“Siapa itu Alden?” Agatha kembali mengulang pertanyaan. Namun, putri sulungnya---Alka---hanya diam.
Alka menunduk, menghindari tatapan mamanya. Ia tidak ada keberanian untuk jujur pada Agatha. Jangankan jujur, menatap wanita itu saja ia tak berani.
Suasana tegang itu membuat Delma dan Sena merasa kurang nyaman. Nafsu makan mereka pun seketika lenyap. Mereka memperhatikan pembicaraan yang mulai serius di antara Alka dan Agatha.
Agatha beralih menatap Delma. “Delma, kamu kenal sama yang namanya Alden?”
Delma diam beberapa saat. Ia melirik sekilas ke arah Alka. Ia ragu, apakah harus berkata jujur atau tidak.
“Delma, tolong jawab pertanyaan Tante.”
Delma mengembuskan napas pelan. Laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk mengangguk, walau samar.
“Siapa dia?” Agatha agaknya benar-benar penasaran mengenai siapa sosok bernama Alden yang baru saja melakukan panggilan video pada putri sulungnya. Hati kecilnya mengatakan jika Alka memiliki hubungan dengan sosok ini. “Ada yang mau jawab? Alka? Delma?”
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari Alka maupun Delma. Keduanya sama-sama diam dengan kepala tertunduk.
Agatha mengembuskan napas berat. Ia meraih ponsel Alka dan menghidupkan layar. “Kalo dari kalian enggak ada yang mau jawab dan jelasin siapa itu Alden, biar Mama cari tau sendiri sama orangnya langsung.”
Alka membulatkan mata mendengar penuturan Agatha. “Jangan, Ma!” cegahnya cepat.
Agatha mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel menuju Alka. “Kalo gitu jelasin dengan jujur, siapa itu Alden!” tegasnya kemudian.
Alka membasahi bibir. Tangannya bersembunyi di bawah meja, saling bertaut erat. Gadis itu gugup. “A-Alden itu ....” Alka menelan ludah susah payah.
Delma memperhatikan Alka dari samping. Batinnya terus bertanya-tanya, mungkinkah Alka akan jujur tentang semuanya, bahwa gadis itu telah berpacaran dengan Alden selama satu tahun?
Alka menatap Agatha, Sena, dan Delma bergantian, menilik ekspresi mereka.
“Siapa, Al?” desak Agatha. Wanita itu benar-benar penasaran.
Alka menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Alden itu ...,” Alka menunduk, menatap jari-jemarinya yang saling bertaut, “pacar Alka, Ma.”
Agatha dan Sena dibuat terkejut oleh pengakuan Alka, berbeda dengan Delma yang bersikap santai karena ia sudah lebih dulu tahu mengenai hubungan Alka dan Alden.
“Pa-pacar?” ulang Agatha.
Alka mengangguk kaku. Kepalanya masih tertunduk, tak berani menatap mamanya.
Agatha mendesah berat. Ia menyandarkan punggung pada kursi. Matanya menatap Alka di seberang, lalu beralih menatap Delma. “Delma, kamu udah tau tentang itu?”
Delma terdiam beberapa saat usai Agatha mendapat pertanyaan tersebut. Laki-laki itu kemudian mengangguk, membenarkan.
“Udah berapa lama Alka pacaran sama yang namanya Alden itu?”
Delma melirik Alka sekilas sebelum menjawab pertanyaan Agatha. “Satu tahun, Tante.”
Agatha membulatkan mata tak percaya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Sena, adik Alka. Gadis itu tidak menyangka jika kakaknya diam-diam sudah berpacaran selama satu tahun. Ia juga tidak menyangka kalau kakaknya itu sangat pandai menyimpan rahasia. Padahal, Alka sering bertukar cerita padanya. Namun, untuk yang satu ini, mengapa ia baru tahu?
“Kenapa kamu enggak jujur sama Tante selama ini, Delma? Setahun. Itu waktu yang lama.” Agatha menatap Delma dengan intens.
“M-maafin Delma, Tante,” ucap Delma pelan.
“Kamu Tante amanahin buat jagain Alka. Termasuk mengawasi pergaulan dia selama masa kuliah. Tante juga udah kasih tau ke kamu, 'kan, kalo tante enggak suka Alka pacaran? Kamu berhak buat negur Alka, Delma.”
Delma hanya diam mendengarkan. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan Agatha dengan baik.
“Ma, udah. Jangan salahin Delma.” Alka akhirnya memberanikan diri angkat suara. “Alka yang salah, bukan Delma. Delma udah pernah negur Alka, tapi ... Alka aja yang bandel.”
“Iya, kamu emang bandel,” ucap Agatha sarkastik.
Alka tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mamanya. “A-apa?”
“Kamu ngaku kalo kamu bandel. Bener, 'kan? Udah berapa kali, sih, Mama bilang ke kamu supaya enggak usah pacaran? Mama, tuh, enggak suka kamu kayak gitu. Mama enggak mau kamu terjerumus ke jalan yang salah karena pacaran.”
Alka meremas jari-jemarinya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Perasaannya tak karuan antara merasa bersalah, kesal, kecewa, dan muak.
“Terbukti, dengan pacaran kamu sekarang jadi berani bohong sama Mama, gak jujur sama Mama. Iya, enggak?”
“Tapi, Alka berani jamin, Ma, kalo Alka enggak akan terjerumus ke jalan yang salah selama pacaran sama Alden.”
“Kamu yakin?”
Alka terdiam beberapa saat. Ia menelan ludah berat. Ia meresapi lagi kalimat yang baru saja ia lontarkan pada Agatha. Sejenak, ia jadi sedikit ragu dengan kalimatnya sendiri.
“... jalan yang salah ....”
Hah, terngiang dengan tiga kata itu membuat Alka teringat dengan apa yang kemarin-kemarin ia lakukan bersama Alden pada malam hari, setelah pergi ke pasar malam.
“Kenapa diem? Kamu yakin atau enggak kalo kamu enggak bakal terjerumus ke jalan yang salah selama pacaran, hm?”
Alka termenung karena pertanyaan Agatha itu. “A-Alka yakin, kok, Ma." Ia menatap mamanya dengan berani. "Alka bisa jaga diri. Alka sama Alden tau batasan.”
Delma yang mendengar pernyataan tersebut langsung menatap Alka dari samping. Ia tidak yakin dengan jawaban yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Pasalnya, ia melihat sendiri kalau Alka dan Alden sudah melakukan sesuatu yang melewati batas dalam berpacaran. Namun, Delma hanya diam. Ia tidak ingin menambah teruk keadaan.
Suasana di ruang makan berubah hening, hening yang menciptakan tanda tanya bagaimana akhir dari permasalahan yang sedang dibicarakan.
“Okay, Mama pegang kata-kata kamu, Al.”
“Tapi, Mama perlu memastikan itu juga sama Alden, apakah dia bisa janji untuk jaga batasan selama pacaran atau enggak,” lanjut Agatha penuh penekanan.
Alka berkedip beberapa kali. Ia mencoba mencerna kembali penuturan mamanya. Mungkinkah jika wanita itu memberikan restu untuknya berpacaran dengan Alden?
Agatha menatap Alka dengan lekat. “Minggu depan, ajak Alden ke sini. Kalo dia mau tetep pacaran sama kamu, dia harus berani ketemu sama mama dan papa.”
Kedua mata Alka terbuka lebar mendengar hal tersebut. Mulutnya sampai terbuka saking terkejutnya. Ia merasa senang, tetapi agak sangsi. “J-jadi ..., Mama ... ngerestuin Alka pacaran sama Alden?” tanya Alka memastikan.
Agatha menegakkan punggung. Wanita itu lantas menggeleng pelan. Hal itu membuat Alka sedikit kecewa. “Enggak akan mama restuin sebelum Alden dateng ke sini dan minta izin langsung ke mama dan papa buat pacaran sama kamu. Paham?”
Alka tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan dengan semangat. “Siap, Ma! Minggu depan, Alka bakal ajak Alden ke sini. Kebetulan, Alden kemarin bilang pengin ketemu mama papa juga.”
“Hah, baru kemaren penginnya? Kenapa gak dari dulu aja, waktu dia nembak kamu, hm?” sindir Agatha, pedas.
Alka hanya meringis sambil mengusap tengkuk.
“Tapi, tetep,” Agatha beralih menatap Delma, “kamu harus pantau Alka terus, ya, Delma. Kabari Tante kalo Alka kenapa-napa. Jangan ada yang disembunyiin. Karena cuma kamu yang bisa Tante andelin buat jagain Alka di luar sana. Kalian sahabatan udah dari lama, dari kalian kecil, udah sepatutnya kalian saling jaga satu sama lain. Ya?”
Alka dan Delma mengangguk paham.
“Ini juga pelajaran buat kamu, Sena.”
“Aku? Kenapa aku?” tanya Sena polos.
“Biar kamu juga hati-hati dalam bergaul. Apalagi, sama lawan jenis. Kalo misal ada yang suka sama kamu dan pengen ngajak kamu pacaran, kamu harus pikir 1.000 kali dulu sampe bener-bener mateng. Kalo kamu udah mantep, orang yang kamu suka itu harus berani ketemu sama mama dan papa, minta izin langsung ke kita berdua. Paham?”
Kedua mata Sena terlihat berbinar. “Berarti Sena boleh pacaran, dong?”
“Sekolah dulu yang bener. Kamu, tuh, masih SMA, Dek. Fokus belajar, biar cepet lulus.” Alka menjawab pertanyaan adiknya.
Agatha tersenyum tipis melihat kedua putrinya. Wanita itu termenung. Senyumnya agak memudar. Ia berharap, semoga kedua putrinya bisa menjaga diri dengan baik dan tidak terjerumus ke pergaulan yang salah seperti yang banyak tersiar di berita.
BERSAMBUNG
ke
PART 13
Hei, Epribadeh!
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡