MATEO Begitu mendarat di bandar udara Internasional Ciampino, segera saja aku menurunkan kacamata hitam yang sejak tadi kukenakan. Siang ini, seperti yang sudah-sudah, bandar udara tersibuk di Roma selalu saja sibuk. Banyak turis pendatang atau orang-orang asli Roma baru saja pulang. Aku sendiri adalah salah satu yang pulang, kampung halaman Mom, tempat tinggal Kakek dan Nenekku. Bahasa itali mulai memenuhi indra pendengaranku. Tanpa sadar aku tersenyum kecut mendengarnya. Alasannya bukan karena tidak memahami satu pun bahasa mereka, tapi karena bahasa ini mengingatkanku pada Calista. Gadisku, aku selalu mengungkapkan rasa padanya menggunakan bahasa Itali. Sederhana, karena memang aku sengaja agar dia tidak memahaminya. Namun saat ini, kedatanganku ke sini seperti bumerang. Kerinduanku

