Gendis memukul-mukul stir mobilnya dengan begitu emosi. Pemandangan yang baru saja ia dapatkan di rumah Tama membuatnya merasa terluka. Selama beberapa minggu ini ia mendekati Irsyad berharap lelaki itu akan kembali padanya, memelas dengan menceritakan semua kekurangannya. Tapi nihil, lelaki itu tak juga melihatnya seperti dulu. Hatinya telah tertutup untuk Gendis. "Kamu enggak bisa kayak gini sama aku, Irsyad," teriaknya dengan derai air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Ia menambah kecepatan mobilnya. Membelah jalanan dengan sangat cepat, beberapa kali kendaraan di depannya hampir tertabrak. Namun perempuan itu seolah tak peduli ia terus menerobos jalanan seolah miliknya seorang. Dering ponsel ia hiraukan, tak peduli siapa yang menghubunginya. Saat ini otaknya hanya memikirkan cara
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


