Part 16 - Video Call

1274 Kata
DI tengah perjalanan, Alka samar mendengar suara dering ponsel. Gadis itu mengambil ponsel di dalam saku kardigan. Kedua mata gadis itu membulat sempurna ketika membaca nama kontak yang muncul di layar. Mama. Alka buru-buru menepuk bahu Alden dari belakang secara bertubi-tubi, meminta agar berhenti sejenak Alden hampir saja kehilangan konsentrasi berkendara karena tepukan dari Alka. “Kenapa, Alk?” tanya sambil menengok Alka dari balik bahunya. “Berhenti bentar. Mama aku telepon. Mana ... video call lagi.” Mendengar hal tersebut, Alden menurunkan kecepatan sepeda motor dan menepi. Alka menatap layar ponsel yang masih menyala, menampilkan notifikasi panggilan video dari Agatha. “Kok, enggak kamu angkat? Kan, kita udah berhenti.” “Gimana aku mau jawab video call-nya? Yang ada mama nanti curiga kalo aku lagi di luar, bukan di kos. Mama pasti marah, terus nasihatin aku.” Alden termenung, memikirkan solusi dari kebingungan yang tengah dialami pacarnya. Laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri. Ia teringat sesuatu. “Ah, aku punya temen yang tinggalnya di sekitar sini. Mau ke sana aja? Pinjem kamarnya bentar biar mamamu enggak curiga.” Alka menimbang saran dari Alden. Beberapa detik berpikir, akhirnya gadis itu mengangguk. Ia setuju dengan saran yang diajukan Alden tersebut. Ya ..., setidaknya itu lebih baik daripada Alka harus menjawab panggilan video call mamanya di tepi jalan. Alden menyalakan mesin sepeda motor dan kembali melajukannya. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua tiba di sebuah rumah bergaya sederhana dengan d******i cat berwarna abu-abu. Sepeda motor Alden berhenti di pekarangan rumah tersebut. “Ini ... rumah temen kamu, Ald?” tanya Alka sambil turun dari sepeda motor. Alden melepas helm di kepala, lalu mengangguk, membenarkan pertanyaan pacarnya. Tangannya terjulur ke arah Alka, melepaskan helm yang membungkus kepala gadis itu. Alka sempat tertegun akan perlakuan Alden tersebut. Namun begitu, dalam hati ia merasa senang. “Eh, Al!” Suara seseorang mencuri perhatian Alka dan Alden. Keduanya sama-sama merasa terpanggil karena suku kata pertama pada nama mereka sama, yaitu 'Al'. “Eh, Dav!” sapa Alden. Laki-laki itu turun dari sepeda motor dan menghampiri temannya---seorang pemuda dengan postur tubuh agak berisi, rambut hitam gondrong, dan juga janggut tipis. Namanya Dava, teman satu fakultas Alden di kampus. Alden dan temannya itu melakukan tos tangan. “Eh, siapa, nih, cewek?” bisik Dava pada Alden. Alden tersenyum. Laki-laki itu menoleh dan meminta Alka untuk mendekat padanya. Alka dengan ragu berjalan menghampiri pacarnya. Gadis itu mengangguk takzim seraya melempar senyum tipis pada Dava. “Kenalin, Dav. Ini Alka, pacarku.” Dava mengangguk-anggukkan kepala. “Oh ..., yang sering kamu ceritain itu, ya?” Alden mengangguk singkat. Mendengar hal tersebut, Alka merasa salah tingkah. Ia tidak mengira jika Alden menceritakan dirinya pada teman-temannya. “Nah, Alka, ini Dava. Temen satu fakultas aku di kampus. Dia juga yang punya kafe tempat aku kerja.” Alka manggut-manggut. Gadis itu kembali tersenyum pada Dava. “Alka,” katanya, memperkenalkan diri pada Dava. Ia juga mengulurkan tangan. Dava tersenyum samar dan balas menjabat tangan Alka. Alden berdeham. Tentu, ia tidak ingin Alka dan Dava bersalaman lama-lama. “Ya elah, cemburu amat, Al,” cibir Dava. Alka tersenyum geli melihat ekspresi Alden yang terlihat agak kusut. “Mau apa ke sini? Mau pamer kalo udah punya gandengan?” “Bukan,” bantah Alden. “Aku mau pinjem kamarmu bentar.” Dava membulatkan mata, terkejut. “Heh! Kalo mau gituan sama cewekmu jangan di rumahku, lah. Kayak enggak ada tempat lain aja.” Alka dibuat bingung dengan maksud perkataan Dava. Dahi gadis itu berkerut samar. “'Gituan? Maksudnya gimana?” Dava menatap Alka. “Ya ..., gitu. Masa enggak paham? Gituan maksudku itu---ADUH!” Dava tiba-tiba memekik kesakitan. Pasalnya, kakinya baru saja diinjak dengan keras oleh Alden. Alka sempat terkejut mendengar pekikan tersebut. “Sakit, woi!” sungut Dava pada Alden. Alden melirik tajam Dava. “Hati-hati kalo ngomong di depan pacarku.” Dava hanya meringis kesakitan. “Alka mau jawab video call dari mamanya. Mamanya suka curiga kalo Alka enggak ada di kos. Gitu,” terang Alden. “Oh, gitu. Ya udah. Eh, jangan di kamarku. Kamarku berantakan. Kamar adik aku aja. Adikku, kan, cewek juga. Kebetulan dia lagi pergi, jadi aman.” “Ya, terserah. Yang penting kamar.” “Kamar mandi mau?” Langsung saja Alden memelototi Dava. “Iya, iya, bercanda kali. Yuk, masuk.” Mereka bertiga kemudian masuk rumah Dava. Setelah ditunjukkan di mana letak kamar yang akan Alka pinjam, gadis itu segera memasukinya. Sementara itu, Alden dan Dava menunggu di luar. Alka memilih duduk di tepi ranjang dengan seprai berwarna biru pastel. Gadis itu menghadapkan ponsel tepat di depan wajah. Setelah merasa posisinya tidak mencurigakan, ia segera menjawab panggilan video dari mamanya. “Halo, Ma!” sapanya lebih dulu. “Halo!” Terlihat wajah sang mama di layar ponsel. Wanita itu tampak tersenyum. Senyum tersebut lantas menular pada Alka. “Mama kenapa video call?” “Enggak. Cuma mau mastiin aja kamu, tuh, udah sampe kos apa belum.” Alka tersenyum. “Udah, kok, Ma. Ini, Alka udah di kamar.” “Syukurlah. Soalnya, kamu dari tadi enggak kasih kabar udah sampe kos atau belum. Mama, kan, jadi khawatir.” Alka baru ingat. Ia lupa mau mengabari Agatha jika ia sudah sampai di indekos. Padahal, Delma sudah mengingatkannya tadi. Gadis itu menunjukkan cengiran tak berdosanya pada Agatha. “Maaf, ya, Ma. Alka lupa.” Agatha mendengkus pelan. “Kebiasaan! Kamu masih muda, banyak banget yang dilupain. Jangan sampe kamu lupa sama mama, papa, sama adek kamu, lho, ya.” Alka tersenyum geli. “Enggak segitunya juga kali, Ma.” “Kamu ngangkat video call-nya, kok, lama banget kenapa, sih?” “Euh ..., itu .... Alka ....” Mendadak, Alka diserang rasa gugup. Gadis itu menggigit bibir bawah, berpikir keras alasan apa yang cocok ia berikan pada Agatha. Jangan sampe Mama curiga, batinnya. “Kenapa?” Alka tersentak. Gadis itu tersenyum kikuk dan menggeleng pelan. “Enggak. Tadi, tuh …, Alka ketiduran. Enggak tau kalo handphone-nya bunyi.” Gadis itu harap-harap cemas. Mungkinkah Agatha akan percaya? “Oh, kamu lagi istirahat? Pasti capek, ya? Duh, maaf, ya. Mama ganggu kamu jadinya.” Alka segera menggeleng. “Enggak apa, kok, Ma.” “Ya udah. Mama cuma mau mastiin itu aja. Sana, kalo mau lanjut tidur. Kamu baik-baik di sana, ya.” “Iya, Ma. Mama juga, ya.” “Dah!” "Dah!" Alka menyudahi panggilan video bersama Agatha. Gadis itu kini bisa bernapas lega. Lega karena Agatha tidak curiga sama sekali padanya. Begitu urusannya selesai, Alka berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. Akan tetapi, langkah gadis itu mendadak terhenti ketika sampai di ambang pintu. Rungunya tak sengaja menangkap pembicaraan dari luar kamar. Sepertinya, itu Alden dan Dava. Alka menunda niatnya sejenak dan memilih untuk mencuri dengar obrolan dari dua laki-laki itu. “Selama pacaran, udah ngapain aja sama dia?” Bukan, itu bukan suara Alden. Berarti ... Dava, batin Alka. “Maksudnya?” “Ah, masa enggak paham? Cowok kalo udah deket sama cewek, kan, suka gitu. Ne-kat.” Terdengar tawa sinis, sepertinya itu Alden. “Maksudmu?” “Apa aja yang udah kamu sentuh dari dia? Atas, tengah, atau ... bawah? Oh, atau malah---” BUGH! Alka terkejut mendengar suara tersebut. Gadis itu bergegas keluar dari kamar. Tubuhnya membeku di tempat saat menemukan Dava yang terkapar di lantai dengan darah segar mengalir dari sudut bibir laki-laki itu. Spontan, Alka membekap mulut saking terkejutnya. Tatapannya secara perlahan beralih pada Alden yang berdiri memunggungi dirinya. Sebenarnya, apa yang baru saja terjadi? BERSAMBUNG ke PART 17 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN