14

1794 Kata
Jay melemparkan kotak berwarna biru keranjangnya, pasalnya ia ingin memberikan kotak itu pada Meika tadi, tapi apa yang ia dapat malah pemandangan Sandi yang memberikan hadiah untuk Meika dan gadis manis itu memeluk Sandi dengan begitu eratnya. Sungguh pemandangan yang membuat hati Jay terbakar amarah. Kali ini ia melemparkan ponselnya keranjang-sepertinya Jay kita benar-benar marah. Lalu apa artinya percakapannya tadi dengan Sandi. Ia benar-benar tertohok oleh kenyataan bahwa Meika hanyalah bahan taruhannya bersama Sandi. Jika ia bisa memutar waktu dan menghentikan waktu dimana tidak ada Meika dihidupnya, mungkin tak akan seperti ini jadinya, tak ada taruhan konyol bersama mantan sahabatnya itu dan tak ada rasa cemburu yang hinggap didirinya-ups cemburu, Jay cemburu yang benar saja manusia es itu cemburu dengan Sandi dan Meika tadi pagi.   "sial!" kesalnya.     "tuan muda……anda ditunggu tuan besar dimeja makan" teriak maid di rumahnya.   "aku tak nafsu makan jika ada dia" jawab Jay membuat seseorang yang dipanggil ‘dia’ itu menatap sendu kearah pintu putih itu.   "tapi, taun muda" paksa sang maid.   "aish, baiklah" kesal Jay yang pada akhirnya membuka pintu dan terkejutlah dia dengan orang yang ada disebelah maid itu.   Jay tak menghiraukan wanita itu, ia langsung berjalan melewatinya menuju lantai bawah tepatnya keruang makan.   "untuk apa kau mengajakku makan bersama?" tanyanya tak mau basa-basi ditambah dengan nada dinginnya.   "duduklah" pinta sang ayah yang hanya langsung dituruti oleh Jay. Wanita yang tadi ia temui didepan pintu kamarnya, kini duduk didepannya.   "hari ini hari valentine kan?"   "hmz! lalu?"   "ayah ingin kita makan bersama hari ini"   "baiklah" Jay mulai mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang sudah ada dimeja makan tersebut. Diikuti oleh dua orang lannya. Mereka bertiga benar-benar makan bersama dengan keheningan yang menyelimuti mereka. Jay tak mempermasalahkan hal itu karena ia terlalu biasa dengan suasana hening, bahkan saat bersama Meika saja sering melakukan ini. Mengingat Meika membuat Jay berhenti mengunyah makanannya.   "kau kenapa?" tanya wanita yang ada didepannya.   "bukan urusanmu!" jawab Jay dingin.   "Jay, bersikaplah sopan pada ibumu" pinta ayahnya.   "dia bukan ibuku, ibuku sudah meninggal"   "tapi-…"   "aku tak pernah menganghapnya sebagai ibuku, ayah….jadi bersyukurlah aku masih di rumah ini dengan kalian" kata Jay mulai meninggikan nada bicaranya.   "aku tak menyuruhmu te-..."   "sayang" potong wanita itu sambil memegang tangan suaminya yang ada diatas meja.   "jadi ayah ingin aku pergi, baiklah aku akan pergi dari sini" balas Jay sinis dan mulai melenggang pergi dari meja makan menuju kamarnya.   "kau tak boleh begitu padanya, sayang….lihat dia" jelas sang wanita yang langsung mengikuti pemuda itu menuju kamarnya.   "jangan pergi, sayang….ayahmu tak serius dengan ucapannya" jelas anita itu didepan kamar Jay yang terbuka.   "jangan panggil aku, sayang…..aku bukan anakmu….jalang" tegas Jay,   Plak   Ternyata ayahnya juga mengikuti anaknya ke kamar dan saat mendengar ucapan sang anak yang menyakitkan itu, ia menampar anaknya dengan keras membuat gadis yang berada disana menutup mulutnya dengan kedua tangan-kaget dengan apa yang dilakukan suaminya itu pada anaknya.   "kau senang sekarang! ia menampar anaknya sendiri, aku pergi dari rumah ini" geram Jay.   "tidak dengan fasilitasmu" datar ayahnya.   "baiklah aku berikan kunci mobilku dan uang darimu, tapi tidak dengan pemberian ibuku untukku" jelasnya dengan melenggang pergi, benar-benar meninggalkan rumahnya.   Untungnya Jay memiliki apartemen, jadi ia tak usah repot-repot menumpang di rumah Reza atau rumah teman-temannya yang lain atau bahkan menyewa hotel untuk ia tidur. Disinilah ia sekarang, apartemen bergaya klasik yang ia beli diam-diam tanpa sepengetahuan ayah-nya. Hei kalian ingatkan jika Jay pernah minta apartemen dan sang ayah langsung menyuruh orang untuk membelinya. Awalnya Jay senang dibelikan apartemen, tapi untuk kali ini berbeda karena itu dibeli menggunakan uang ayahnya sedangkan apartemen ini, ia beli sendiri menggunakan uang tabungannya. Meskipun murah dan tidak mewah yang terpenting sekarang ia bida tidur ditempat yang nyaman menurutnya. Sampainya di apartemen miliknya itu, Jay langsung masuk kedalam dan membaringkan tubuhnya yang lelah akibat perdebatan singkat bersama sang ayah tadi dikasur king size apartemennya. Ia tak habis pikir dengan ayahnya yang tak mencegahnya untuk pergi demi wanita seperti itu. Jay tak mau ambil pusing dengan hal itu toh sekarang ia tak akan bertemu wanita itu lagi.   ❇   Pagi ini Meika datang lebih awal dengan wajah yang kusut dan mata yang membengkak, karena ia menangis sambil tidur. Untungnya sekolah masih sepi, sebenarnya sengaja Meika berangkat pagi agar tak ada yang melihat wajahnya yang kusut itu. Ia hampir saja menangis lagi kalau saja sebuah teriakan tak masuk kegendang telinganya.   "PAGI MEI" sapa Siska teman sebangkunya.   "pagi" balas Meika malas.   "hei ada apa dengan wajahmu?"   "tak apa…dan kenapa dengan wajahmu yang tersenyum bodoh itu?" tanya Meika sambil meledek Siska.   "kemarin aku jadian dengan Reza" senang Siska.   "oh! Anak kecil itu" kata Meika malas (lagi).   Saat Siska akan mengeluarkan protesannya, Meika buru-buru pergi dan menghampiri Sandi yang baru saja masuk kelas dan menariknya. Siska yang melihat itu hanya memgedikkan bahu tak mengerti dengan sifat temannya hari ini. Ia merasa Meika aneh hari ini apalagi dengan mata yang bengkak seperti itu.   ❇   Sekarang disinilah mereka, ditaman belakang seperti kemarin.   "ini" kata Meika sambil mengulurkan kotak pemberian Sandi kemarin.   "apa ini?" tanya Sandi tak mengerti.   "aku mengembalikannya padamu”   "kenapa?"   "sepertinya aku tak pantas memakainya jadi aku kembalikan padamu" jawab Meika dengan menarik tangan Sandi dan meletakkan benda itu ditangan lelaki itu.   "maksudku buka-....."   "maaf San, aku tak mau menerima barang dari orang yang tak tulus memberikannya padaku" potong Meika. Belum sempat Sandi bertanya lagi, Meika sudah berlalu dari hadapannya. Meninggalkannya dengan penuh tanda tanya.   ❇   Tak ada yang berani bertanya pada Meika, saat ia masuk kedalam kelas. Bahkan Siska-pun tak berani bertanya padanya. Meika terus diam mendengarkan penjelasan guru sampai jam istirahat berbunyi. Ia masih tak bergeming dari mejanya.   "kau tak ingin ke kantin, Mei?" tanya Siska.   "tidak" jawab Meika singkat.   Siska tak mau bertanya lagi, ia pun pergi meninggalkan kelasnya dan meninggalkan Meika yang masih diam dimejanya. Sebelum suara seseorang terdengar ditelinganya.   "uuh kasian sekali ya ada gadis yang menjadi bahan taruhan oleh dua lelaki sekaligus" katanya sambil terkikik senang.   "maksudmu?" tanya Meika.   "ups aku tak bermaksud mengataiku, Mei"   "kenapa kau tahu hal itu?"   "jika aku yang mengirimimu pesan bagaimana?"   "tak apa! Hanya saja terima kasih telah memberitahuku" kata Meika membuat gadis ramping itu terkejut dan menegakkan duduknya yang awalnya bersandar pada kursi.   "maksudmu?" tanya Rika yang tak mengerti.   "ya! Awalnya aku tak tahu, tapi berkat kau aku jadi mengerti tentang taruhan itu..." meika diam sebentar "...jadi aku bisa menjauhi mereka berdua dan terimakasih telah memberitahuku tentang hal itu Rik" lanjutnya dengan berlalu dari kelas.   Rika yang mendapat penjelasan itu dari Meika merasa terkejut. Seharusnya Meika marah padanya atau lebih tepatnya bertanya padanya, ‘kenapa memberitahukan taruhan itu padanya’ bukan malah berterimakasih padanya. Sungguh Rika tak habis pikir dengan jalan pikiran Meika. Tapi, disisi lain ia merasa senang kalau Meika menjauhi Sandi, ia jadi bisa mendekati Sandi tanpa gangguan Meika lagi. Kemudian ia tersenyum senang dengan pemikirannya itu.   ❇   Pulang sekolah. Meika masih dalam kondisi yang sama. Bahkan ia tadi tak masuk saat pelajaran terakhir berlangsung. Sekarang ia berjalan menuju parkiran bersama dengan Siska, tapi lagi-lagi ia tetap diam tak ingin berbicara sesuatu.   "hai kak" sapa Reza.   "aish kalian mengagetkan kami saja" sungut Siska pada kelima lelaki yang baru saja datang itu.   "maaf”   “oh, kak Mei dimana kalungmu kemarin?” tanya Jacop pada Meika.   "aku mengembalikannya" jawab Meika malas.   "wah sayang padahal kalung itu bagus" kata Dimas menyayangkan.   "nanti malam kita lati-..."   "maaf aku tidah bisa Jay" potong Meika pada ucapan Jay.   "ad-.."   "aku pulang dulu Sis" lagi-lagi Meika memotong ucapan Jay dan langsung pergi dari hadapan kekenam orang itu.   "ada apa dengannya?" ini Eric yang bertanya.   "entahlah! Dari tadi pagi ia sudah seperti itu" jelas Siska.   Jay yang tak mengerti dengan sikap Meika itupun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah ia membuat kesalahan kemarin atau ah entahlah Jay tak tahu. Ia tak berniat bertanya pada Siska lebih lanju soal Meika, karena ia tahu itu akan sia-sia karena Siska tak tahu apa yang terjadi pada temannya itu. Jadilah ia bertekat akan pergi ke rumah Meika nanti malam dan menguak semua yang membuat meika berubah seperti hari ini.   ❇   17.30 WIB Kepergian Meika siang tadi membuat Siska merasa khawatir pada gadis itu. Siska heran kenapa tiba-tiba Meika tak seperti biasanya, gadis yang ceria dan selalu mengolok-ngoloknya jika menyangkut Reza. Tapi, kali ini ia berbeda, seperti orang yang tak punya tenaga, murung, wajah ditekuk, dan tak berbicara, bahkan jika ada yang mengajaknya berbicarapun ia akan menjawab sekenanya. Sungguh hal itu membuat Siska merasakan masalah yang berada didalam diri Meika, membuat Siska memikirkan "masalah apa yang sedang dihadapi Meika" "kenapa dengan gadis itu" "sepertinya ia menghindari Jay" dan sebagainya, begitulah ia memikirkan Meika. Sampai-sampai lelaki disebelahnya ia abaikan.   "jangan memikirkan kak Mei terus dong, kak" rengek lelaki itu pada Siska.   "diam kau Julius Reza" bentak Siska.   "aishh baiklah"   Ya! Tadi setelah kepergian Meika, Reza mengantar Siska pulang ke rumahnya, ia berniat untuk tinggal sebentar di rumah kekasihnya itu setelah sampai. Tapi, apa yang ia dapat di rumah itu. Siska yang setibanya didepan rumah langsung keluar dari mobil Reza dan berjalan masuk kedalam rumah. Hal itu membuat Reza sedikit berlari agar tak ketinggalan oleh kekasihnya itu. Meskipun ketinggalan ia juga dapat masuk kedalam rumah Siska, toh rumah itu tak dikunci oleh sang pemilik. Tapi, kali ini situasinya berbeda, sejak dimobil tadi Siska melamun dan Reza tahu penyebab keksaihnya itu melamun-siapa lagi kalau bukan Meika teman sebangkunya. Reza kira hal itu tak akan terjadi ketika mereka sudah memasuki ruumah, tapi dugaannya salah gadisnya itu mengulang kembali acara melamunnya yang tertunda dimobil tadi. Reza sudah merasa frustasi dan ia langsung saja menghubungi kakak tersayangnya itu-Jay.   "YAK! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAK MEI, KAK?" tanyanya to the point.   "bisa tidak kau tak berteriak, Za"   "aissh kakak jawab saja"   "aku tak membuat kesalahan"   "apa dia tahu kalau kakak dan Sandi menjadikannya sebagai bahan taruhan?"   Siska yang mendengarkan Reza itu langsung mendongak dan menatap kekasihnya yang sedang menelfon itu.   "apa kau tadi bilang Meika jadi bahan taruhan?" Reza yang terkejut dengan pertanyaan Siska itupun tak bisa berkata apapun. Lalu ia teringat jika sambungan telfonnya belum ia matikan.   "aku tak mau tahu kak, kau harus menjelaskannya kepada kak Mei"   Dengan kalimat itu Reza langsung mematikan sambungan telefonnya dan menatap Siska yang masih berdiri didepannya dengan kilatan penjelasan.   "maksud perkataanmu tadi apa?" tanya Siska kembali.   "eemz begini kak-..."   "benar jika Meika menjadi bahan taruhan Jay dan Sandi?" potong Siska.   "i-iya kak"   "kenapa kau tak bilang dari awal Julius Reza?"   "a-aku tak boleh bicara hal itu dengan siapapun kak"   "termasuk aku?" tunjuk Siska pada dirinya sendiri. Reza hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Siska.   "antarkan aku ke Jay sekarang!" perintah Siska.   "k-ka-kau ma-mau a-apa?" tanya Reza gagap.   "aku mau menghajar anak itu"   "kak dengarkan aku dulu-..."   "aku tak butuh penjelasanmu, Za!" bentak Siskadan mulai berbalik, berniat keluar dari rumahnya sebelum tangan Reza membalikkan tubuh mungil itu dan memojokkannya kedinding rumahnya. Siska sedikit mengaduh dengan apa yang dilakukan oleh Reza padanya.   "dengar kak….sebenarnya bukan kak Jay yang menjadikan kak Meika sebagai bahan taruhan tetapi Sandi yang mengajak kak Jay untuk taruhan mendapatkan hati kak Meika" jelas Reza pada Siska.   "kalau begitu antarkan aku ke rumah Sandi"   "aku tak tahu rumahnya" final Reza   "aku tak bisa diam saja jika temanku diperlakukan seperti itu, Za"   "aku mengerti kakak sangat marah mendengarnya, tapi aku sudah menyuruh kak Jay untuk menjelaskan semua kepada kak Meika"   "kenapa harus Jay?" tanya Siska sambil berfikir.   "karena kak Jay mulai menyukai kak Meika" ucap Reza membuat Siska terkejut.   "darimana kau tahu?"   "entahlah, sekarang kita serahkan saja semuanya pada kak Jay, kak" kata Reza sambil tersenyum penuh arti kearah Siska. Siska yang melihat senyum Reza malah merasa takut dibuatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN