13

1766 Kata
Sekolah. Siska hari ini berangkat sendiri naik bus, tak ada yang menjemputnya-Meika maupun Reza, mereka tak menjemputnya. Tapi, ngomong-ngomong soal Reza, beberapa hari ini ia tak terlihat oleh penglihatan Siska membuat gadis mungil itu sedikit khawatir-hanya sedikit tak lebih dari itu jika kalian tak percaya. Siska sih senang-senang saja ada Reza disampingnya, tapi ia agak sedikit risih dengan rayuan atau gombalan yang Reza lontarkan padanya. Kadang hal itu membuat pipi Siska merona dengan gombalan-gombalan receh milik Reza. Tak sedikit ia merasa senang karena ada Reza disampingnya. Entahlah kemana mereka ia beberapa hari ini, Siska tak tahu dan dia tak peduli dengan Reza yang tak menjemputnya, tapi dalam diri Siska, gadis mungil itu merasa kesepian karena tidak ada rayuan dari anak itu-Siska baru sadar kalau ada yang hilang. Sampainya di kelas ia melihat Meika yang sudah duduk dibangkunya.   "hai Sis" sapa Meika ceria.   "hai" jawab Siska malas.   "kau tampak tak semangat hari ini?"   "hmz"   "aish kau ini tak ada jawaban lain apa?" sungut Meika yang tak dapat jawaban apapun dari Siska. Kemudian hening seketika dengan Meika yang merasa aneh dengan sifat Siska dan Siska yang berjalan keluar kelas yang tentu saja diikuti oleh Meika dari belakangnya. Sampainya dilemari penyimpan barang Siska mulai membuka lemarinya. Saat membukanya betapa terkejutnya Siska dengan adanya bunga mawar merah dan coklat didalamnya tak lupa juga stiky note yang menemani dua barang itu. Lalu Siska mengambilnya dan membacanya.       Happy Valentine Day kak Siska Aku mencintaimu.   "wow dapat coklat dan bunga ya! Dari siapa?" tanya Meika mengagetkan Siska.   "aish kau ini! Mengagetkanku saja" sungut Siska.   "dari Reza ya?"   "diam kau!"   "tapi wajahmu memerah asal kau tahu" kata Meika yang berlalu pergi meninggalkan Siska yang memegangi wajahnya merasa malu karena ketahuan oleh Meika. Ia ingin protes dan membalikkan badannya kearah Meika pergi namun tak ia dapati gadis manis itu disana melainkan siswi lain yang menuju kelasnya.   "kemana gadis itu?" tanya Siska pada dirinya sendiri.         Kali ini Meika pergi ketaman belakang sekolah duduk dibawah pohon yang rindang dengan ditemani musik yang mengalun dari ponselnya melalui aerphone miliknya. Sebenarnya ia sedikit iri dengan Siska yang mendapat bunga dan coklat dari seorang lelaki. Ia tak pernah mendapatkan itu selama hidupnya "bagaimana bisa mendapatkannya kalau pacar saja tak punya" ia menggerutu kecil, tapi kemudian ia sedikit teringat tentang Jay yang sudah tiga kali menciumnya dan itu adalah ciuman pertama, kedua dan ketiganya. Ya! Selama ini tak ada lelaki yang dekat dengan Meika apa lagi sampai menciumnya seperti itu. Sungguh itu baru pertama kali Meika rasakan. Dan lagi, saat Jay menciumnya, ia merasakan debaran jantung tak normal dan wajah yang merona jika Jay menggodanya. Sekarang saja ia sudah merona akibat mengingat hal sekecil apapun yang ia lakukan bersama Jay belakangan ini.   "kau sedang apa disini?"   Nyanyian Meika terpaksa terhenti dengan kalimat yang dilontarkan Sandi padanya, membuatnya mendongak menatap Sandi yang berdiri.   "ini" Sandi menyodorkan kotak kecil yang entah apa isinya.   "apa ini?" tanya Meika menerima kotak itu dan membolak-balikkan kotak tersebut.   "buka saja kalau kau penasaran" perintah Sandi.   Meika yang penasaran dengan isinya pun membuka kotak itu dan-   JRENG-eh gak ding   "wow ini untukku?" tanya Meika sambil mengangkat kalung pemberian Sandi.   "ya! Happy Valentine Mei" ucap Sandi yang membuat Meika terkejut. Ia mendapatkan kado pertama dihari valentine. Sungguh Meika senang dengan hal itu dan reflek memeluk Sandi dan mengucapkan terima kasih pada lelaki itu. Tanpa mereka ketahui ada yang menatap mereka dari atap sekolah dengan memegang kotak kecil berwarna biru yang entah isinya apa-authorpun tak tahu.   "kak Jay sedang apa disini?" tanya lelaki yang baru datang dan menganggetkan Jay-oh ternyata yang memandang mereka(Meika dan Sandi) adalah Jay Luwis, si lelaki dingin di Sekolah.   "tak ada apa-apa" jawabnya sambil berusaha menyembunyikan kotak yang ia pegang.   "kakak menyembunyikan apa?" tanya lelaki itu lagi.   "yah Jacop kau bisa tidak jangan bertanya terus" sungut Jay.   "upss maaf kak….habis aku penasaran kakak sedang melakukan apa disini pagi-pagi" cengir Jacop -lelaki yang masuk tadi.   "sudah sana pergilah!"   "tidak mau, lagi pula ini tempat kita….oh ya kak apa kau tak mengucapkan valentine pada kak Meika?"   "bukan urusanmu anak kecil" balas Jay yang langsung melenggang pergi meninggalkan Jacop.   "ternyata kau menyiapkannga ya kak" gumam Jacop sambil tersenyum misterius.   ❇   Pulang sekolah. Seperti biasa Meika dan Siska berjalan bersama tanpa Rika. Wow tumben Rika tak berjalan bersama mereka. Entahlah gadis satu itu kenapa akhir-akhir ini sedikit berbeda. Misalnya saja saat diajak Siska ke kantin, dia akan menolaknya dengan alasan ingin ke perpustakaan dan begitu seterusnya sampai hari ini. Mereka berdua tak mengambil pusing tentang masalah itu toh mereka bertiga memang tak seakrab itu. Jadilah Siska dan Meika pulang berdua dengan Meika yang mengantar Siska pulang.   "KAK SISKA" teriak seorang lelaki menghentikan langkah kedua gadis itu   "oh Reza" kata Meika sambil melirik Siska yang membawa bunga mawar dan coklat pemberian Reza.   "eemz kak, apa aku boleh pinjam kak Siska sebentar?" tanya Reza pada Meika.   "memangnya aku barang" sungut Siska tak terima dengan ucapan Reza.   "aish dia bertanya padaku bukan padamu, bodoh.." sungut Meika pada Siska "...boleh asal kau pulangkan dia tepat waktu" tambahnya kali ini mengarah kepada Reza.   "siap kak.." balas Reza senang. Reza langsung menarik Siska pergi dari hadapan Meika. Tak lama setelah kepergian keduanya, Jacop, Dimas dan Eric menghampirinya.   “hei Mei” sapa Eric pada Meika.   “hai”   “mereka mau kemana kak?” tanya Dimas sambil melihat kepergian Reza dengan Siska.   “aku tidak tahu” jawab Meika   "...oh ya kak apa kau sudah mendapatkan hadiah dari kak Jay?" tanya Jacop yang sejak tadi diam menunggu giliran.   "hadiah? Tidak aku malah mendapatkan hadiah dari Sandi" jawab Meika sambil menunjukkan kalung pemberian Sandi pada mereka bertiga.   "wow" takjup Eric.   "tapi, aku yakin kak Jay menyiapkan hadiah untukmu, kak" kata Jacop dan menghiraukan kalung yang ditunjukkan Meika pada mereka.   "tak apa mungkin itu bukan untukku! Ya sudah aku pulang dulu ya" kata Meika sambil berlalu dari hadapan ketiga lelaki yang saat ini saling menatap satu sama lain.   ”kau yakin Jay menyiapkan hadiah untuk Meika?” tanya Eric masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Jacop tadi. Jacop hanya menganggik sebagai jawaban pertanyaan Eric.   “tapi, kenapa kak Jay tidak memberikannya pada kak Mei?” kini giliran Dimas yang bertanya.   “apa dia tahu jika kak Sandi memberikan kak Mei kalung” tebak Jacop dengan mata yang membulat.   “maksudmu?” Eric bertanya penasaran.   “tadi pagi aku pergi keatap sekolah dan melihat kak Jay sedang berdiri didekat pembatas dan aku tidak tahu apa yang lihat karena saat aku datang dia tidak menyadarinya dan saat aku bertanya dia sedikit berjengit kaget” terang Jacop.   “bisa jadi dia melihat Sandi memberikan kalung pada Meika tadi karena saat aku ada di kelas, aku melihat Sandi dan Meika berjalan berdua memasuki kelas”   “sudahlah jangan dipikirkan lebih baik kita pulang” ajak Dimas dan berjalan mendahului kedua temannya.   ❇   Sandi dan Jay saat ini sedang berada di kelas tanpa ada yang berniat pulang. Tapi, Jay yang sudah merasa risih mulai berdiri dan berniat pergi sebelum suara Sandi terdengar.   "tiga hari lagi penentuannya! setelah pelajaran musik berakhir" ucapnya santai tanpa bergeming dari tempat duduknya.   "aku tahu" balas Jay datar.   "kita lihat siapa yang akan mendapatkan Meika……kau atau aku"   "aku tahu dan aku ingin taruhan ini cepat berakhir karena aku sudah tak ingin berurusan denganmu lagi" jelas Jay yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Sandi.       "jadi Meika adalah bahan taruhan Jay dan Sandi..." gumam seseorang tanpa diketahui oleh kedua lelaki itu "...ini lucu sekali dan bagaimana ya kalau Meika tahu hal ini…..untung aku merekamnya" tambahnya sambil tersenyum licik dan pergi dari tempatnya bersembunyi.   ❇   Sampai di rumah Meika langsung menuju kamarnya dan membaringkan dirinya dikasur miliknya. Ia akan memejamkan matanya sebelum suara ponselnya terdengar. Mau tak mau Meika mengambilnya dan melihat siapa orang yang mengganggu acara-mau tidur siangnya. Kemudian ia pun melihat pesan yang tertera dilayar persegi itu yang ternyata adalah pesan suara, tapi Meika tak tahu siapa pemgirimnya karena nomernya tak ia kenal. Meika yang penasaranpun membuka pesan tersebut.   "tiga hari lagi penentuannya! setelah pelajaran musik berakhir"   Meika tahu suara ini. Ia sangat mengenalnya.   "aku tahu"   Ia juga tahu suara ini.   “Sandi Jay” gumamnya dengan masih mendengarkan rekaman tersebut.   "kita lihat siapa yang akan mendapatkan Meika….kau atau aku"   "aku tahu dan aku ingin taruhan ini cepat berakhir karena aku sudah tak ingin berurusan denganmu lagi"   Dan betapa terkejutnya Meika mendengar pesan itu. Tak disangka olehnya Sandi dan Jay melakukan ini padanya, membuat Meika sebagai bahan taruhan yang tak berarti. Memangnya mereka pikir Meika itu apa bisa-bisanya mereka menjadikannya sebagai bahan taruhan seperti itu. Siapapun yang mengirim pesan itu, Meika akan berterima kasih karena sudah memberi tahunya tentang hal yang tak mungkin ia tahu.   "kenapa rasanya sakit hiks..." tiba-tiba Meika terisak setelah mendengar rekaman itu "…aku harus mengembalikan ini" katanya sambil melepaskan kalung pemberian Sandi padanya tadi. Mungkin ia akan mengembalikan kalung itu besok. Tak mau larut dalam kesedihan, Meika meletakkan kalung dan ponselnya diatas nakas dan mulai tidur dengan menenggelamkan wajahnya dibantal.   "Ja-Jay hiks" Gumamnya sebelum benar-benar tidur.   ❇   Sedangkan disebuah kamar di flat terdapat seorang gadis tengah tertawa senang. Akhirnya ia bisa mengirim rekaman percakapan Sandi dan Jay pada Meika. Gadis itu jadi penasaran bagaimana respon Meika setelah mendengarkan percakapan itu dan bagaimana perasaannya jika ia tahu jika ia hanya dibuat bahan taruhan oleh dua lelaki tampan di sekolah.   "aish…kak hentikan tawamu itu" teriak lelaki dari luar kamarnya.   "biarkan aku tertawa Eric" teriak gadis itu balik.   "tapi aku risih dengan tawamu itu nyonya Rika yang terhormat" sebal Eric-lelaki yang berteriak tadi.   "biarkan saja" teriak Rika-gadis yang tertawa.   Tak mau berdebat lebih lama dengan Rika, Eric-pun memilih diam dan pergi dari flatnya itu.   Ya! Sebenarnya yang mendengarkan percakapan Jay dan Sandi tadi adalah Rika, gadis itu merekamnya dan berniat mengirimnya ke Meika agar gadis manis itu tak merasa cantik didekati oleh dua lelaki sekaligus, apa lagi mereka populer di sekolah. Rika tak suka jika Sandi berdekatan dengan Meika, maka dari itu ia memanfaatkan situasi ini untuk menjauhkan Meika dari Sandi. Agar ia bisa mendekati Sandi dengan sepuasnya tanpa merasa terganggu oleh kedatangan Meika disampingnya. Gadis itupun sudah tak bersama Siska dan Meika lagi, semenjak ia tahu kalau Sandi menyukai Meika dan lebih mendekati Meika ketimbang gadis lainnya. Karena itu ia menjauhi kedua gadis itu agar bisa mendekati Sandi dengan sepuas hatinya.   ❇   Disisi lain disinilah Reza dan Siska berada sekarang. Ditaman dengan memakan es cream jumbo yang dibeli oleh Reza tadi ketika mereka baru sampai taman. Sebenarnya Siska yang merengek untuk dibelikan es cream ukuran jumbo, karena ia sedang ingin memakan es cream jumbo. Mau tak mau tak Reza membelikannya es cream dengan ukuran jumbo untuk Siska.   "terima kasih es cream-nya, Za" kata Siska senang.   "sama-sama kak" balas Reza dengan tersenyum juga.   "Za, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu”   ”soal apa?”   “tentang Jay dan Sandi…sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?”   “maksud kakak?”   “ya kau tahulah dia mendekati Meika dan Sandi juga mendekatinya….aku rasa mereka menyembunyikan sesuatu”   “oh soal itu…aku tidak tahu” maaf kak, aku tidak bisa bilang-lanjut Reza dalam hati karena tak mungkin kan jika Reza bilang begitu bisa-bisa Siska menanyakan hal aneh-aneh lagi padanya.   "aku ras....Meika menyukai Jay dan aku takut jika Jay tidak membalas cinta Meika"   “kau bicara apa sih kak, tidak mungkin kak Jay menyakiti kak Meika”   “dalam  diri orang siapa yang tahu, Za” Reza terdiam setelah mendengar perkataan Siska barusan. Ia jadi memikirkan taruhan antara Jay dan Sandi sedangkan Siska menikmati es cream-nya dengan diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN