Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, saatnya aku keluar selama beberapa jam. Segera saja aku mengambil mantelku seraya berteriak, “Ben, aku pergi dulu ya!” Tidak lama, suara langkah kaki yang tengah terburu terdengar. Ben muncul dari arah dapur dengan segelas kopi di tangan. Ekspresinya terlihat khawatir serta tidak yakin. “Kau yakin tidak mau kuantar? Bagaimana kalau tersesat? Ini Roma, Angel.” Aku terkekeh pelan. Kekhawatirannya terkadang berlebih, tapi ya begitulah Ben yang kukenal. Dengan tegas aku menggeleng, “Kau tinggal saja di sini, Ben. Aku sudah pernah ke sana dan hanya sepuluh menit jalan kaki. Lagi pula, ini juga masih pagi.” Ben mendesah panjang. Dia memang tidak pernah bisa mendebatku. Kemudian, dia menggerutu panjang, “Pemerintah Itali sudah membuat peraturan untuk libur

