*** Hari beranjak sore. Di sebuah gedung di lantai empat, Vivian masih berdiri di sana dengan sesekali meringis. Pasalnya, pria yang dia anggap sebagai kekasihnya itu tak kunjung mau diajak berbicara sejak makan siang tadi. Entah apa yang dirasakan Keano saat menemukan dirinya semeja dengan Raja. Tapi Vivian berhak membela diri. Dia pikir Raja menemuinya karena ada beberapa keluhan tentang penyakit yang pernah diderita remaja itu. Siapa yang tahu kalau Raja tiba-tiba menyatakan perasaan konyol. "Ken~" Vivian memanggil sekali lagi. Tidak ada sahutan. Keano tetap bergeming sambil bersidekap di depan kaca. Muak dengan kebisuan pria itu, Vivian berdiri dari ranjang. Menghentakkan kaki kesal sambil mengerucutkan bibir. Menghampiri Keano. "Ngambeknya jangan kelamaan! Aku udah tolak Raja

