10

1197 Kata
Saat ini mereka sudah ada dikedai es cream, Jay langsung memesan es cream kesukaannya dan Meika juga. Mereka duduk didekat pintu masuk dan dekat dengan jendela membuat mereka bisa melihat suasana kota disore hari seperti waktu itu.   "jadi?" tanya Jay memecah keheningan yang sempat terjadi diantara mereka selama beberapa saat.   "jadi apa?" tanya Meika dengan mode bingungnya.   "aish kau ini! Tentang memaafku tadi bodoh" jawab Jay sedikit kesal.   "yak aku tak bodoh tauk" balas Meika tak kalah kesalnya.   "ya ya, jadi bagaimana kau memaafkanku atau tidak?"   "emz bagaimana ya?.." jawab Meika dengan meletakkan tangannya dibawah dagu-pose berfikir. Dan itu sukses membuat Jay terpana seketika. "..baiklah! Karena aku sudah mendapatkan es cream darimu jadi aku memaafkanmu" tambah Meika dengan senyum manisnya. Jay yang melihat itu hanya bisa diam terpesona dengan senyuman Meika, sungguh senyuman itu membuatnya nyaman saat bersama gadis bodoh didepannya ini.   "apa kita bisa latihan di rumahmu hari ini?" tanya Jay setelah ia tersadar kalau Meika sudah tak tersenyum lagi dan memakan es cream-nya dengan kitmat.   "boleh saja" jawab Meika.   "ok, jam 7 malam ya" Meika mengangguk sebagai jawaban dan mereka berdua menghabiskan es cream yang mereka pesan itu.   ❇   Rumah Meika. Mereka sampai di rumah Meika dengan selamat. Sebelum pergi ke rumah gadis itu, Jay mngjaknya ke rumah untuk mengambil tas Meika yang ia simpan di kamarnya. Untung saja saat mereka sampai di rumah Jay tidak ada siapa-siapa kecuali para maid yang bekerja di rumah besar itu. Jay tidak bisa membayangkan jika ayahnya ada di rumah dengan gadis yang biasanya orang tua itu bawa ke rumah. Bisa-bisa telinga Jay panas mendengar pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut orang tua itu. Meika turun dari motor Jay dan bergegas masuk kedalam rumah. Jay memarkirkan motornya dengan rapi digarasi rumah Meika dan bergegas masuk kedalam rumah gadis itu yang pintunya masih dibuka untuknya masuk. Ia duduk disofa yang selama tiga hari ini ia duduki. Meika yang sejak tadi berkutat dengan dapur, kini berjalan karah ruang tamu untuk menyajikan camilan dan minuman untuk Jay. Suasana terasa sangat canggung ketika Meika duduk disofa single yang ada disofa panjang yang Jay duduki.   "mari kita mulai" kata Meika memecah keheningan diantara keduanya.   "baiklah" balas Jay sedikit kaget mendengar suara lembut Meika.   Mereka mulai menyanyikan lagu yang mereka cover hingga lagu itu selesai. Tak hanya menyanyikannya satu kali tapi juga berkali-kali mereka melatih vocal mereka sampai jam menunjukkan pukul 21.30.   "sepertinya aku harus pulang" kata Jay.   "oh ya" balas Meika sambil menengok jam yang ada didinding.   Meika kemudian mengantar Jay sampai kedepan pintu rumahnya. Sedikit lama Jay tak beranjak dari sana membuat suasana canggung(lagi).   "baiklah sampai jumpa besok Mei" pamit Jay sambil mengusak surai hitam Meika yang tergerai rapi, Meika sedikit mencebikkan bibirnya dengan kelakuan Jay merasa jengkel karena rambutnya menjadi berantakan sekarang.   "jangan mencebikkan bibirmu…"   "memang kenapa?" tanya Meika yang langsung-         Cup!   -mendapatkan kecupan dari Jay. Hal itu sukses membuat pipi Meika merona hebat. Meskipun hanya kecupan cukup membuat Meika merona malu membuat Jay mau tak mau tersenyum kearah Meika.   "sampai jumpa besok" kata Jay yang langsung pergi meninggalkan Meika yang terdiam dengan wajah yang merah sampai ketelinga(bayangkan saja tadi ia sudah memerah dan sekaran memerah lagi) mungkin wajahnya seperti tomat busuk.   ❇   Minhyuk pov Pagi ini aku berangkat sekolah sendiri dengan mengendarai supir yang mengantarku. Tapi, aku menyuruh pak Sigit untuk menjemput temanku dulu karena aku ingin meminta maaf padanya dan mengajaknya berangkat bersama ke sekolah, untung saja aku sudah mengirim pesan padanya dan dibalas ‘iya’ olehnya jadi disinilah aku sekarang berdiri didepan rumah Siska sambil membunyikan bel rumah gadis itu. Tak lama ia keluar dengan pakaian rapi sepertiku dan kami-pun berjalan menuju mobilku terparkir.   "Sis emz,, maaf soal yang kemarin" mulaiku dengan sedikit kikuk.   "hmz tak apa Mei aku mengerti kok" balasnya sambil tersenyum kearahku yang membuatku ikut tersenyum juga.   "Jay yang menemukanku dan mengantarku pulang" kataku lagi sambil menaiki mobil, aku sedikit melihat kalau ekspresinya sedikit berubah.   "syukurlah kalau dia mau mencarimu" jawabnya. Aku merasa ada nada tak suka didalam kalimatnya itu, tapi aku tak mau ambil pusing. Akupun menyuruh pak Sigit untuk melajukan mobilku menuju Sekolah. Tak sedikit kami terlibat percakapan dan gurauan tanpa membahas soal Jay lagi. Jika aku tetap membahasnya mungkin Siska akan marah padaku, aku tak mengerti kenapa ia tak suka jika aku dekat dengan Jay. Tapi, aku tak mau berfikiran negatif tentangnya jadi aku membuang jauh-jauh firasat itu dalam diriku. Tak terasa kami sudah sampai didepan sekolah, akupun mengajak Siska turun dan tak lupa aku mengucapkan terimakasih pada pak Sigit. Meika pov end     Meika dan Siska berjalan memasuki sekolah dengan canda gurau, tapi saat dikoridor mereka berpapasan dengan Sandi.   "pagi" sapa Sandi dengan senyum yang terkembang dibibirnya.   "pagi juga San" balas kedua gadis itu.   "apa kau tak apa-apa Mei?"   "ah soal kemarin kau yang tak masuk saat jam terakhir itu…apa kau tidak apa-apa?" jelasnya.   "oh soal itu, iya aku tak apa"   "syukurlah, aku pikir terjadi sesuatu padamu karena kau tak masuk dengan tiba-tiba"   "tak apa San, kau tak perlu khawatir karena aku diantar Jay kemarin" jawab Meika membuat Sandi merubah ekspresinya yang tadi merasa senang menjadi tak bersahabat.   "oh begitu ya, ya sudah aku pergi dulu" Meika menatap kepergian Sandi yang mengarah kearah toilet sekolah. Setelah Sandi menghilang, Meika menyusul Siska yang lebih dulu berjalan kearah kelas mereka. Sampainya dikelas mereka langsung duduk ditempat duduk masing-masing. Meika memandang kebelakang, tapi tak melihat ada tas Jay dibangku lelaki itu dan ia berasumsi jika lelaki mancung itu berada diatap sekolah bersama teman-temannya.   ❇   Jay pagi-pagi sudah berada di sekolah, tapi ia tak pergi ke kelas maupun atap sekolah melainkan pergi keruang kepala sekolah ruangan ayahnya sendiri. Ia menunggu sang ayah datang didalam ruangan tersebut. Tak lama pintu itu terbuka menampilkan seorang lelaki yang masih terlihat tampan diusianya yang ke-49 tahun.   "pagi ayah" sapa Jay.   "oh kau nak, tumben kau keruanganku?" tanya ayahnya basa basi.   "tak usah basa basi ayah, aku kemari hanya ingin memintamu membelikanku apartemen" pinta Jay to the point.   "kenapa kau memintanya?"   "aku tak betah jika harus bertemu dengan wanita itu setiap aku pulang malam dan pagi hari saat aku bangun tidur”   "dia itu ib-...."   "ibuku sudah meninggal ayah….jadi sampai kapanpun aku tak akan menerimanya menjadi ibuku.." poting Jay "..dan aku ingin kau membelikanku apartemen besok" tambahnya yang langsung pergi dari ruangan sang ayah sedangkan ayahnya sendiri tak tahu harus melakukan apa, ia sangat menyayangi Jay jadi ia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang untuk mencarikan apartemen untuk anak satu-satunya itu.       Ditengah jalan Jay tak sengaja bertemu dengan Sandi. Ia tahu kalau mimik wajah lelaki tinggi itu sangat datar saat ini, ia terlihat marah dimata Jay. Saat mereka hampir dekat-         Bught!   -Sandi memukul rahang Jay hingga ia tersungkur.   "YAK APA YANG KAU LAKUKAN HUH!" teriak Jay marah.   "KAU MELUKAI MEIKA DAN KAU JUGA YANG MENGANTARNYA PULANG DASAR b******n TENGIL" teriak Sandi tak kalah keras.   "hey hey jadi masalah itu ya….apa kau lupa San kalau kita masih dalam taruhan untuk mendapatkan hati seorang Meika" jelas Jay membuat Sandi kembali memukul rahang Jay keras.   "apa kau takut kalah, hingga kau melakukan ini padaku, cih pengecut" ejek Jay sambil membuat Sandi marah dan memukuli Jay dengan membabi buta sampai sebuah teriakan menghentikan aksi Sandi tersebut.       "YAK HENTIKAAAAAAAAN!" tbc.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN