Part 15 - Bukan Cemburu, Melainkan Cemas

1320 Kata
PERHATIAN Alka dan Delma tercuri oleh kedatangan seseorang di area indekos mereka. Seseorang yang datang dengan mengendarai sepeda motor itu berhenti di depan indekos putri. “Itu … Alden?” Alka menoleh ke arah Delma dan mengangguk samar. “Kayaknya iya,” jawabnya kemudian. Gadis itu menyerahkan helm pada Delma dan bergegas menghampiri seseorang yang ia kira sebagai Alden. Tatapannya bertemu dengan pengendara motor tadi. Senyum simpul terbit di bibir merona gadis itu karena perkiraannya benar. Alka segera mempercepat langkah. “Hai!” sapa Alden lebih dulu sambil melambaikan tangan. “Hai juga!” balas Alka, tersenyum manis. “Kamu ada apa ke sini?” “Mau ketemu kamu, lah. Tadi, kan, aku udah chat kamu. Ah, iya. Kayaknya chat aku belum kamu buka. Iya, 'kan?” Alka termangu beberapa saat. Gadis itu buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas. Begitu mendapatkan benda yang dicarinya, ia segera menghidupkan layar. Terkejutnya ia menemukan rentetan pesan singkat dari Alden yang dikirimkan beberapa menit lalu. Alka jadi merasa bersalah akan hal ini. “Duh, maaf, ya. Aku ... enggak tau kalo kamu chat aku berkali-kali. Handphone-nya aku mode silent soalnya.” Alden tersenyum dan mengangguk pelan. “Enggak apa-apa, kok. Aku paham, kamu pasti masih di perjalanan tadi.” Alka tersenyum canggung. “Oh, ya. Kamu ... naik vespa ke sininya?” Alden melirik vespa beserta pemiliknya di ujung sana. Alka secara otomatis mengikuti arah pandang Alden. Ia bertemu tatap sejenak dengan Delma, lalu kembali menghadap Alden. “Iya. Emang ... kenapa?” Alden mengembuskan napas pelan. Laki-laki itu menatap Delma yang sekarang tengah berjalan menghampirinya dan juga Alka. “Pasti capek banget, ya, duduk berjam-jam di atas vespa butut kayak gitu.” Dahi Alka berkerut samar. Apakah Alden baru saja mengejek Delma? Walau begitu, Alka berusaha untuk tetap bersikap biasa saja. “Capek, sih. Tapi, enggak seberapa, kok.” Alden menatap Alka dengan pilu. Ia merasa tidak tega saja karena pacarnya itu kelelahan duduk terlalu lama di atas jok vespa. “Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” Alden tersentak dan segera menggeleng. Ia tersenyum kikuk. “Ah, enggak apa-apa, kok. Eum ..., waktu perjalanan tadi aman-aman aja, 'kan?” Alka menoleh ke kanan, merasakan kehadiran seseorang. Benar, ternyata ada Delma di sebelahnya sekarang. Gadis itu kembali menatap Alden. “Aman, kok. Ya ..., tadi sempet ada masalah dikit, sih. Vespa-nya Delma tiba-tiba macet. Iya, ‘kan, Ma?” Delma menoleh ke arah Alka. Laki-laki itu mengangguk singkat kemudian, membenarkan. Alden tiba-tiba tertawa kecil. Hal itu membuat Alka dan Delma mengenyit bingung. “Wajar, lah, macet. Vespa kayak gitu, kan, udah lama banget, udah tua. Udah jarang banget sekarang yang pake," ujar Alden seolah sedang meremehkan. Alka terdiam mendengar penuturan Alden. Gadis itu mulai merasakan atmosfer yang aneh di sekitar. Ia waswas jika Delma merasa tersinggung oleh penuturan Alden yang seolah mengejek vespa milik laki-laki itu. Sama seperti Alka, Delma hanya diam. Ia menatap Alden dengan sirat tajamnya. Ekspresi datar, terkesan serius. Apakah laki-laki itu tersinggung? Tentu. Apalagi, vespa yang baru saja dijelek-jelekkan oleh Alden adalah vespa peninggalan mendiang kakeknya. Sayangnya, hal itu tidak diketahui sama sekali oleh Alden, bahkan Alka. “Alden ...,” panggil Alka, berusaha menegur pacarnya itu. Alden menatap mimik muka Alka yang terlihat serius. Laki-laki itu meluruskan bibir dan mengangguk sekilas, paham dengan maksud pacarnya. “Sorry, aku enggak maksud ngeledek. Cuma ... ngomongin fakta aja. Tapi, enggak apa. Toh, temen aku ada juga yang masih pake vespa.” Alka merasa lega dengan penuturan Alden baru saja. Setidaknya, ketegangan tadi tidak berlarut parah. Ia sudah waswas jika Alden dan Delma akan berkelahi, baku hantam, atau semacamnya, seperti yang biasa terjadi. Namun agaknya, Alka saja yang terlalu jauh berpikir. “Eum ... kamu beneran, pergi ke sini cuma karena pengen ketemu aku?” tanya Alka, mengganti topik pembicaraan. Alden menarik kedua sudut bibirnya ke atas. “Sebenernya, aku pengen ngajak kamu pergi. Itu pun kalo kamu enggak capek.” “Oh, gitu. Ya ..., enggak ap---” “Alka harus istirahat,” potong Delma cepat. Cara bicara laki-laki itu terkesan dingin dan tegas. Alka sontak menoleh ke arah Delma, menatap laki-laki itu dari samping. “Alka baru aja sampe. Dia pasti capek. Kamu sebagai pacar harusnya tau keadaan Alka gimana sekarang.” Dengan cepat, Alka meraih lengan Delma. “Delma, udah.” Delma menurunkan tatapan, menatap Alka tepat di mata. “Aku enggak capek, kok. Beneran.” Alka kembali menatap Alden sambil mengulas senyum. Diam-diam, tangan Delma terkepal kuat di sisi tubuh. Ia merasa geram. Entah pada siapa spesifiknya. Namun, Delma lagi-lagi hanya bisa diam, membiarkan apa yang mau Alka lakukan atau katakan. “Tapi, apa yang Delma bilang ada benernya, sih, Alk. Kalo misal capek, kamu istirahat aja dulu enggak apa. Nanti kalo kamu---” “Enggak,” pangkas Alka. “Aku enggak capek, kok, Ald. Kalo kamu mau ajak aku pergi, ayo. Lagian, aku juga enggak ngapa-ngapain habis ini.” “Alka,” tegur Delma. Kali ini, ia merasa harus bertindak. Ia tahu betul, Alka sebenarnya merasa lelah, ingin istirahat. Gadis itu yang bercerita sendiri saat masih dalam perjalanan pulang ke indekos tadi. Namun demi Alden, Alka malah mengatakan hal yang sebaliknya. Alka balas menatap Delma dengan raut serius. “Delma, aku udah enggak capek. Jangan larang aku, ya. Kamu inget, 'kan, apa yang pernah aku bilang ke kamu waktu di kereta kemarin?” Delma mendengkus pelan. “Please, ya?” rengek Alka. Wajahnya terlihat memelas pada Delma. Alden memerhatikan dua bersahabat yang ada di hadapannya. Ia yakin 100% jika Alka akan memihak padanya. Ia juga yakin, Delma untuk ke sekian kalinya akan mengalah demi Alka. Dalam hati, Alden tersenyum penuh kemenangan membayangkan terjadinya hal tersebut. Delma mendengkus pelan. Ia membenarkan letak tas yang tersampir di bahu kanan, lantas menatap datar ke arah Alka. “Ya, terserah kamu kalo mau pergi sama Alden. Tapi, inget,” Delma menatap Alka dengan intens, “jangan lupa kabarin mama kamu dulu kalo kamu udah sampe di kos.” Alka langsung tersenyum semringah. Gadis itu merasa senang dengan jawaban yang diberikan oleh Delma. Segera, ia mengangguk dengan penuh semangat. “Okay! Nanti aku kabarin mama.” “Terus,” Delma beralih menatap tajam Alden, “kamu jaga Alka baik-baik. Kalo sampe terjadi sesuatu sama dia, siap-siap aja.” Alden tersenyum miring. “Santai. Alka bakal lebih aman sama aku, kok.” Delma merasa agak tersinggung dengan kata yang ditekankan oleh Alden baru saja. Lebih. Itu seolah membandingkan dirinya dengan Alden. “Kalo gitu, kita pergi sekarang?” Pertanyaan Alka mengalihkan perhatian Delma dan Alden. Alden lekas mengangguk. “Delma,” panggil Alka sambil menatap Delma. Ia menanggalkan tas dan memberikannya pada laki-laki itu. “Aku nitip tas, ya. Tolong masukkin ke kos aku.” Delma menerima tas tersebut. Ia sama sekali tak merasa keberatan dengan permintaan sahabatnya itu. “Iya, nanti aku masukkin.” Alka tersenyum, membuat kedua matanya terlihat agak sipit. “Handphone-nya udah dibawa, 'kan?” “Udah, kok. Dompet juga udah aku saku.” Delma mengangguk. “Kalo gitu, hati-hati. Inget, jangan lupa kabarin mama kamu.” Alka mengangguk sebagai balasannya. Gadis itu segera mengikuti langkah Alden, duduk di jok motor. Beberapa detik kemudian, Alka dan Alden pergi meninggalkan area indekos. Alka sempat melambaikan tangan pada Delma sebelum benar-benar pergi. Delma membalasnya dengan hal serupa. Laki-laki itu bergeming, menatap Alka dan Alden yang lama-kelamaan mulai menghilang dari pandangan. Jujur, ada rasa cemas di hati Delma saat membiarkan Alka pergi berdua dengan Alden. Bukan, bukan karena cemburu. Akan tetapi, ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Seperti yang sering Agatha pesankan padanya, Alka adalah tanggung jawab Delma. Delma bisa terjerumus dalam keadaan berbahaya andai terjadi sesuatu yang buruk pada Alka. Namun, di balik kecemasan yang sering Delma rasakan, ia selalu berdoa agar nasib baik selalu menaungi sahabatnya sejak kecil. BERSAMBUNG ke PART 16 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN