~Part 6 ( Hanya Pembantu )

2227 Kata
Allah memberi lebih baik dari yang kita minta, dengan bentuk yang lebih baik dari harapan kita, Dengan cara yang lebih baik dari dugaan kita. *** Tidak ada takdir yang sia-sia. Ketika pena telah di angkat dan tinta telah kering, semua kehendak Sang Ilahi tidak bisa kita pungkiri lagi. Jangan meratapi nasib yang menimpa, karena takdir tidak akan pernah berdusta. Diri selalu merasa paling tersakiti kala takdir seolah tidak pernah memihak pada diri, padahal Sang Maha Kuasa tidak akan pernah menimpakan suatu kejadian tanpa hikmah yang luar biasa dibalik kejadiannya. Arumi sudah terlihat rapi dengan penampilan yang sangat anggun. Dia menyiapkan sarapan seperti biasa untuk Farhan dan dirinya. Farhan berjalan dengan menenteng tas kerjanya, sesekali dia nampak melirik ponsel yang ada di genggaman. "Sarapan dulu, Mas." Arumi menyambut Farhan dengan sangat ramah. "Kamu sudah rapi, mau kemana?" Farhan duduk dan sedikit minum air putih. "Iya Mas, hari ini aku-----." "Mau jalan dengan selingkuhan?" Farhan langsung memotong kalimat Arumi. "Aku gak punya selingkuhan, Mas." Arumi duduk dan memulai makan. "Jangan sok polos." Farhan mendelik. "Kenapa kamu tidak percaya sama aku. Dalam rumah tangga itu kepercayaan harus ditumbuhkan, agar tidak ada masalah yang berawal dari salah paham." Arumi hanya membalas dengan nada datar. "Hal itu di peruntukan bagi mereka yang menikah berlandaskan cinta, bukan paksaan. Jadi kamu jangan banyak berharap kalau aku akan mencintaimu kamu." Farhan memandang Arumi yang hanya menunduk. "Sudahlah, jangan buat suasana pagi ini jadi hancur." Sambung Farhan dengan menyudahi sarapannya. "Maaf, Mas!" Tidak ada kata yang Arumi lontarkan selain kata maaf, karena menurutnya percuma berkata dengan Farhan karena tidak akan pernah ada kebenaran. Semua seolah harus mengikuti pemikiran dan pendapat Farhan. Rumah tangga macam apa yang hanya mementingkan ego sepihak. "Oh Ya, nanti malam rekan bisnis aku akan kesini." Ucap Farhan yang di balas senyuman oleh Arumi. "Ada acara apa,Mas?" Balas Arumi dengan sangat bahagia, karena malam ini akan ada rekan bisnis suaminya ke rumah. Mungkin dengan ini akan ada sedikit titik terang untuk Farhan mulai mengakuinya sebagai istri. "Aku mengundang mereka makan malam. Tamunya ada tiga orang, kamu harus masak makanan yang enak dan mewah. Jangan sampai kamu membuat saya malu." Ucap Farhan dengan beranjak. "Tapi, aku tidak----" "Tidak bisa masak? Gampang kamu tinggal pesan makanan. Satu lagi, jam 8 malam semua sudah siap." Ucap Farhan yang langsung meninggalkan Arumi. 'Aku bukan tidak bisa masak, Mas. Tapi saat ini uangku sangat pas-pasan. Aku tidak yakin akan cukup. Aku harus pakai apa? sedangkan sampai saat ini kamu tidak pernah sedikitpun memberi nafkah kepada ku. Bukan aku perhitungan, hanya saja sudah delapan bulan kita menikah tapi tidak ada secercah cahaya untuk kamu menyadari bahwa pernikahan kita ini sah.' Arumi hanya mampu berkata dalam hati. Terkadang takdir seolah mempermainkan, bukan takdir hanya aku yang belum bisa menerima takdir dengan kenyataan yang ada. Tidak ada takdir yang salah, yang ada hati yang enggan untuk mengalah. *** Hari ini matahari bersinar sangat terang, panasnya seolah berkata kepada setiap insan agar menyambut aktivitas dengan senyuman. Panasnya sengatan matahari tidak membuat insan di bumi bermanja diri, termasuk Arumi. Dia nampak semangat menjalani aktivitasnya sehari-hari. "Alhamdulillah, hari ini jadwal ngajar ku tidak penuh. Jadi, aku bisa ke restoran dan pulang lebih awal." Gumam Arumi. Dia terus berjalan, menapaki jalan di bawah teriknya sinar mentari. Sesekali dia bertegur sapa dengan orang yang ia temui. "Arumi!" Panggilan seseorang membuatnya menghentikan langkah. "Kak Azkar!" Arumi tersenyum ke arah pria tersebut. "Lama tidak jumpa, bagaimana kabar kamu?" Azkar mulai basa-basi. "Alhamdulillah, seperti yang kakak lihat. Tasya, bagaimana kabar dia?" Arumi sudah lama tidak berjumpa dengan sahabatnya itu, karena dia melanjutkan studinya di luar negeri. Tidak ada komunikasi, karena Tasya terlihat memang sangat sibuk. "Alhamdulillah baik. Dia sangat sibuk jadi jarang ngasih kabar. Terakhir bulan lalu, dia juga nitip salam buat kamu." Azkar sangat antusias membahas adik kesayangannya itu. "Alhamdulillah kalau begitu. Aku masih ada urusan nih, Kak. Jadi maaf gak bisa ngobrol banyak." Ucap Arumi merasa tidak enak. "Kalau begitu bagaimana kalau saya antar?" Azkar sedikit ragu menawarkan niat baiknya kepada Arumi. Azkar tau wanita itu pasti akan menolaknya. "Tidak perlu, Kak. Terimakasih!" Dugaan Azkar tidak salah. Pasti jawaban itu yang akan dia dapat. "Baiklah." Azkar berlalu terlebih dahulu setelah berpamitan kepada Arumi, yang di balas dengan anggukan olehnya. Arumi masuk ke dalam restoran dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di siapkan bagi pelayan. Setelah menikah dengan Farhan, Arumi masih tetap bekerja sebagai pelayan di restoran. Bukan apa-apa, hanya saja Arumi harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya. Dia tidak berani meminta uang kepada Farhan, jika tidak Farhan sendiri yang ingat dengan kewajibannya sebagai suami. 'Mungkin saat ini kamu belum menganggap aku sebagai istri kamu, Mas. Tapi aku berharap kelak kamu akan menyadari keberadaan aku.' Lagi dan lagi, Arumi hanya bergelut dengan hatinya. "Duaaarr, bangong mulu Bu." Ucap seseorang dengan tertawa. "Astaghfirullah, Nita." Arumi berdecak kesal kepada temannya itu. "Sorry! Oh ya, itu kamu tolong antar pesanan ke meja nomor 30. Aku kebelet!" Ucap Nita memelas yang dibahas senyum ramah dan anggukan oleh Arumi. Arumi nampak bersemangat menjalani aktivitasnya. Dia berharap agar cepat pulang ke rumah dan menyiapkan makan malam untuk nanti menyambut tamu suaminya. "Silahkan, maaf menunggu lama." Ucap Arumi dengan memberikan pesanan pada seorang pria di meja nomor 30 tersebut. "Terimakasih!" Ucap pria tersebut dengan melirik Arumi. "Arumi!" Sambung pria tersebut. "Mmm, Mas Raihan!" Arumi baru menyadari jika yang memesan makanan ini adalah Raihan. 'Ya Allah, kenapa setiap aku bertekad melupakannya Kau takdirkan aku untuk selalu bertemu dengannya? Apa arti semua ini?' gumamnya dalam hati. "Arumi kamu ngapain di sini?" Raihan merasa ada yang Arumi sembunyikan. "Maaf, saya permisi." Arumi pergi tanpa memperdulikan teriakan Raihan yang terus memanggilnya. Raihan tidak tinggal diam, dia harus mengetahui apa yang terjadi dengan Arumi. Dia terus memperhatikan Arumi yang terus melayani pengunjung yang semakin ramai. Prraaang Suara pecahan gelas mengalihkan pandangan Raihan. Arumi terjatuh, dan makanan yang dia bawa jatuh berserakan. "Aduh mbak, kalau kerja yang bener. Lihat nih, gaun saya kotor." Seseorang wanita terlihat sangat marah kepada Arumi. "Arumi, kamu kenapa sih? Dari saya perhatikan kamu kerjanya tidak konsen." Ucap pemilik restoran yang nampak kecewa dengan kesalahan Arumi. "Maaf, pak!" Arumi mulai membereskan makanan yang berserakan di lantai. "Selamat siang, pak!" Raihan mendekat ke arah pemilik restoran itu. "Siang. Eh nak Raihan, silahkan mau pesan apa?" Ucap pemilik restoran yang nampak sudah mengenal Raihan. "Saya sudah memesan makanan tadi pak. Oh ya, saya minta izin untuk meminjam karyawan bapak ini sebentar. Biar makanan ini saya yang ganti rugi." Ucap Raihan yang dibalas persetujuan oleh pemilik restoran. Arumi tidak mengerti apa maksud Raihan melakukan itu semua. Farhan menarik Arumi dan menyuruhnya duduk. "Jelaskan sama aku semuanya Arumi. Ada apa dengan kamu?" Raihan tidak basa-basi lagi. "Apa yang harus aku jelaskan, Mas?" Arumi tidak dapat mencerna ucapan Raihan yang tiba-tiba seolah menginterogasinya. "Kenapa kamu kerja di sini? Terus Raihan, apa dia benar suami kamu?" Raihan tidak mau panjang lebar lagi, dia ingin mengetahui kebenarannya. 'Ya Allah, apa saat ini bohong lebih baik?' Arumi bimbang, antara berkata jujur atau tidak. Jika berkata jujur, dia seolah membuka privasi rumah tangganya dengan Farhan. Jika bohong, Arumi tidak mau memulai kata dusta. "Kenapa kamu diam, Arumi. Jelaskan!" Perkataan Raihan seolah menekan Arumi. "Ya, Mas Farhan adalah suami aku. Kami menikah 8 bulan lalu. Semua berawal dari aku menolong bunda Sarah. Bundanya Mas Farhan. Orang tua Mas Farhan meminta aku menikah dengan anaknya. Baik aku atau Mas Farhan tidak setuju. Tapi Mas Farhan meminta aku menyetujui pernikahannya, agar dia tidak di coret dari ahli waris. Masalah aku kerja di sini, karena aku ingin menyibukkan diri saja. Karena sebelum nikah aku sudah terbiasa mengisi waktu." Ucap Arumi. Namun Raihan merasa ada yang ganjil dari penuturan Arumi. Namun dia tidak ingin lebih terlihat menekan Arumi. "Apa kamu mencintainya? Tidakkah kamu memikirkan Aku. Aku mencintaimu kamu, Arumi. Kita bisa memulainya kembali. Aku akan membuktikan janji kita yang sempat tertunda." Raihan nampak tidak main-main dengan ucapannya "Maaf, Mas. Aku sudah menikah, ini takdir kita. Mungkin kita hanya di pertemukan tapi tidak untuk dipersatukan. Qodarullah, semua adalah kehendak Allah. Jangan pernah bahas semua itu lagi." Arumi berlalu pergi tanpa pamit kepada Raihan. "Tapi Farhan hanya menganggap kamu sebagai pembantu." Ucap Raihan berteriak. Arumi tidak menghiraukan perkataan Raihan. Qodarullah, manusia hanya mampu berharap meminta lewat do'a serta usaha dengan berikhtiar. tapi, Allah yang lebih tau apa yang terbaik. terkadang kita hanya dipertemukan tapi tidak untuk dipersatukan, terkadang kita hanya diperkenalkan namun tidak untuk saling menutupi kekurangan. orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila terus menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada. Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar berita, dan jangan pula pernah menanti serangan petaka. Karena hari ini kita sudah cukup sibuk dengan urusan dunia. Sangat mengherankan orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Maka hindarilah angan-angan yang berlebihan. Selalu saja kutipan itu yang membuat Arumi terasa semakin sabar menghadapi berbagai kejutan dalam hidupnya. *** Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat Arumi beranjak dari tempat duduknya. Arumi nampak rapih mengenakan gamis berwarna peach dibalut kerudung pashmina berwarna senada. Arumi menebak mungkin rekan bisnis suaminya itu yang datang. "Assalamualaikum." Ucapan salam terdengar dari luar. "Wa'alaikumussalam." Arumi menjawab dan membuka pintu. "Pak Farhan nya, ada?" Ucap seorang pria paruh baya yang nampak sangat penuh wibawa. "Oh ada, silahkan masuk. Biar saya panggilkan." Arumi menyambut dengan ramah membuat ketiga tamu tersebut merasa bahagia dan terpesona dengan keramahan Arumi. "Selamat malam semuanya." Farhan datang dan menyambut rekan bisnisnya itu. "Bagaimana kalau kita langsung ke ruang makan?" Farhan menawarkan dengan sangat ramah. 'Ternyata Mas Farhan sangat ramah sekali kepada rekan bisnisnya. Aku kira dia selalu berwajah masam' Arumi terus berkata dalam hati. Farhan membawa para tamunya ke ruang makan yang di ikuti oleh Arumi dari belakang. Dia nampak bahagia melihat keakraban suaminya dengan para tamu tersebut. Dengan sigap Arumi menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu dan juga suaminya. "Mbak ini pasti istrinya Pak Farhan! Perkenalkan saya Gumilar, ini anak saya Prayoga, dan ini Pak Zaka. Kita ini rekan bisnisnya Pak Farhan." Ucap Pak Gumilar yang sangat ramah. Kesopanan Gumilar membuat Arumi merasa keberadaan dirinya disini sangat diakui. "Ekhem, Maaf. Ini Arumi, dia pembantu saya." Ucap Farhan. Prrangg Suara pecahan gelas membuat semua orang kaget. Arumi tidak sengaja menyenggol gelas, dia gemetaran tidak menyangka bahwa Farhan akan mengenalkannya sebagai pembantu, bukan istri. Tidakkah Farhan memahami perasaan Arumi. Tidakkah dia tau bahwa perlakuannya membuat luka di hati semakin dalam? "Arumi kamu kalau kerja yang bener." Ucap Farhan. Hatinya menolak untuk memperlakukan Arumi sebagai pembantu, namun pikiran menyelimuti hati baiknya. "Maaf, Tuan!" Ucap Arumi yang mulai berkaca-kaca. "Biar saya bantu." Prayoga membantu Arumi, namun di tolak baik oleh Arumi. "Selamat malam semua." Seorang wanita mengenakan pakaian kurang bahan masuk dan menghampiri mereka di ruang makan. "Maaf bapak-bapak, perkenalkan ini Alifia calon istri saya." Farhan mengenalkan Alifia dengan status calon istri sedangkan Arumi hanya dianggap sebagai pembantu. Semua menyambut uluran tangan Alifia tanda menghormati Farhan sebagai rekan bisnis mereka. "Saya kira Mbak Arumi ini istri Pak Farhan. Dia lebih cocok jadi istri, bukan pembantu. Dia cantik, ramah, terlihat sangat baik dan sopan. Saya benar-benar tidak menyangka kalau ini pembantu bapak." Kini Pak Zaka yang mengeluarkan suara. "Satu pemikiran dengan saya." Ucap Gumilar yang di balas senyuman oleh Farhan. 'Maafkan saya, Arumi.' Farhan hanya berkata dalam hati melihat punggung Arumi yang kian menjauh. 'Takdirku sulit di tebak, dia seolah mempermainkan, bersembunyi di balik kesunyian.' Arumi berlari ke taman belakang dan menangis di bawah kesunyian malam. 'Takdirku layaknya teka-teki yang mesti aku pecahkan. Semua sangat penuh misteri. Tidakkah kamu tau Mas, Jika perkataan mu sangat melukai hati. Aku terlalu berangan, berkhayal terlalu tinggi. Hingga aku terhempas dilemparkan oleh anganku sendiri. Aku sadar, mungkin selamanya dan selamanya keinginan ku diakui sebagai istri hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah terjadi.' Bintangku bersinar terang malam ini, dia menyapa dengan lambaian tangan. Tapi sayang, sapaan itu bukan diperuntukkan bagi diriku, tapi orang lain. Aku hanya mampu memandang tersenyum dari kejauhan menatapnya dengan hati penuh keinginan, berharap kelak bukan hanya lambaian tangan namun uluran tangan yang merangkul membawaku pergi jauh bersamanya. Arumi menangis mengeluarkan segala kekecewaannya malam ini. Malam yang indah seolah menjadi saksi bisu atas kehancuran hati yang terasa bagaikan tertusuk belati. Tanpa Arumi tau sepasang mata memperhatikannya dari jauh dan perlahan mendekatinya. "Jangan biarkan air mata itu terjatuh hanya untuk menangisi hal yang tak pasti." Seseorang itu berdiri di samping Arumi yang duduk tanpa alas di taman belakang rumahnya. "Pak Prayoga!" Arumi seketika menghentikan tangisnya. "Panggil saja, Yoga." Ucap Prayoga tanpa melirik Arumi. "Ada apa bapak kemari?" Ucap Arumi heran. "Hanya mencari udara segar. Tapi saya melihat kamu disini menangis. Kenapa?" Ucapnya. "Tidak ada apa-apa." Jawab Arumi singkat. "Tidak mungkin Air mata datang tanpa sebuah alasan. Wanita selalu menjadikan air mata sebagai s*****a, tapi s*****a tidak akan pernah dikeluarkan tanpa ada sebab." Prayoga melirik Arumi. "Hanya merindukan sosok yang jauh di sana. Orang tuaku yang belum pernah aku temui." Ucap Arumi dengan sedikit menutupi alasan utamanya menangis. "Apa mereka bukan orang Indonesia? Atau kah mereka sudah tiada?" "Mereka sudah menghadap sang pencipta, dan meninggalkan aku sendiri tanpa ada yang menemani." Ucap Arumi membuat Prayoga melirik. "Kenapa kamu tidak mendatangi makam mereka?" "Jika ada, mungkin sudah aku lakukan. Tapi aku tidak pernah tau dimana makam mereka." Ucap Arumi. "Apa kamu sudah menikah?" Tanya Prayoga namun Arumi hanya diam. "Saya butuh jawaban." Sambung Prayoga. "Saya permisi." Arumi berlari meninggalkan Prayoga yang menatap kepergiannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN