15

1376 Kata
19.42 WIB Meika masih sama seperti tadi pagi, tak banyak bicara dan hanya menjawab seadanya jika ditanya oleh bibi Umi. Hal itu membuat bibi Umi merasa hawatir pada nona muda-nya itu. Sekarang yang dilakukan Meika adalah menonton drama diruang televisi sambil memakan camilan yang ia pegang. Jika saja orang tuanya tak ke Jepang mungkin ia tak akan merasa sesedih ini. Sungguh Meika merindukan orang tuanya terutama sang ibu, jika ibunya ada, ia pasti sudah mencurhatkan semua yang ia alami belakangan ini pada sang ibu dan Meika tak harus susah-susah memikirkannya dan menjadi sedih seperti sekarang ini. Ia benar-benar membenci situasi seperti ini, tak ada orang yang bisa ia ajak menuntaskan keluh kesahnya. Bahkan Siska sekalipun, Meika tahu jika gadis mungil itu pasti sibuk dengan pacar kecilnya itu-siapa lagi kalau bukan Reza. Jadi Meika berasumsi sendiri kalau ia tak mau mengganggu kebahagiaan keduanya yang baru saja menjalin hubungan. Lamunan Meika seketika buyar, karena adanya suara yang menganggetkannya.   "nona bibi pamit untuk ke supermarket sebentar, ya" ucap bibi Umi.   "emz silahkan bi! Tapi, bibi langsung pulang saja jadi tak usah kembali kesini" jelas Meika.   "tap-..."   "tak apa bi! Aku bisa jaga diriku kok" jelas Meika meyakinkan bibi Umi.   "benarkah nona tak apa di rumah sendiri?" tanya bibi Umi memastikan.   "ya bi! Percayalah padaku" yakin Meika dengan senyum yang terkembang diwajahnya untuk meyakinkan bibi Umi(lagi).   "baiklah kalau begitu! Bibi permisi pulang dulu nona" pamit bibi Umi. Setelah kepergian bibi Umi, Meika melanjutkan aktifitasnya lagi-menonton drama dan memakan camilan dengan memikirkan sesuatu. Tanpa ia sadari, ada seorang lelaki yang berdiri dipintu ruang tengah dengan menyenderkan tubuhnya ketembok dan memandang kearah Meika.       "sepertinya itu enak…"   Kata seseorang membuat Meika terkejut dengan suara yang sudah ia hapal diluar kepala. Ia menoleh dan melototkan matanya, karena terkejut melihat jay ada didalam rumahnya. Ya! lelaki itu adalah Jay, Jay Luwis lelaki yang Meika hindari. Jangan tanya ia bisa masuk dari mana, karena tadi ia bertemu dengan bibi Umi diluar dan bibi Umi bilang pada Jay kalau ia akan pulang, tapi ia merasa khawatir pada nona-nya itu. Jadilah bibi Umi menyuruh jay menemani nona-nya sampai gadis itu tertidur-mungkin. Dan Jay menuruti kemauan bibi Umi dengan masuk kedalam rumah besar itu tanpa diketahui oleh pemilik rumah.       "k-kau? Ke-kenapa kau bisa masuk?" tanya Meika.   "bibi yang menyuruhku masuk dan menemanimu" jelas Jay yang sukses membuat Meika melotot dua kali.   "aku tak perlu ditemani olehmu! Jadi pergilah!" usir Meika.   "aku sudah berjanji pada bibimu itu, jadi aku tak akan pergi" kata Jay sambil berjalan mendekati Meika dan duduk disebelah gadis manis itu. Sedangkan Meika sedikit menjauh dari Jay, agar mereka tak terlalu dekat. Suasana menjadi hening seketika, membuat Jay merasa tak nyaman. Akhirnya ia memilih untuk merebut camilan ditangan Meika yang langsung mendapat protes dari sang pemilik camilan.   "kembalikan camilanku" sungutnya.   "jawab dulu pertanyaanku! baru aku akan mengembalikannya" kata Jay.   "pertanyaan apa?"   "kenapa kau menjauhiku?" tanya Jay membuat Meika kembali keposisinya dari berusaha merebut camilannya menjadi duduk ditempatnya kembali.   "aku tak menjauhimu" jawab Meika lirih.   "tatap orang didepanmu ini nona Mei!" perintah Jay.   "aish! Aku tak menjauhimu" teriak Meika sambil menatap Jay.   "lalu kalau kau tak menjauhiku kenapa waktu aku mengajakmu latihan kau tak bisa?" tanya Jay (lagi).   "karena aku memang tak bisa" ketus Meika.   "apanya yang tak bisa? Buktinya kau sekarang hanya menonton drama dan memakan camilan nona Mei" kesal Jay-sepertinya jay mulai naik darah saat ini dan Meika tak bisa menjawab pertanyaan itu, jadi ia hanya menundukkan kepalanya semakin dalam, tak mau melihat ekspresi Jay yang mungkin bisa meledak kapan saja.   "tak bisa menjawabnya nona Mei?" sinis Jay yang mampu membuat Meiks kesal.   "aku tak bisa karena aku tak mau tuan Jay" kata Meika.   "benarkah? bukan karena menjauhiku?" tanya Jay tak yakin dengan jawaban Meika.   "aku tak menjauhimu! Sekarang pulanglah aku mau istirahat" usir Meika dan berlalu dari ruang tengah menuju kamarnya, tapi baru saja kakinya meninjak anak tangga pertama tangannya sudah dicekal oleh Jay dan dihimpit oleh tubuh Jay-posisinya itu pegangan tangga,Meika,Jay gitulah bisa bayangin kan ya.   "apa yang kau lakukan tuan Jay?" tanya Meika panik.   "apa? Kau belum menjawab pertanyaanku nona Mei" jelas Jay.   "pertanyaan apa? Semua sudahku jawab" bantah Meika.     Hah...       Jay menghela nafas, percuma saja bicara dengan Meika karena ia tak akan menjawab pertanyaannya tadi. Sedangkan Meika hanya diam memandang Jay tepat dimatanya, tapi berbeda dengan Jay, ia malah memandang bibir Meika. Bibir yang sudah membuat candu baginya dan ia ingin merasakan bibir itu lagi. Persetan dengan taruhan itu yang lebih penting sekarang adalah merasakan bibir cerry Meika. Tak sabar Jay-pun memajukan kepalanya. Sedangkan Meika hanya melihat Jay yang memajukan kepalanya. Ia tak berfikir bahwa Jay akan mencium bibirnya dan yah bibir itu benar-benar disentuh oleh bibir Jay. Dan itu sukses membuat Meika membelalakkan matanya. Dirasa tak ada perlawanan dari Meika, membuat Jay berani melumat bibir itu. Ia melumat dan menjilat bibir itu seakan tak mau membaginya dengan orang lain. Jay mulai memasukkan lidahnya kedalam goa hangat Meika.       "eengh" Meika melenguh dengan tindakan Jay padanya.   Ya! Jay tak hanya bermain lidah melainkan juga tangannya yang ia buat untuk mengusap punggung Meika dan meraba d**a Meika. Tak bertahan lama Jay melepaskan tautannya pada Meika.   "aku menyukaimu, Mei" kata Jay membuat Meika membelalakkan matanya terkejut.   "maaf aku tak menyukaimu" elak Meika.   "tapi, kenapa kau tak menolak saat aku menciummu dan menyentuhmu?" tanya Jay sedikit geram dengn jawaban Meika.   "i-itu k-ka- AAAKKHH SUDALAH PERGI SANA AKU TAK MAU MELIHATMU LAGI!" teriak Meika dengan berjalan cepat meninggalkan Jay sendiri didepan anak tangga. Bukan Jay namanya jika tak mengikuti meika sampai kedepan kamar gadis itu.   "kenapa kau masih disini?" tanya Meika saat akan membuka pintu kamarnya dan melihat Jay berdiri disampingnya. Bukannya menjawab Jay malah menarik masuk Meika kedalam kamarnya dan melempar gadis manis itu dikasur miliknya.   "Yak apa yang- k-kau mau a-apa?" tanya Meika terbata saat Jay mulai merangkak naik keatas tubuhnya, mengungkungnya dengan kedua tangan kokohnya. Tak menjawab pertanyaan Meika, Jay langsung mempersatukan bibir mereka lagi. Kali ini dengan penuh nafsu. Melumat menjilat menggigit dan menggerayangi tubuh Meika dengan tangan satunya. Tak lama lenguhan Meika terdengar, membuat Jay semakin bersemangat untuk melanjutkan aksinya. Setelah bosan dengan bibir Meika, Jay beralih pada leher gadis itu. Berniat memberi tanda disana dengan menjilat dan menggigit bahkan menghisap kuat leher tersebut.   "eeeenggggaaaaahhhhhhh" desah Meika saat Jay menghisap lehernya dan menyentuh area bawahnya yang masih terbungkus celana dalam. Tapi, kemudian Meika merasa kecewa dengan berhentinya aksi Jay. Membuat Jay tersenyum geli melihat raut Meika yang berubah kecewa.   "kenapa hmz?" tanya Jay. Alih-alih menjawab Meika malah mengalihkan pandangannya dari Jay.   "dengar Mei, aku tak akan mengulanginya lagi! Aku mencintaimu dan aku menginginkanmu sekarang" ucap Jay penuh penekanan dan sukses membuat Meika menatapnya kembali.   "aku tak peduli dengan taruhan itu, aku menginginkanmu sekarang" jelas Jay yang langsung merobek kaus yang dipakai oleh Meika. Sedangkan Meika sendiri merasa terkejut dengan ucapan Jay, jadi benar ia hanya sebagai bahan taruhan antara Jay dan Sandi. Setelah sadar dari lamunannya, Meika berusaha mendorong tubuh Jay dari atas tubuhnya. Tapi, sayang itu tak membuahkan hasil karena tubuh Jay lebih kuat darinya.   "eeuungghh le-leepaaasshhhh Ja-Jay aaahhhh" pinta Meika membuat Jay melepaskan bibirnya dari p******a Meika.     "apa?" tanya Jay tak suka kegiatannya terganggu.   "taruhan itu?" tanya Meika sedikit ragu.   "ya! Maaf membuatmu sebagai bahan taruhan, tapi percayalah aku mencintaimu Mei" jelas Jay meyakinkan Meika pada dirinya.   "kenapa kau-.."   "maafkan aku, Mei…..Sandi yang mengajakku" potong Jay dengan memeluk tubuh Meika yang mulai bergetar, karena menangis. Jay memeluk Meika erat dan menenangkan gadis itu agar berhenti menangis. Dirasa tangisan itu akan lama, Jay menangkup pipi Meika dan berkata,   "dengar! Aku tak peduli lagi dengan taruhan itu yang aku pedulikan hanya kau karena aku mencintaimu" jelas Jay.   "ta-tapi-.."   "percayalah padaku kali in, Mei" yakin Jay pada keraguan Meika.   "bisa kita lanjutkan lagi?" tanya Jay tenang membuat Meika memukul d**a Jay dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Jay tersebut. Dengan itu Jay melepaskan pakaiannya dan menyisakan celana dalamnya. Dan betapa terkejutnya Meika dengan isi didalam kaus yang Jay buang-roti sobek-. Sungguh Meika tak menyangka kalau tubuh Jay akan terbentuk dengan sangat bagus, abs yang terbentuk diperutnya dan d**a yang menonjol, mengundang Meika untuk menyentuhnya. Jay yang melihat keterkejutan Meika itupun mengangkat tangan gadis manis itu untuk menyentuh perut dan dadanya.   "kau suka?" tanya Jay.   "hmz! Aku pikir kau tak memiliki ini semua" jawab Meika sambil meraba-raba perut Jay.   "banyak yang bilang begitu, ta-aaaah" ucapan Jay terpaksa tergantikan dengan desahan, karena Meika tak lagi menyentuk perutnya melainkan miliknya. Dan itu sukses membuat Jay melayang. Dan malam ini mereka lalui dengan sebuah malam panas untuk pertama kalinya bagi Meika karena gadis itu sangat menjaga miliknya untuk orang lain, tapi entah kenapa saat Jay mengajaknya malah membuat pertahanan Meika luntur dan menyerahkan tubuhnya pada Jay.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN