Part 13 - Perkara Helm

1425 Kata
KEESOKAN harinya, tepatnya hari Minggu, Alka sedang mengemas barang-barang yang akan ia bawa kembali ke indekos. Tidak banyak, hanya pakaian dan juga bekal makanan dari sang mama. “Udah semua, Al?” Alka menoleh ke sumber suara. Ia menemukan Agatha---mamanya---tengah berdiri di ambang pintu. “Udah, Ma,” jawab Alka sembari menutup ritsleting tas. Agatha kemudian berjalan mendekati putri sulungnya itu. “Begitu sampe kos, kabari Mama, ya.” Alka tersenyum dan mengangguk. “Iya, Ma.” Agatha menatap Alka dengan lekat selama beberapa saat. Tidak terasa, putri sulungnya itu sudah beranjak dewasa. Sejenak, Agatha teringat masa-masa saat ia merawat Alka yang masih kecil. Alka yang merasa diperhatikan, menatap mamanya dengan raut penasaran. Gadis itu sedikit menelengkan kepala ke kanan. “Ma?” Agatha tersentak dari lamunan. “Ah, ya?” “Mama kenapa? Melamun?” “Euh, enggak. Mama ... cuma kepikiran kamu aja.” Dahi Alka berkerut samar. “Kepikiran ... gimana maksudnya?” Agatha tersenyum simpul. Tangan kanannya terangkat dan mendarat di puncak kepala Alka. Alka semakin dibuat bingung dengan Mamanya sendiri. “Kamu udah ternyata besar, ya, Sayang. Udah kuliah, tinggal beberapa semester lagi, kamu wisuda.” Alka diam mendengarkan penuturan Agatha. “Mama ... akan selalu berdoa yang terbaik buat kamu, dijauhkan dari hal-hal yang buruk, dan dimudahkan dalam segala urusan. Apalagi, urusan cita-cita dan harapan kamu.” Dalam hati, Alka mengamini doa tulus dari Agatha tersebut. Gadis itu merasa tersentuh dan merasa bersyukur memiliki sosok mama seperti Agatha. Meskipun terkadang, Alka merasa tidak cocok dengan pendapat dan perlakuan wanita itu, tetapi Alka tetap menyayanginya. “Terima kasih, ya, Ma. Udah doain Alka.” Agatha tersenyum. Perlahan, ia merengkuh tubuh putrinya, membawanya dalam pelukan. “Udah jadi kewajiban bagi orang tua untuk selalu mendoakan anak-anak mereka, Al, supaya jalan mereka dimudahkan Tuhan. Kamu juga jangan lupa untuk libatkan Tuhan di setiap urusan kamu, ya. Supaya hidup kamu selalu terarah, enggak salah jalur.” Alka mengangguk, mematuhi pesan Agatha. “Kamu juga harus bisa jaga diri baik-baik, ya, Al. Delma mungkin enggak selalu bisa tiap detik ada di deket kamu.” “Iya, Ma. Alka pasti bisa jaga diri, kok. Mama enggak perlu khawatir.” “Bukan cuma dari tindakan kejahatan, tapi juga masalah pergaulan, lho, Al. Wajar, kamu udah mulai suka sama lawan jenis. Entah itu suka, sayang, atau cinta. Itu wajar. Tapi inget, jangan sampai rasa suka itu membutakan kamu. Jangan sampai terlena dan ujung-ujungnya ... keseret ke jalan yang salah.” Alka terdiam mendengarkan nasihat Agatha. Lagi, gadis itu terngiang akan hubungannya dengan Alden. Mulai dari pacaran diam-diam hingga momen ciuman pertama mereka. Apakah yang seperti itu sudah menjerumus ke jalan yang salah seperti yang baru saja Agatha singgung? “Pacaran itu boleh, tapi inget, semua hal di dunia ini ada batasannya. Enggak terkecuali pacaran.” Agatha mengurai pelukan. Ia menangkup kedua pipi Alka, menatap gadis itu dengan lekat. “Kamu paham, 'kan, maksud Mama?” Alka membalas tatapan Agatha dan mengangguk pelan. “Kalo Alden macem-macem sama kamu, langsung putusin aja.” Alka tertawa kecil. “Alden enggak akan kayak gitu, kok, Ma.” Agatha mengembuskan napas pelan. “Ya ..., hati orang mana ada yang tau, sih, Al? Semua orang pinter nyembunyiin rahasia, jangan salah.” Alka tak membalas perkataan mamanya. “Mama enggak mau denger kalo kalian sampe ngelakuin hal-hal di luar batas. Kamu tentu enggak mau, 'kan, malu-maluin keluarga kita?” “Enggak mau, lah, Ma.” “Nah, itu. Makanya, selalu hati-hati, ya. Nurut nasihat orang tua. Nurut juga sama Delma. Okay?” Dahi Alka berkerut. “Kok, Delma?” Agatha mengangguk sekilas. “Iya, Delma. Kan, Delma sahabat kamu dari kecil. Dia juga Mama suruh buat jagain kamu selama kuliah, 'kan? Biar kamu enggak na-kal.” “Ih, Alka enggak nakal, Ma," sewot Alka. “Tapi, apa?” “Suka coba hal baru.” Alka tertawa kecil kemudian. “Halah, alesan. Pokoknya, kamu inget terus nasihat Mama, ya. Mama bisa percaya kamu?” Alka mengangguk yakin. “Ya udah. Mama anter kamu sampe depan, yuk.” “Yuk!” Alka mencangklong tas dan beranjak dari kamar bersama Agatha. Papa dan juga adiknya turut mengantar hingga teras. “Alka berangkat, ya, Pa,” pamit Alka sambil menyalami tangan Sandy. “Hati-hati, ya. Sama Delma, ‘kan?” “Iya, Pa.” Alka beralih menyalami tangan Mamanya. “Inget pesen Mama tadi, ya.” Alka tersenyum. “Iya, Ma. Udah berapa kali coba Mama bilang gitu?” “Ya ..., jaga-jaga aja kalo kamu lupa.” “Emang Mama pesen apa, Al?” timpal Sandy, penasaran. “Ah, itu---” “Pesen martabak manis, Pa,” sela Agatha, bergurau. “Mama bercanda, nih?” “Ya ..., menurut Papa aja gimana,” balas Agatha, lantas tertawa kecil. Alka ikut tertawa melihat tingkah orang tuanya. Ia kemudian lanjut berpamitan dengan Sena, adiknya. “Kakak berangkat, ya, Dek.” “Iya. Hati-hati, ya, Kak. Salam buat Kak Alden.” Alka sempat terkejut dengan perkataan Sena yang seolah menggoda dirinya. Namun, ia hanya mengangguk kaku sebagai balasannya. “Oh, ya, Al. Yang namanya Alden itu, jadi ke sini, enggak?” Sandy bertanya karena teringat dengan cerita dari Agatha bahwa putri sulungnya itu diam-diam telah berpacaran. “Minggu depan Mama suruh dia dateng ke sini, Pa.” Bukan Alka yang menjawab, melainkan Agatha. Alka hanya diam dan mengangguk, membenarkan. Perbincangan keluarga kecil itu terinterupsi oleh suara motor yang terdengar cukup keras, seperti suara motor vespa. Mereka kompak menoleh ke sumber suara. Alka memicingkan mata, menatap seorang pengendara sepeda motor vespa yang berhenti di depan rumah. “Delma?” gumamnya heran. Orang yang diduga Delma itu mendorong kaca helm ke atas, memperlihatkan wajah. “Siang, Om, Tante, Sena!” sapanya ramah pada keluarga Alka. “Siang, Delma. Wah, tumben bawa motor.” Delma tersenyum simpul. “Iya, Tante. Daripada enggak keurus di rumah, jadi ... Delma pake aja.” “Bagus itu. Biar mesinnya enggak macet,” timpal Sandy, berkomentar. “Bener, Om.” “Berarti, kita ke kosnya naik vespa, Ma?” tanya Alka pada Delma. Pertanyaan Alka itu dibalas dengan anggukan. “Iya. Enggak apa, 'kan?” “Ya, enggak apa, lah. Ngirit ongkos malah. Ya, 'kan, Al?” timpal Agatha. Alka hanya tersenyum. Ia kembali berpamitan untuk terakhir kali pada keluarganya dan segera berjalan menghampiri Delma yang sudah menanti. “Nih.” Delma memberikan sebuah helm pada Alka. Alka menerima dan langsung mengenakannya. Namun, saat mengangkat helm tersebut, gadis itu mencium bau yang aneh. Urunglah ia mengenakan helm tersebut. Gadis itu mengendus bagian dalam helm, memastikan apakah bau aneh itu berasal dari helm yang diberikan Delma. Delma yang merasa tak ada pergerakan di sepeda motornya pun menoleh ke belakang. “Kok, enggak naik, sih, Al?” Alka menatap Delma. “Oh, ini. Helmnya ....” Alka tak kuasa melanjutkan kalimat. Ia merasa tak enak hati, takut akan menyinggung Delma. “Kenapa helmnya?” Alka mengulum bibir. Sungguh, ia tidak berani jujur pada sahabatnya. Delma tanpa permisi merebut helm dari tangan Alka dan memeriksanya. Aman, tidak ada bagian yang rusak. Namun .... “Euh!” Delma segera menjauhkan wajah dari bagian dalam helm. “Bau, ya?” Alka meringis tanpa suara dan mengangguk samar. Delma terdiam beberapa saat. Pantas saja Alka tidak kunjung naik ke sepeda motornya. Setelah beberapa detik berpikir, Delma menemukan ide. Ia melepas helm yang dikenakannya, lalu menyodorkannya pada Alka. “Kamu pake yang ini aja.” Alka menatap Delma tak percaya. “Lho, tapi---” “Tenang. Helmnya enggak bau, kok. Pake aja. Nah, aku pake yang ini, deh,” kata Delma, menunjuk helm yang semula ia berikan pada Alka. Alka dengan ragu menerima helm pemberian Delma. Sebelumnya, ia mencium bagian dalam helm, memastikan apa ada bau aneh lagi atau tidak. Aman. Justru, Alka malah mencium aroma wangi yang lembut dan menenangkan. Sepertinya, itu adalah aroma sampo rambut Delma yang tertinggal di helm. “Tetep bau, Delma,” keluh Alka kemudian. Delma tersenyum miring. “Bau sampo aku, 'kan?” tebaknya. Alka tersenyum geli menanggapinya. Ia segera mengenakan helm. “Enak, 'kan, baunya?” “Eum .... Ya ..., mending, lah, daripada helm pertama,” jawab Alka dipungkasi tawa kecil. Delma tersenyum melihat ekspresi Alka tersebut. Entah mengapa, ia merasakan kesejukan yang menyentuh hati. Agaknya, ia sudah bisa mendalami peran seperti tokoh Olaf dalam film “Frozen”. Walaupun dingin, tetapi ia bisa membuat orang lain tersenyum, bahkan ... tertawa. BERSAMBUNG ke Part 14 Ah, Delma:) Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN