12

1343 Kata
Setelah mendengar perkataan Reza jika Meika menangis, Jay langsung beranjak dari ranjang uks dan berlari keluar uks untuk mencari Meika. Reza yang ditinggal Jay itupun mengikuti lelaki tampan itu dengan berlari juga. Jay terus mencari gadis itu hingga ia sampai diatap sekolah.   Brak.   Ia langsung membuka pintu atap sekolah dengan kasar membuat ucapan Siska terpotong da kedua gadis yang saling berpelukan itu terlonjak dan menatap kearah pintu yang menampilkan seorang Jay Luwis dengan nafas terengah-engah.   "bisa kau tinggalkan kami" pinta Jay pada Siska yang langsung dipatuhi oleh gadis tersebut. Setelah kepergian Siska dan Reza barulah Jay mendekati Meika dan duduk disebelah gadis manis itu.   "maaf" kata Jay yang langsung mendapat tolehan dari Meika yang menatapnya bingung. "aku tak akan melakukannya lagi" kata jay menjelaskan kebingungan Meika.   "tak apa dan maaf aku meninggalkanmu tadi" cicit Meika. Sebenarnya gadis itu tidak mau memaafkan Jay begitu saja, tapi melihat nafas lelaki itu yang terengah-engah dan keringat yang membasahi wajahnya membuat Meika tahu jika Jay tengah mencarinya.   "hmz" gumam Jay sebagai jawaban.   Tiba-tiba suasana menjadi hening diantara mereka. Sangat canggung membuat Meika merasa tak nyaman hingga ia memberanikan diri memulai percakapan lagi.   "emz kapan kita latihan lagi?" tanya Meika.   "entahlah" jawab Jay.   "karena waktu yang kita dapatkan kurang empat hari lagi"   "bagaimana kalau besok sepulang sekolah dan hari sabtu ini"   "eemz baiklah, kalau begitu aku pergi ke kelas dulu"   Jay hanya diam memandang kepergian Meika (lagi) kali ini tanpa ada air mata yang menghiasi wajah gadis itu, tapi Jay merasa ada yang berbeda dengan senyum yang Meika berikan padanya barusan.   "Aaaarggghh" erang Jay dengan menjambak rambutnya frustasi.   "ingat taruhan itu Jay…..kau hanya perlu membuat Meika jatuh kedalam pelukanmu saja" ingatnya pada diri sendiri. Ya! benar ia hanya butuh Meika menyukainya dan menyerahkan diri untuknya dan ia akan memenangkan taruhannya bersama Sandi dan membuat lelaki tinggi itu menjadi pesuruhnya selama satu bulan kedepan. Hanya kurang dua minggu semua itu akan berakhir dan Jay tak perlu lagi mendekati Meika lagi setelah semuanya selesai.   ❇   Pulang Sekolah. Sandi menunggu Meika diparkiran sekolah. Ia berniat meminta maaf pada gadis manis itu karena perbuatannya tadi. Tak lama orang yang ia tunggu datang dengan kedua temannya, Siska dan Rika. Mengingat soal Rika tadi saat ditaman belakang membuat Sandi sedikit menyesali perbuatannya dengan mendiamkan gadis ramping itu. Kalian tak lupa kan bahwa Sandi satu kelompok dengan Rika dan mereka belum latihan sedikitpun meskipun Rika sudah mencoba untuk mendekatinya-mengajaknya latihan, tapi apa yang ia lakukan malah mengabaikan Rika. Kembali ketujuan awal Sandi. Ia lalu menghampiri mereka bertiga.   "Mei maafkan aku" katanya langsung kepada Meika yang langsung mendapat tatapan penuh tanya dari gadis manis itu.   "untuk?" tanya Meika.   "untuk yang tadi..." gantungnya "...sebenarnya aku tak suka jika kau dekat dengan Jay" lanjutnya.   "oh soal itu.." kata Meika yang juga menggantungkan kalimatnya membuat Sandi was-was "....tak apa aku memaafkanmu kok" tambah Meika dengan senyum manisnya.   "jadi kau mau jalan denganku?" tanya Sandi lagi.   "maaf San, aku harus latihan vokal dengan Jay"   "ah begitu, ya sudah tak apa lain kali saja" balas Sandi yang langsung pergi dari hadapan ketiga gadis itu membuat Rika mengejarnya.   "apa kita tidak latihan vokal juga?" tanya Rika saat ia sudah berada didekat Sandi.   "baiklah, naiklah" jawab dan pinta Sandi yang langsung dituruti oleh Rika.   Sandi-pun mengegas motornya meninggalkan Siska dan Meika yang memandang mereka aneh.   "apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan, Sis?" tanya Meika.   "ya! Sepertinya Rika menyukai Sandi" jelas Siska.   "mereka terlihat cocok benar tidak" Siska menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan Meika.   "KAK SISKA" teriak Reza memanggil Siska dari belakang membuat dua gadis yang masih berdiri ditempatnya itu menoleh kebelakang.   "pulang bersama?" tawarnya pada Siska.   "hey jangan lupakan aku, aku juga ikut dengan kalian" putus Eric.   "YAK! kak kau mengganggu saja" sebal Reza pada Eric.   "hey kau lupa! Kau dekat dengan Siska karena siapa hmz" sungut Eric tak terima yang ditanggapi dengan cengiran oleh Reza.   "sudahlah ayo pulang" ajak Siska.   "lalu aku?" tanya Meika sambil menunjuk dirinya sendiri.   "aah itu ada kak Jay…jadi kakkak pulang dengannya saja ya" putus Reza yang mendapat delikan dari Meika.   "kak antar kak Meika pulang ya" kata Reza saat sudah mendapati Jay ada didepannya.   "tak perlu aku dijemput supirku" balas Meika yang langsung pergi meninggalkan mereka menuju gerbang sekolah.   "kak kejar" pinta Reza.   "biarkan saja" cuek Jay. Reza hanya mendengus melihat respon Jay yang menurutnya menyebalkan itu. Jay tidak memperdulikan kekesalan Reza, ia malah meninggalkan teman-temannya dan Siska yang menatapnya tak percaya. Tak mau pikir panjang Eric, Reza dan Siska pergi ketempat parkir juga diikuti yang lain dibelakang mereka menuju parkiran.   ❇   Hari sabtu telah tiba, Jay benar-benar menepati janjinya, datang ke rumah Meika untuk melanjutkan latihan musik mereka. Masih dengan kondisi yang sama, tak ada siapapun di rumah itu kecuali mereka berdua. Jika kalian lupa, orang tua minhyuk masih berada di Jepang sedangkan bibi Umi sedang cuti karena anaknya sakit, jadilah sekarang hanya ada Jay dan Meika yang duduk disofa ruang tamu dengan menyanyikan lagu yang akan mereka bawakan minggu depan. Tak lama lagupun selesai mereka nyanyikan, Meika sedikit merasa lega karena latihannya sudah selesai dan dia juga sudah hafal lagunya.   "wow Jay, aku tak menyangka kau pintar mengaransemen lagu" puji Meika dengan tersenyum kearah Jay.   "biasa saja Mei" balas Jay sambil meminum jus yang sudah dibuatkan Meika tadi.   Suasana menjadi hening seketika, tak ada yang berniat berucap lagi setelah perbincangan singkat tadi. Jay sibuk dengan ponselnya, sedangkan Meika sibuk dengan pikirannya sambil sesekali memandang Jay dengan unjung matanya. Jay yang merasa dipandang pun menoleh kearah Meika.   "kenapa?" tanya Jay to the point. Meika sedikit berjengit mendengar ucapan Jay yang tiba-tiba.   "apanya yang kenapa,?" tanya Meika kembali.   "kenapa kau melirikku seperti itu? apa aku setampan itu hingga kau melihatku seperti itu?" tanya Jay yang diakhiri kesombongan dalam kalimatnya.   "a-pa a-ku tak me-li-rikmu tu-an Jay" gugup Meika.   "oh ya, benarkah?" tanya Jay lagi, tapi kali ini ia berjalan mendekati Meika, membuat gadis itu sedikit panik.   "ka-u ma-u ap-a?" tanya Meika gugup.   "menurutmu?" bukan menjawab Jay malah balik bertanya dengan santai sambil mengerlingkan sebelah matanya.   Jay terus mendekat kearah Meika, membuat gadis itu memundurkan badannya-kalian tak lupa kan kalau Meika masih duduk disofanya. Jay tetap mendekat dan Meika tetap mundur sampai tubuhnya menatap sandaran sofa, membuat Jay menyeringai dan makin merapatkan tubuhnya ketubuh Meika. Tak lama bibir Jay tepat menempel dibibir Meika. Dirasa tak ada perlawanan dari gadis itu, Jay mulai melumat bibir bawahnya. Begitu seterusnya. Melumat, menggigit, menghisap dan sekarang ia berani memasukkan lidahnya kedalam mulut Meika mengapsen deretan gigi gadis itu dan mengajak lidah Meika untuk bertarung dengan lidahnya. Meskipun Meika merasa asing dengan hal itu, tapi ia tetap membalas lidah jay dengan melilitkan lidahnya. Jay tersenyum dalam ciumannya karena mendapat respon positif dari Meika. Mereka terlibat dalam ciuman panjang tanpa melakukan hal yang lain malam itu.   ❇   Rumah Sandi. Rika duduk disofa ruang tamu dikediaman Sandi, Ya! ia sekarang berada di rumah sandi. Duduk berdua dengan Sandi diruang tamu sambil berlatih nyanyian yang akan mereka bawakan nanti. Mereka sedikit akrab, karena kejadian beberapa hari lalu saat Rika memaksa Sandi untuk berlatih vokal.   "apa kau ingin pulang?" tanya Sandi setelah mereka selesai menyanyikan lagu mereka.   "ya, karena hari sudah malam, San" jawab Rika dengan membereskan peralatannya dan memasukkannya kedalam tas.   "baiklah akan aku antar kau pulang"   "apa tidak apa-apa?"   "tak apa Rik, lagi pula hari sudah malam kan..." jawab Sandi santai sambil mengambil kunci mobilnya "ayo aku sudah siap" lanjutnya mengajak Rika keluar.   Mereka berdua keluar rumah bersama, menuju mobil bersama, bahkan Sandi membukakan pintu mobil untuk Rika. Setelah mereka berdua duduk dimobil, Sandi mulai menjalankan mobilnya keluar dari area rumahnya dan memecah jalan raya kota dimalam hari.       Didalam mobil tak ada percakapan diantara mereka, hanya bunyi klakson yang sesekali terdengar dipendengaran keduamya. Tak lama mereka sampai di flat Eric. Rika-pun turun dari mobil.   "terimakasih San…..kau tak mau mampir?" tawar Rika.   "tak usah Ri…..aku pulang dulu" pamit Sandi.   Kemudian Sandi melajukan mobilnya lagi meninggalkan Rika yang langsung bebalik untuk masuk kedalam flat Eric. sampai didalam flat tersebut, Rika langsung masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan dirinya dri rasa lelah. Ketika ia baru saja membaringkan tubuhnya-   Tok tok tok   -suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Rika dengan malas beranjak dari ranjang dan membuka pintunya dan tampaklah Eric dari balik pintu tersebut.   "ada apa?" tanya Rika.   "kakak diantar siapa tadi?" tanya Eric penasaran.   "kau mengintip ya?" bukannya menajawab Rika malah balik tanya.   "tidak! aku tadi tak sengaja melihat"   "diantar Sandi….kenapa?"   "wow, mahkluk itu mengantar kakak?"   "iya, memang kenapa?"   "tak apa! ya sudahlah selamat beristirahat kak" kata eric mulai meninggalkan kamar Rika. Rika berdecak kesal melihat tingkah sepupunya itu yang menurutnya tak jelas. Ia kembali merabahkan tubuhnya dikasur dan mulai memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN