Meika berjalan menuju keruang guru karena tadi ada yang memanggilnya dan mengatakan kalau ia dicari oleh salah satu guru meraka. Buru-buru Meika pergi keruang guru menemui guru tersebut. Setelah menemui sang guru, Meika-pun kembali ke kelas, tapi saat perjalanan menuju kelas ia mendengar suara gaduh yang berasal dari salah koridor. Karena penasaran dengan suara itu ia-pun berjalan menuju sumber suara dan benar saja didepan sana sedang ada acara tinju(?) mendadak yang ditonton oleh sebagian siswa dan siswi. Meika-pun berjalan mendekat dan sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat. Sandi yang menindih tubuh Jay dan memukuli lelaki itu tanpa perlawanan dari Jay sedikitpun. Tak tega melihat Jay dihajar oleh Sandi akhirnya ia-
"YAK! HENTIKAAAAAAAAAN"
-berteriak dengan sangat keras membuat semua yang ada disana termasuk Jay dan Sandi menatapnya terkejut.
"kenapa tidak ada yang melerai mereka?" tanya Meika kepada siswa siswi yang ada disana, tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya membuat ia kesal dan mengalihkan pandangannya kearah dua lelaki yang membuat keributan.
"apa yang kalian lakukan?" tanyanya pada kedua lelaki itu membuat keduanya menunduk, pasalnya Jay dan Sandi tidak pernah melihat wajah Meika yang memerah marah dan berteriak seperti tadi, tapi hari ini mereka melihatnya.
"kenapa kau memukul Hay, San?" tanyanya pada Sandi.
"dia membuatku kesal" jawab Sandi acuh.
"APA! Hanya karena kau kesal padanya kau memukulnya?" tanya Meika lagi dan diangguki oleh Sandi.
"aku tak menyangka kau seperti itu San dan aku membencimu" kata Meika dengan berjalan mendekati mereka berdua dan menarik tangan Jay menjauh dari kerumunan itu.
❇
UKS.
Meika membawa jay ke uks. Ia ingin mengobati luka Jay yang sungguh sangat parah. Banyak lebam dimana-mana, bibir yang sedikit sobek dan hidung yang mengeluarkan darah. Sungguh itu mengerikan, membuat Meika tak tega melihatnya. Maka dari itu ia menarik Jay agar ia bisa mengobati luka diwajah tampan Jay.
"kenapa kau tak melawan?" tanya Meika memecah keheningan yang begitu canggung diantara mereka.
"hanya tak ingin" balas Jay dingin.
"YAK! Kalau begini bagaimana dengan wajah tampanmu itu" kata Meika kesal.
"huh! Apa? Kau bilang apa tadi?" tanya Jay mulai menggoda Meika.
"apa? Kata yang mana?" menyadari perkataannya Meika merasa gugup.
"bukannya tadi kau bilang aku T.A.M.P.A.N" kata Jay dengan mengeja kata ‘tampan’ diakhir kalimatnya.
"tidak! Kapan aku mengatakannya?" elak Meika membuat Jay menyeringai.
"oh ya? Tapi, tadi aku dengar kau bilang tampan.." yakin Jay "..jadi kau menghawatirkan wajahku ya" tambahnya dengan mengerling nakal.
"i-itu.... Yak! Obati sendiri lukamu aku tak mau lagi" marah Meika dengan melempar kapas yang sudah ia beri obat merah kearah Jay dan pergi dari uks. Tapi sebelum ia benar-benar pergi-
"Auuuw"
-Jay berteriak. Hal itu sukses membuat Meika berbalik menghampiri Jay lagi.
"kau tak apa-apa kan?" tanya Meika khawatir membuat Jay tersenyum menang.
"tak apa! Kau menghawatirkanku ya?" goda Jay lagi.
"aish kau menyebalkan" kesal Meika.
"ya ya maafkan aku, sekarang obati aku" suruh Jay dengan memberikan kapas yang dilempar Meika tadi.
"tidak mau"
"mau obati aku atau-..."
"atau apa?" potong Meika
Cup!
Dengan itu sukses membuat Meika terdiam.
"jadi mau mengobatiku?" tanya Jay (lagi).
"baiklah" cicit Meika dengan menyembunyikan wajah merahnya dengan menunuduk.
"bagaimana kau bisa mengobatiku jika kau menunduk Mei" jelas Jay sambil terkikik geli melihat tingkah lucu Meika.
Meika mau tak mau menegakkan kepalanya kembali dan mulai mengobati luka yang ada diwajah Jay. Sedangkan Jay sendiri tersenyum dengan memandang wajah Meika yang dekat dengannya. Mengagumi wajah yang terpahat apik dengan mata sipit, hidung sedikit mancung dan bibir yang tipis begitu sempurna dimata seorang Jay luwis. Meika sendiri jangan ditanya, ditatap dengan begitu intensnya dengan Jay membuat jantungnya terpompa lebih cepat dan wajahnya juga sudah memerah bak tomat busuk. Tak lama Meika-pun selesai dengan kegiatannya-mari mengobati luka Jay-membuat Meika terbebas dengan detakan jantungnya.
"baiklah kau istirahat saja, aku akan kembali ke kelas" kata Meika.
"tak boleh" cegah Jay cepat.
"yak! Aku bisa ketinggalan pelajaran tuan Jay yang terhormat"
"tidak boleh, kau harus disini menemaniku nyonya Meika yang terhormat"
"ti- apa kau bilang tadi?" ucapan Meika tergantikan dengan pertanyaan saat sadar ucapan Jay barusan.
"tidak boleh kembali ke kelas"
"aaish bukan itu, bodoh"
"oh, maksudmu nyonya Meika yang terhormat?"
"Yak! kenapa kau memanggilku nyonya…aku bukan nyonya nyonya”
Jay hanya tertawa mendengar protesan dari Meika membuat gadis manis itu jengkel dan membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Jay.
“Aauw” teriak Meika ketika tangannya ditarik oleh Jay membuat keduanya jatuh keatas ranjang uks dengan Meika yang berada diatas tubuh Jay.
"aku sudah bilangkan, temani aku" kata Jay lirih yang hanya diangguki oleh Meika sebagai jawaban.
Jay memindahkan tubuh Meika yang berada diatasnya menjadi berada disampingnya. Jay-pun memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Meika yang dihimpitnya dengan tembok dibelakang punggu gadis itu. Lama mereka bertatapan membuat jantung keduanya berdentum menghiasi kecanggungan diantara mereka.
"tidurlah" perintah Meika pada Jay.
"tidak mau, nanti setelah aku tertidur kau pergi" tolak Jay.
"tidak akan"
"benarkah, janji?" tanya Jay yang hanya dapat anggukan dari Meika.
Dengan itu, Jay tersenyum dan mulai memejamkan matanya. Sedangkan Meika hanya diam diposisinya memandang Jay yang sedang tertidur. Entah kenapa ia tersenyum saat melihat kedamaian diwajah Jay tersebut.
"kau tampan Jay" katanya dengan senyum yang menghiasi bibirnya dan-
Cup!
-ia mencium kening Jay sebentar dan mulai memejamkan matanya menyusul Jay dialam mimpi.
❇
Taman belakang sekolah.
Setelah Jay dibawa pergi oleh Meika tadi, Sandi pergi menuju taman belakang sekolah. Ia merutuki dirinya yang membuat Meika membencinya. Ia benar-benar bodoh dengan apa yang ia lakukan beberapa menit lalu.
"Aaaaargh" teriaknya frustasi. Untung saja saat ini masih jam pelajaran jadi tak ada yang merasa terganggu dengan teriakannya itu. Sungguh ia menyesal telah melakukan hal itu, ia pikir Meika tidak akan mengetahui hal itu, tapi dugaannya salah Meika berada disana melihatnya menghajar Jay dan membuat Meika lebih dekat dengan Jay dari pada dirinya. Mungkin setelah ini Meika tak akan mau berteman dengannya lagi. Tapi, ia tak boleh menyerah, masih ada waktu untuk merebut Meika dari Jay. Ia harus meminta maaf pada Meika setelah ini bagaimanapun caranya ia harus dapat maaf dari gadis manis itu. Saat ia sedang asyik melamun dan merutuki dirinya tiba-tiba-
"ini"
-suara seorang gadis masuk kependengarannya membuyarkan lamunan Sandi begitu saja. Ia lalu mendongak menatap orang yang memberikannya minuman.
"untuk menjernihkan pikiran" katanya lagi dengan senyum yang terkembang diwajahnya.
"thank's Rik" katanya mengucap terimakasih.
"sama-sama……aku tadi pergi ketoilet dan melihatmu disini aku fikir kau butuh teman jadi ya aku kemari" jelas Rika saat melihat raut tanya diwajah lelaki tinggi itu.
Suasana menjadi canggung setelah Rika memilih duduk disamping Sandi. Yang ada hanya saling menikmati minuman masing-masing dan angin yang berhembus membuat mereka merasa nyaman.
"disini nyaman ya" kata Rika mengakhiri kecanggungan diantara mereka.
"ya" singkat Sandi.
"kau suka tempat ini?"
"ya begitulah"
"baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ya” Rika beranjak dari duduknya dan meninggalkan Sandi sendirian seperti tadi. Bukan tanpa alasan ia meninggalkan lelaki itu,tapi ia sunggu tidak suka dengan jawaban Sandi yang begitu singkat dan tak bertanya balik padanya. Kan Rika jadi merasa kesal dibuatnya. Awalnya tadi ia ingin menemani Sandi siapa tahu ia bisa membuat Sandi tenang, tapi malah sebaliknya yang ia dapat. Rika hanya ingin mengenal Sandi lebih dekat dari sekedar makan bersama di kantin bersama Siska dan Meika saja. Ia ingin lebih dari itu. Sebenarnya Rika itu menyukai Sandi sejak ia melihat senyum lelaki tinggi itu saat di kantin pertama kalinya, tapi ia juga tahu kalau Sandi menyukai Meika yang entah menyukai Sandi juga atau tidak, ia tak peduli. Rika juga berbohong saat ia bilang kalau ia dari kamar mandi, sebenarnya gadis itu tahu yang terjadi tadi pada lelaki itu. Hingga ia tak tega dan membelikan minuman untuk Sandi dan pergi menemui lelaki itu dan berakhirlah ia pergi lagi meninggalkan Sandi sendiri karena kesal. Sandi yang ditinggal oleh Rika itupun hanya terdiam menatap botol minuman yang tadi Rika belikan untuknya. Ia menghela nafas dan membuka tutup botol itu sebelum menegak habis isinya sampai tak tersisa. Kemudian ia berdiri dari duduknya dan pergi dari taman tersebut.
❇
Jay terbangun terlebih dahulu dari tidur paginya bersama Meika yang masih ada dipelukannya. Ia menatap gadis yang masih tertidur pulas disampingnya itu dengan posisi yang masih sama seperti pertama kali mereka tidur. Wajah damai Meika membuat Jay tersenyum dan tanpa sadar ia membelai rambut panjang Meika lembut, menyilangkan rambut itu kebelakang telinganya. Meika yang merasa terganggu itu pun mulai membuka matanya dan menatap Jay dengan mata sayunya.
"eeng, jam berapa sekarang?" tanya Meika sambil meregangkan ototnya yang kaku karena posisi tidur yang miring membuatnya lelah. Bukan jawaban yang ia dapat malah tatapan tak berkedip Jay yang ia dapat. Jay memandang Meika yang balik menatapnya, jadilah mereka saling bertatap-tatapan tanpa ada yang bersuara. Tak sadar Jay mulai mendekatkan wajahnya kewajah Meika membuat gadis itu sedikit merasa gelisah, Jay tak peduli dengan kegelisahan Meika yang penting ia dapat merasakan lagi bibir yang sudah membuanyat candu itu. Sekarang bibir keduanya sudah menempel dengan sempurna. Jay mulai melumat bibir bawah Meika dan tak ada perlawanan dari gadis itu membuat Jay lebih berani lagi melumat dan menggigit bibir meika dengan sedikit brutal.
"eeeemmmph" lenguhan keluar begitu saja dari mulut Meika yang masih dilumat oleh Jay, membuat Jay semakin bersemangat menikmati bibir Meika tanpa henti. Ia bahkan tak peduli dengan luka sobek dibibirnya karena pukulan yang ia terima dari Sandi tadi. Meika yang mulai kehabisan oksigen itupun mendorong tubuh Jay membuat ciuman mereka terlepas.
"aku menginginkanmu Mei" kata Jay dengan suara sexy-nya.
Ah aku lupa bilang kalau ruang uks sekarang sedang sepi, penjaga uks sedang tidak hadir karena suatu urusan hari ini membuat uks tak ada yang menjaga. Hal itu dimanfaatkan Jay dengan baik, meski ada atau tak adanya penjaga uks Jay akan tetap melakukan hal yang sama dan menyuruh penjaga uks tersebut pergi dari sana. Siapa yang tak akan menuruti keinginan Jay(anak kepala sekolah itu) supaya ia bebas melakukan apa saja dengan Meika disitu.
Minhyuk yang mendengar perkataan wonho membuat ia merasa gelisah.
"aku tak akan menyakitimu Mei" kata Jay meyakinkan meika yang tampak ragu-ragu.
"ta-tapi k-kita kan be-lum pa-ca-ran Jay” cicit Meika.
"baiklah jika kau tak mau, pergilah!" pinta Jay yang langsung duduk ditepian ranjang melepas pelukannya dengan Meika. Meika yang mendengar itu langsung duduk membelakangi Jay.
"maaf Jay" kata Meika sambil berlari menjauhi uks sekolah, tapi baru saja ia membuka pintu uks untuk keluar ia berpapasan dengan Reza dan Siska didepan pintu. Ia tak peduli dengan mereka dan berlari meninggalkan mereka dan tak mempedulikan teriakan Siska yang memanggilnya. Siska yang tak mendapat balasan dari Meika mulai mengejar gadis manis itu sedangkan Reza masuk kedalam ruang uks menemui Jay yang masih duduk ditepian ranjang.
"kau apakan dia, kak?" tanya Reza to the point.
"tak aku apa-apakan" jawab Jay enteng.
"kalau kau tak apa-apakan dia, dia tak akan menangis kak" geram Reza yang sukses membuat Jay mencelos mendengar perkataan Reza barusan.
“apa katanya tadi? Meika menangis…sial” umpat Jay dalam hati.
❇
Siska terus mengejar Meika sampai gadis itu sampai diatap sekolah yang seharsnya tak boleh ia masuki. Lalu ia mendekati Meika dan bertanya-
"kau tak apakan Mei?” tanyanya yang tak dibalas oleh Meika.
Siska yang tak mendapat jawaban dari Meika akhirnya mendekat dan memeluk gadis manis yang menjadi sahabatnya itu. Sedangkan Meika menjadi lebih terisak dari sebelumnya setelah mendapat pelukan dari Siska.
"a-ku me-menyukainya Sis" isak Meika.
"lalu kenapa kau menangis?" tanya Siska.
"ia me-nyuruh-ku hiks pergi hiks"
"tenanglah Mei-..."
Brak.