NAMANYA musibah, jelas tidak bisa ditebak kapan terjadinya. Termasuk, apa yang tengah dialami oleh Alka dan Delma saat ini. Hampir satu jam mereka duduk di jok vespa, menahan pegal dan sedikit lelah. Saat ini, mereka harus bersabar karena vespa Delma tiba-tiba saja berhenti. Padahal, perjalanan menuju indekos masih cukup jauh. Butuh satu jam lagi untuk sampai di tempat tujuan.
Sudah beberapa kali Delma mencoba menyela vespa-nya, tetapi tidak ada reaksi apa-apa. Sepertinya, ada yang bermasalah dengan bagian mesin. Maklum, vespa tersebut sudah lama tidak digunakan.
Alka duduk di trotoar jalan, menunggu sambil mengipas-ngipas wajah dengan tangan. Terik matahari begitu menyengat, membuat peluh muncul di beberapa titik paras cantiknya. “Ma, masih belum bisa?”
Delma menoleh, menatap Alka yang terlihat kegerahan. Laki-laki itu merasa kasihan pada sahabatnya. Ia tidak mengira akan terjadi musibah seperti ini. “Belum, Al.”
“Masih lama?”
“Enggak tau, deh.”
Alka mengelap peluh di dahi. Ia mengembuskan napas pelan. “Lagian, kamu. Gaya-gayaan pake vespa segala. Mesinnya macet, ‘kan, di jalan?”
Delma terus menyela vespa-nya hingga berhasil---entah kapan pencapaian itu akan terjadi. “Bukan buat gaya-gayaan, Al. Tapi, biar vespa-nya kepake dan enggak rusak di garasi,” tutur Delma, mencoba membela diri.
Alka tampak tidak peduli dengan penuturan Delma tersebut. Gadis itu terus mengipasi wajah dengan tangan. “Kalo masih lama, aku pulang ke kos naik bus aja, lah. Panas banget ini, Ma.” Gadis itu berdiri, bersiap untuk pergi. Ia melepas helm dari kepala dan memberikannya pada Delma.
“Eh, Al, tunggu bentar! Kamu jangan pergi seenaknya gitu, dong. Nanti kamu kenapa-napa gimana di jalan? Lagian, kamu hapal jalan?”
Alka terdiam. Namun, sepertinya perkataan Delma tidak menyurutkan niatnya untuk pergi pulang sendiri.
“Alka! Al! Kamu mau ke mana?” teriak Delma dari posisinya. Namun, teriakannya itu diabaikan oleh Alka.
Alka terus berjalan santai di bagian pinggir. Tujuannya saat ini adalah mencari halte untuk menunggu bus. “Delma buat apa coba pake vespa? Naik kereta udah paling enak juga, walau pun harus keluar duit,” gerutu Alka sambil melangkah. Sesekali gadis itu menendang angin, meluapkan rasa kesal.
Tak jauh dari tempatnya, Alka melihat ada sebuah halte. Kebetulan ada sebuah bus yang sedang berhenti di sana. Gadis itu mengembangkan senyum. Segera, ia mempercepat langkah menuju halte.
Sebelum naik bus, Alka bertanya pada kernet apakah bus tersebut menuju ke arah indekosnya atau tidak. Beruntung, sang kernet menjawab ‘iya’. Alka pun masuk ke bus dan memilih duduk di urutan tengah.
Katakan saja jika gadis itu adalah orang yang tidak berperasaan karena meninggalkan Delma yang sedang bersusah payah mengoperasikan vespa sendirian di pinggir jalan. Lagi pula, Alka yakin, Delma punya 1.001 cara untuk pulang ke indekos. Laki-laki itu adalah orang yang banyak akal alias pintar.
Beberapa menit menunggu, akhirnya bus melaju dengan kecepatan sedang. Alka menikmati perjalanan sambil menatap pemandangan luar dari kaca jendela di samping kiri. Saking menikmatinya, rasa kantuk perlahan menyapa dirinya. Beberapa kali Alka menyandarkan kepala di kaca jendela. Namun, dengan cepat ia menegakkan punggung, menghalau kantuk. Sayangnya, rasa kantuk mempunyai kekuatan yang lebih dominan. Gadis itu menyerah dan menyandarkan kepala di kaca jendela seterusnya.
Sangat disayangkan, Alka yang baru saja akan masuk ke dunia mimpi dikejutkan oleh suara bising. Gadis itu membuka mata dan celingak-celinguk mencari asal suara bising tersebut. Suara bising itu terus terdengar, kali ini dibarengi dengan teriakan seseorang.
“Siapa, sih?” geram Alka.
“ALKA! TURUN!”
Alka tertegun. Dahinya berkerut samar. Siapa yang nyebut namaku? Kayak enggak asing.
“ALKA, TURUN! VESPA-NYA UDAH NYALA!”
Alka menoleh cepat ke kiri. Kedua matanya membulat begitu melihat seorang pengendara vespa melaju di sisi kiri bus. “De-Delma?” Alka bertemu pandang dengan Delma. Gadis itu dilanda bingung, apakah ia harus turun atau tetap berada di bus saja?
“Wah, pacarnya, ya, Mbak?”
Alka menoleh. Ia menemukan seorang ibu-ibu yang menatapnya sambil tersenyum-senyum. Buru-buru ia menggeleng, menanggapi pertanyaan sang ibu. “Eh, bukan, Bu. Itu ... bukan pacar saya.”
“Oh, suami? Ya ampun, romantisnya kalian kejar-kejaran gini, yang satu pake bus, yang satu pake vespa.” Ibu-ibu itu tertawa geli kemudian.
Alka tersenyum kikuk. Tangannya mengusap tengkuk, salah tingkah. Ia merasa agak malu. Bukan karena perkataan si ibu, melainkan karena tindakan Delma yang berani memancing rasa kesalnya.
“Alka!” Delma kembali berteriak. Laki-laki itu mencoba untuk tetap fokus berkendara sekaligus memanggil Alka.
“Pak, Pak, Pak! Berhenti di sini!” seru Alka pada kernet bus. Gadis itu langsung berdiri dari posisi duduknya, padahal bus masih dalam keadaan melaju.
“Bayar dulu, Neng.”
“Iya, nih.” Alka langsung memberikan selembar uang pada kernet. “Pas, ‘kan?”
“Pas.” Sang kernet mencium uang yang baru saja diberikan oleh Alka. Alka yang menatap hal tersebut langsung bergidik ngeri.
“Yo, kiri, kiri, kiri! Ada yang mau turun! Kiri!” aba kernet pada sopir dengan suara lantang.
Perlahan, laju bus mulai berkurang. Alka segera turun dari kendaraan besar ini. Begitu menapak jalan, bus kembali melanjutkan perjalanan.
Alka memicingkan mata, menatap Delma yang masih berkendara di jalan. Beberapa detik kemudian, laki-laki itu dan vespa-nya berhenti di depan Alka.
“Ayo, naik,” suruh Delma.
“Kamu, tuh, malu-maluin aja, deh, Ma. Jadi diliatin tadi sama penumpang bus.”
Bukannya merasa bersalah, Delma malah terkekeh. Sontak saja, laki-laki itu ditoyor kepalanya oleh Alka. “Ketawa aja terus!” cibir Alka.
“Maaf, maaf. Udah. Ayo, naik. Keburu mesinnya mati lagi nih.”
“Iya, iya.” Alka mengambil helm dan mengenakannya. Setelah itu, ia duduk di jok vespa, di belakang Delma. Dua sahabat itu kembali melanjutkan perjalanan ke indekos.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
“Hah, akhirnya ...,” ucap Alka lega. Gadis itu segera turun dari vespa dan melepas helm.
“Maaf, ya, Al. Jadi lama nyampe kosnya,” sesal Delma.
Alka tersenyum kecil. “Apaan, sih? Santai aja kali. Ini enggak seberapa sama yang dulu, waktu awal-awal kita jadi maba. Inget, kita malah pernah nyasar sampe ke kota sebelah dulu.”
Delma langsung tertawa saat teringat momen yang baru saja dikatakan oleh Alka. “Inget, inget. Kamu waktu itu sampe nangis kejer dan bilang enggak mau kuliah.”
“Ih, kok, yang itu, sih, yang kamu inget?” Alka mengerucutkan bibir, kesal.
“Enggak, kok. Aku inget semuanya.” Delma tiba-tiba diam dan menatap Alka dengan raut muka serius.
Alka yang ditatap seperti itu terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Delma.
“Aku inget semuanya. Apalagi tentang kamu. Kita saling kenal satu sama lain dengan baik. You know me so well and I know you so well, right?”
Alka termangu beberapa saat. Beberapa detik kemudian, gadis itu tersenyum. Ia merasa tersanjung dengan kata-kata Delma. Sayangnya, rasa tersanjung itu harus terputus saat seseorang datang ke area indekos Alka dan Delma.
BERSAMBUNG
ke
PART 15
Jangan bilang waktu baca kata-katanya Delma, kalian jadi keinget lagunya SM*SH:|
Soalnya aku juga keinget lagu itu, ya ampun:(
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡