Ketika keadaan memaksa kamu untuk menangis, maka menangislah. Bisa jadi setiap tetes air mata yang terjatuh dapat sedikit meredakan sesak yang ada.
***
Tidak akan pernah aku biarkan kata bosan menyapa hari-hari ku. Karena satu detik saja ia menyapa, ia akan melenyapkan harapanku dalam menanti keajaiban yang Maha Kuasa.
Biarkan saja kini bintangku begitu jauh dari jangkauan, cahayanya hanya bisa aku tatap tanpa bisa aku raih.
Aku yakin, kelak bintangku akan datang dan menyapa dengan segala keindahannya.
Jemari Arumi berhenti menulis di buku diary kesayangannya kala panggilan Farhan sangat menggangu pendengarannya.
"Arumi!" Lagi dan lagi teriakan itu tidak akan terhenti sampai Arumi terlihat di depan mata.
"Iya, Mas!" Arumi berlari menghampiri suaminya.
"Tolong ambilkan aku minum, dong. Aku haus!" Kini giliran pacar Farhan yang bersuara. Siapa lagi jika bukan Alifia. Hubungan Alifia dan Farhan sangat di luar batas, mereka tidak malu mengumbar kemesraan di depan Arumi.
"Kamu dengar Alifia minta apa? Cepat ambilkan." Farhan memerintahkan tanpa melirik Arumi.
"Eh, minumnya lemon dingin aja. Jangan pake gula, pake madu aja." Alifia menyuruh tanpa menghargai posisi Arumi di rumahnya sendiri.
"Kenapa kamu tidak mengambilnya sendiri? Apa saya harus menunjukan letak dapurnya dimana?" Arumi hanya berdiri tanpa peduli apa yang akan terjadi atas perlawanannya.
"Kamu hanya pembantu, jadi harus mau dong aku suruh." Alifia mendekat dan memeluk Farhan, mencoba membuat Arumi panas dengan kemesraan mereka.
"Saya disini istri sahnya Mas Farhan. Jadi kamu jaga etika jika ada di rumah ini." Arumi mencoba tenang agar tidak terbawa suasana dan terpancing emosi.
"Kamu yang sopan kalau ngomong sama saya." Alifia mulai meninggikan suara.
"Saya atau anda yang mesti sopan. Apa kamu sadar dengan ucapan kamu. Saya rasa yang tidak sopan itu kamu, kamu tidak tau malu meluk suami saya. Seharusnya kamu sadar, kamu itu tidak lebih dari seorang pelakor." Ucap Arumi dengan santai.
"Arumi, seharusnya kamu sadar. Kamu itu duri dalam hubungan saya dengan Mas Farhan. Aku tau, kamu istrinya. Tapi sayang kamu hanya istri yang tidak pernah di anggap. Mas Farhan itu cintanya hanya sama aku, bukan kamu." Ucap Alifia sedikit mendorong Arumi kebelakang.
"Saya tidak peduli. Karena kemuliaan seorang istri tidak akan pernah tertandingi oleh apapun, termasuk seorang pelakor
sekalipun." Arumi tersenyum kecil kearah Alifia yang kini tengah tersulut emosi.
Alifia mencoba menampar Arumi, namun tangan Farhan mencoba menghalangi perbuatan Alifia.
"Sudahlah, lebih baik kita pergi." Farhan hanya bicara tanpa ekspresi.
"Kenapa kamu melarang aku menampar dia. Dia sudah kurang ajar sama aku, Mas. Jangan bilang kalau kamu sudah mulai mencintai dia." Alifia memberontak dan memukul Farhan.
"Bukan. Di rumah ini banyak CCTV nanti kalau orang tua aku tau dia akan mencoret aku dari daftar ahli waris." Farhan menarik Alifia keluar dari rumah Farhan dan Arumi.
Arumi hanya menatap punggung mereka yang kian menjauh dari pandangan. Kemesraan Farhan dan Alifia seolah sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi untuk Arumi. Keberadaannya benar-benar tidak pernah dianggap sama sekali. Bahkan dengan terang-terangan Farhan dan Alifia mengumbar kemesraan di depan Arumi, seolah sengaja mempertontonkan itu semua. Arumi hanya diam, dia yakin keajaiban Allah itu ada. Tegas bukan berarti diam, berusaha bukan berarti melawan takdir.
***
Cinta tidak pernah salah.
Dia datang bukan pada hati yang salah, namun terkadang keadaan yang membuat cinta terlihat salah.
Arumi tersenyum menatap sebuah rumah yang ada di depannya saat ini. Rumah yang sudah enam tahun ini tidak Arumi kunjungi. Bahkan bertukar kabar dengan pemilik rumah ini pun tidak pernah terjadi antara Arumi dan pemilik rumah.
Arumi berjalan pelan menatap setiap inci rumah ini, memori masa lalu berputar jelas dalam benaknya, termasuk detik-detik ketika dirinya di usir dari rumah ini. Rumah paman dan bibinya.
Arumi menghentikan langkah dan tersenyum kepada seseorang yang sedang asyik melayani pembeli.
"Assalamualaikum, Paman." Arumi mendekat dan mencium tangan pamannya.
"Wa'alaikumussalam. Kamu, Arumi?" Pamannya merasa tidak percaya.
"Iya paman ini Arumi. Bagaimana kabar paman dam bibi sekarang?" Arumi sangat bahagia ketika bertemu pamannya. Karena ketika dia menikah, tidak ada seorangpun dari keluarga Arumi yang hadir. Tidak tau kenapa, Arumi pun tidak pernah mengetahui alasan mereka tidak datang.
"Alhamdulillah, paman sehat seperti yang kamu lihat." Pamannya merasa sangat bahagia melihat Arumi yang nampak sangat sehat dan berpenampilan jauh lebih baik dibandingkan dulu ketika bersamanya.
"Paman Arumi sudah lulus kuliah dua tahun lalu. Ini berkat do'a paman dan bibi. Oh iya, waktu Arumi menikah paman kenapa tidak hadir?" Arumi hanya ingin mengetahui alasan mereka tidak hadir.
"Karena kamu bukan keluarga kita." Ucap bibinya yang nampak baru datang dari pasar.
"Bu!" Pamannya seolah berkata jangan bersikap seperti itu.
"Sudahlah pak, jangan lama-lama menyimpan rahasia, Capek." Bibinya masuk dan menyimpan barang belanjaannya.
"Maksud bibi apa, paman?" Arumi semakin penasaran dengan penuturan bibinya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi sama paman dan bibi sampai tidak hadir?" Sambung Arumi.
"Bilang saja, Pak. Mungkin sekarang waktunya." Ucap bibinya yang datang dan terlihat tidak menyukai Arumi.
"Tidak ada apa-apa, Arumi. Hanya saja menurut Paman, kamu lebih baik pergi dari sini dan jangan pernah kesini lagi." Ucap Pamannya meninggalkan Arumi yang belum mengerti apa maksud ucapan tersebut.
"Paman jangan masuk dulu. Maksud paman apa? Kenapa Arumi gak boleh kesini lagi?" Arumi menggedor pintu rumah pamannya tersebut.
"Paman buka. Arumi gak akan pergi sebelum paman dan bibi menjelaskan semuanya." Sambung Arumi.
Sudah dua jam Arumi menunggu, namun pemilik rumah tidak menampakkan bahwa mereka akan keluar dan membuka pintu. Arumi tidak mau menyerah, dia akan tetap disini sampai mengetahui apa maksud dari perkataan bibi dan pamannya itu.
Waktu sudah menjelang sore dan langit nampak akan menumpahkan bebannya ke bumi namun sang pemilik rumah masih tetap setia diam tanpa sedikit tergerak hatinya untuk membuka pintu dan menjelaskan semuanya.
Waktu menunjukkan pukul lima sore, sebentar lagi senja akan menyapa. Saat itu terlihat pria paruh baya datang menghampiri Arumi dengan wajah yang sulit diartikan.
Dengan tenang Arumi mendengarkan setiap kali ucapan itu terlontar dari mulut pria paruh baya tersebut, yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Nampak wanita paruh baya pun datang dan ikut berbincang diantara mereka. Kejadian itu membuat Arumi lebih semangat menjalani takdir hidupnya, perjalanannya di bumi memang tidak tau akan berakhir kapan dan bagaimana. Hanya saja perkataan paman dan bibinya membuat dia lebih semangat dalam menjalani hari-hari nya kembali.
***
Ku petik bintang di angkasa
Bintang nan tinggi bercahaya
Rasa tak sampai namun aku coba
Akhirnya kini kau dalam genggaman
Apakah cinta tulus ada
Untuk diriku yang biasa
Rasa tak mungkin ku miliki kamu
Namun takdir-Nya kini kau denganku
Kau bintang hatiku
Oh bintang teruslah kau bersinar
Terangi hatiku yang sepi
Bintangku janganlah engkau jauh
Engkaulah pelita hidupku
Bersinar..... Di dasar jiwaku
Tak pernah terbayangkan sebelumnya
Engkau kan jadi milikku
Kau bintang hatiku
Suara tepuk tangan bergemuruh dari para pengunjung restoran yang nampak hadir setelah Arumi selesai menyanyikan lagu yang berjudul Bintangku yang di nyanyikan oleh Putri DA.
Arumi menyanyikan lagu tersebut di restoran bergengsi yang tepat hari ini di buat acara reuni anggota BEM angkatan Arumi ketika kuliah dulu. Kakak tingkatnya yang mengadakan acara reuni Akbar tersebut. Banyak alumni anggota BEM yang hadir termasuk Farhan dan Raihan. Semua orang tau jika sang mantan ketua BEM pasti akan hadir, siapa lagi jika bukan Farhan. Dia juga yang mengusulkan untuk mengadakan acara di restoran berbintang ini.
Arumi terlihat sangat cantik dan anggun mengenakan gamis berwarna marun yang senada dengan pashmina nya. Semua orang terpana dengan suara emas yang dimiliki Arumi.
"Calon artis, nih. Suara kamu bagus banget, sumpah." Seseorang datang dan membawa Arumi duduk di dekatnya.
"Terimakasih, Sasa. Kamu terlalu berlebihan memuji saya." Arumi merasa tidak enak di puji berlebihan seperti itu.
"Oh iya, ini yang datang banyak banget." Sambung Arumi.
"Ya! Soalnya ini kan reuni akbar yang diadakan dari angkatan tiga tahun kebelakang kalau gak salah." Sasa membalas dengan semangat.
"Kamu tau, mantan ketua BEM angkatan kita dulu juga hadir. Ingat gak, yang sombong itu." Sambung Sasa menunjuk seseorang.
"Farhan?" Arumi sengaja memasang wajah tidak ingat.
"Ya, siapa lagi. Dia juga kan yang merekomendasikan restoran ini. Padahal ini restoran mahal banget." Ucap Sasa sedikit terdengar nada tidak suka.
"Eh, Tasya gak hadir ya?" Pertanyaan Sasa membuat Arumi lega, karena dia tidak terus membahas masalah Farhan.
"Tasya lagi melanjutkan pendidikannya di luar negeri, Sa." Arumi membalas dengan rasa bangga, karena sahabatnya itu dapat melanjutkan pendidikannya seperti yang dia cita-citakan dulu.
Arumi berbincang lama dengan Sasa. Sesekali dia melirik alumni yang datang. Semua nampak membawa pasangan termasuk Farhan. Dia membawa Alifia dalam acara reuni Akbar ini. Farhan lebih memilih memperkenalkan Alifia sebagai pacarnya dibandingkan Arumi yang berstatus istrinya.
'Tidakkah kamu sadari jika hatiku hancur, Mas. Aku masih bisa kuat jika kamu tidak mau orang lain tau kalau kita ini suami istri, tapi seharusnya kamu tidak perlu membawa wanita itu untuk meyakinkan semua orang.'
Arumi mengira jika kisahnya tidak akan pernah serumit ini. Perjalanan cintanya tidak akan sepahit ini. Arumi mengira jika Farhan akan mulai mencintainya dan menganggap dia istrinya dengan perlahan karena terbiasa berada di bawah atap yang sama.
'Aku bisa saja mundur bahkan menghilang, Mas. Tapi, aku tidak akan semudah itu membiarkan kamu pergi dan membuat wanita itu dengan mudah masuk dalam rumah kita.Aku akan tetap berdiri tegak meski kamu memberikan beribu badai kepadaku.'
"Perhatian semuanya." Suara itu mengalihkan pikiran-pikiran Arumi. Dia fokus mendengarkan setiap ucapan yang terlontar dari pembawa acara. Nampak pembawa acara mempersilahkan seorang pria tampan naik ke atas panggung. Pria itu mencuri perhatian Arumi.
"Kamu tampan, Mas. Aku juga yakin, sebenarnya hatimu juga tampan laksana wajahmu." Gumam Arumi yang terus memperhatikan Farhan.
Di posisi duduk yang lain, Raihan memperhatikan Arumi. Dia terus memperhatikan apapun yang Arumi lalukan. Dia juga tau jika sekarang Arumi telah tersenyum menatap ke arah Farhan.
"Baik, yang saya hormati para senior saya juga rekan-rekan satu angkatan saya yang telah nampak hadir dalam acara reuni Akbar anggota BEM." Farhan nampak memulai pembicaraannya.
"Saya kira kamu tidak ada disini, nyonya Farhan. Ups, lebih tepatnya seseorang yang berharap jadi nyonya Farhan." Tiba-tiba Alifia datang dan duduk di sebelah Arumi. Arumi hanya diam tanpa berniat menjawab apapun yang keluar dari mulut Alifia.
"Kamu tidak mendengar saya?" Alifia merasa dirinya tidak di anggap.
"Heh, lo itu tuli atau-----"
"Atau apa?" Arumi langsung memotong ucapan Alifia. Dia tidak mau terpancing emosi disini hanya karena ucapan Alifia.
"Sudahlah, saya sedang tidak ingin berdebat bersama kamu." Sambung Arumi.
"Oke, kamu lihat pria tampan yang ada di podium sana. Dia Farhan kan? Dia calon suami Aku. Sebentar lagi kita akan menjadi madu." Ucap Alifia yang sedikit membuat Arumi gerah.
'Astagfirullah, sabarkan aku!' Arumi tidak ingin melayani ucapan Alifia.
"Kalian tau wanita cantik berambut panjang dengan gaun biru disana. Dia bernama Alifia, calon istri saya." Ucap Farhan dengan menunjuk ke arah Alifia.
"Dan wanita berjilbab yang ada di sebelahnya itu adalah PEMBANTU DI RUMAH SAYA." Farhan menekan kata terakhirnya.
"Dia hanya wanita yang miskin, tidak punya apa-apa, dia juga asal-usulnya sangat tidak jelas. Karena saya kasihan, makanya saya tampung dia di rumah." Ucap Farhan yang dibarengi gemuruh sorak Sorai dari temannya.
Banyak alumni yang hadir di sana, mereka ada yang memandang rendah kepada Arumi. Ada yang memandang kasihan, bahkan ada yang memandangnya tanpa henti. Farhan turun dari podium lalu menghampiri Arumi.
"Kalian tau, dia ini terkenal mahasiswi berbakat dan cerdas, bukan? Kita lihat hari ini dia itu hanya menjadi seorang pembantu di rumah saya. Saya juga yakin dia itu gak akan mampu membayar semua makanan ini." Farhan terus merendahkan Arumi. Sedangkan Arumi dia diam menahan gejolak di hatinya akan tidak bergemuruh.
"Mbak!" Raihan memanggil pelayan restoran.
"Catat semua makanan yang di pesan, saya yang akan membayar semuanya. Kecuali pesanan DIA." dengan menunjuk Arumi yang dibalas anggukan oleh pelayan restoran itu.
"Baik semuanya, kalian tau siapa saya? Saya Arumi seorang PEMBANTU. Menurut saya tidak ada yang salah dengan profesi pembantu. Itu pekerjaan baik, mulia. Karena saya yakin, kalian akan merasa kesulitan jika tanpa pembantu. Lantas, apa yang membuat saya malu dan terhina dengan pekerjaan itu?" Arumi mulai membuka suara.
"Karena menurut saya seorang pembantu itu lebih mulia dari pada seorang munafik. Karena kejujuran itu lebih berharga dari pada dunia dan isinya." Ucap Arumi tersenyum ke arah Farhan yang mulai tersulut emosi.
"Kamu melawan saya. Sorry, saya tidak takut." Ucap Farhan dengan mendekat ke arah Arumi yang semakin mundur mencoba menjauh.
"Maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud melawan anda. Saya hanya menjelaskan kepada semua bahwa jujur itu mulia dari pada munafik."
Farhan menarik kalung yang Arumi pakai, dia melempar kasar ke dalam kolam. Arumi memberontak, namun Farhan dengan tega mendorong Arumi hingga dia tercebur ke dalam kolam. Semua orang hanya diam membisu tanpa menolong Arumi satu pun. Arumi mencari kalungnya yang di buang sembarang oleh Farhan, namun usahanya tidak membuahkan hasil.
Arumi pergi dari restoran itu. Hatinya benar-benar merasa hancur seolah berkeping-keping. Perkataan Farhan membuat pertahanan Arumi runtuh. Derasnya hujan seolah menjadi saksi atas kehancuran hati Arumi. Dia menangis sejadi jadinya di bawah guyuran hujan yang deras. Arumi berteriak sekuat tenaga mencurahkan segala sakit yang menghuni hatinya selama ini.
Tanpa dia sadar, dua pasang mata dari tempat berbeda telah memperhatikan Arumi dengan hati yang tidak dapat menerima melihat Arumi di perlakukan dengan tidak baik.
Mungkin saat ini menangis adalah cara yang baik untuk Arumi, agar luka di hati tidak terasa begitu menyakitkan.