa, kok, Ma. Salah sambung doang,” kilah Alka, meletakkan kembali ponselnya di meja makan. Delma memperhatikan Alka dari samping. Ia tahu jika Alka baru saja berbohong. Bagaimana bisa? Tadi, ia tidak sengaja melihat tampilan layar ponsel Alka yang menampilkan notifikasi panggilan video dari Alden. Agatha hanya mengangkat bahu kemudian. Ia kembali fokus pada pertanyaannya untuk Delma. Akan tetapi, dering ponsel lagi-lagi menginterupsi. Alka meringis tanpa suara. Tangannya bergerak, hendak mengambil ponsel. Namun, tanpa diduga, gerakannya didahului oleh Agatha. Wanita itu dengan cepat mengambil ponsel milik Alka. Tentu saja, hal itu membuat Alka terkejut. Gadis itu mendadak diserang panik dan waswas. Ia memandang mamanya dengan ekspresi horor. Agatha menatap layar ponsel Alka yang menyala, menampilkan notifikasi panggilan video dari kontak bernama ‘Alden♡’. Wanita itu terdiam beberapa saat. Ekspresinya datar, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya. Alka hanya bisa pasrah. Dalam hati, ia terus merapal doa agar Agatha tidak memarahi dirinya. Ia juga berharap Alden tidak akan marah karena panggilan videonya tidak dijawab. Agatha menatap Alka yang duduk di seberangnya dengan intens. “Alka,” panggilnya dingin. Alka dengan takut-takut mengangkat wajah, memberanikan diri menatap mamanya. Jantungnya berdegup kencang. Embusan napas berat keluar dari mulut Agatha. Wanita itu meletakkan ponsel Alka di meja. Tatapannya terus terpusat pada putri sulungnya. “Siapa itu Alden?” BERSAMBUNG ke PART 12 Oh, oh, kamu ketauan Diem-diem pacaran, haha Sabar, ya, Alka:D Hei, Epribadeh! Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN