Bisma menuntunku untuk kembali berdiri. Sekarang, kami berhadapan dengan Kak Elang yang membawa kue ulang tahun yang di atasnya terdapat lilin berbentuk angka 21. "Ayo, tiup lilinnya, sayang!" ujar Tante Kamila. Aku mengangguk kemudian meniup lilinnya. Detik berikutnya, aku menoleh ke arah Bisma yang masih mempertahankan senyumannya untukku. "Tadinya aku minta mereka buat acara sendiri, biar nggak ganggu kita, tapi mereka menolak." terang Bisma. "Bisma!" tegur Tante Kamila. Bisma hanya terkekeh mendapat tatapan tajam ibunya itu. "Lagian kan biar rame, iya kan, Mawar?" Tante Kamila. Aku mengangguk. Aku menyalami satu per satu kerabatku. Ibu. Aku berpelukan dengannya. Cukup lama. Beliaulah yang melahirkanku 21 tahun silam. Membuatku mampu melihat dunia, dan mampu bersanding di samping B

