AUTHOR POV
Sepi. Gelap. Beberapa botol minuman dengan berbagai merk berjejer di meja bar. Sementara itu gelas sloki telah terisi berkali-kali selama satu jam terakhir. Pria itu putus asa dan juga rindu. Tidak ada lagi tempat yang bisa dia tuju selain tempat ini.
Harusnya sebagai seorang dokter, dia tahu benar alkohol bukan pelarian yang baik. Selain itu juga, dia harus bersiaga jika ada telepon mendadak dari rumah sakit jika pasien membutuhkan. Namun, malam ini, dia memilih nakal. Dia hanya ingin kembali menjadi dirinya yang dulu, berteman dengan alkohol jika sedang kalut.
Tanpa sadar, dia meraih secarik sticky note di dekat meja. Beberap hari yang lalu, sosok itu datang. Membelikannya berbagai bahan makanan yang kini hanya pria itu biarkan membusuk di kulkas. Gadis penuh perhatian yang sangat dia cintai itu, tiba-tiba saja menghilang.
Sebagai dokter, kau harus makan sehat dan teratur. Pak Dokter, aku membelikan beberapa buah dan sayur. Kalau aku sempat, aku akan memasakan makanan untukmu.
Love,
Calista.
Diremasnya kertas. Lalu, dibuangnya benda itu begitu saja ke lantai. Tulisan itu kini terasa seperti omong kosong. Bagaimana gadis itu bisa memasakan makanan untuknya, jika dia pergi tanpa kabar.
“SIAL!”
*****
“Who do you think you are? Runnin’ ‘round leaving scars, collecting your jar of hearts, and tearing love apart, you’re gonna catch a cold, from the ice inside your soul, so don't come back for me, who do you think you are?”
Gadis itu terus bersenandung sembari mengikuti sang penyayi melalui earpodnya. Sekalipun dia seorang chef di sebuah restauran ternama, memasak untuk keluarga adalah hal jarang baginya. Apalagi jika itu saat sarapan karena seluruh keluarga lebih memilih makanan yang cepat dan singkat, tapi bukan dia yang menyiapkan melainkan para asisten rumah tangga.
Itulah mengapa saat di Singapura bersama sang kakak, dia memilih untuk sedikit lebih berusaha keras. Biasanya hanya disediakan beberapa lembar roti gandum dengan selesai, maka di sini dia akan sedikit memasak. Kemarin dia suka membuatkan pancake, hari ini menu mereka adalah waffle. Dia sudah memastikan es krim vanila dan cokelat telah tersedia di kulkas tadi.
Sebuah dehaman kencang sontak menghentikan aktivitas wanita itu. Dia menoleh. Mateo telah berdiri di dekat meja bar. Rambut pria itu terlihat basah, jelas baru mandi. Senyum tipis terpasang. Dia terkesan santai dalam balutan kaos abu-abu polos panjang serta celana tidur panjang berwarna putih.
“Morning,” sapanya. Pria itu semakin mengembangkan senyumnya.
Calista hampir saja salah tingkah, memasukkan terlalu banyak adonan waffle ke cetakan. Untungnya, dia buru-buru mengendalikan diri untuk fokus ke masakannya. “Pagi.”
“Sepertinya lezat.”
Pujian ini sebenarnya terdengar biasa saja, tapi efeknya malah menggila untuk Calista. Mendadak gadis itu bersemu merah. Segera saja dia mencari topik lain dan mengalihkan rasa malunya, “Kau menginap semalam, Mateo?”
Mateo mengangguk seraya menduduki stoll bar. Tubuh dicondongkan ke depan. Tangan menyilang di meja. “Iya, karena ini sebenarnya apartemenku, Calista.”
Kali ini aktivitas Calista benar-benar berhenti. Cedric hanya mengatakan bahwa dia menyewa tempat ini, tapi tidak mengatakan bahwa ini milik temannya. “Aku benar-benar tidak tahu. Kau juga tidak terlihat di hari aku terbangun kemarin.”
“Sengaja, kau akan tidak merasa nyaman saat terbangun dengan melihatku pagi itu, Calista.”
Percakapan langsung berhenti. Suasana pun kembali canggung. Calista berusaha fokus pada wafflenya, meskipun tahu bahwa Mateo terus memperhatikan setiap gerak-geriknya. Harusnya dia tidak nyaman ada seorang pria asing memperlakukannya seperti itu. Namun, ada perasaan akrab dan nyaman saat Mateo melakukannya.
“Bagaimana perasaanmu hari ini, Calista?”
Calista termenung. Sejak terbangun hingga saat ini, hanya lagu-lagu jatuh cinta yang dia senandungkan. Entah mengapa, masalah di Indonesia mendadak dia lupakan. Satu-satunya yang gadis itu pikirkan adalah Mateo.
Dilirik Mateo. Kembali dia bergumam, seraya berusaha keras menutupi gugup yang lagi-lagi menyerang. “Better than before. Thanks to you, Mateo. Kau mau kopi?”
“Sure. You’re most welcome, Cal.”
Dialihkan perhatiannya menuju ke coffee maker di dekatnya. Alis gadis itu mengernyit saat tidak menemukan cangkir di sana. Dibukannya kabinet atas dan saat menemukan gelas-gelas telah kembali di sana, seketika dia mengumpat.
Memiliki postur tubuh kecil, 155cm, dengan tinggi kabinet ini sama sekali tidak membantu. Segan meminta bantuan, Calista berusaha keras untuk meraih cangkir seorang diri. Namun, saat dia berusaha keras, tiba-tiba saja ada tangan lain yang meraih cangkir lebih dulu. Gadis itu menoleh, bersamaan itu pula Mateo menoleh. Mata mereka bersirobok di udara.
“Kau sangat kecil,” bisiknya. Jarak mereka sangat dekat sekarang.
Calista menelan ludah. Otak gadis itu pun kosong. Dia bingung harus menanggapi apa.
“Kalau kau tidak bisa meraih cangkir ini, minta tolong padaku,” lanjut Mateo. Pria itu menyodorkan cangkri kepada Calista. Sementara tangannya yang lain mengusap kepala gadis itu. “Kau benar-benar kecil.”
“Wah, wah.” Sebuah suara lain sontak memecahkan suasana mereka. Keduanya menoleh dan mendapati Cedric sudah duduk di stoll bar. Pakaian kerja pun telah membalut sempurna tubuhnya. “Sori menganggu kalian, tapi aku benar-benar kelaparan dan juga buru-buru. Cal, tolong sarapan dan kopiku. Mat, tolong ambil cangkir lain, kasian Calista.”
“Oke, kak.” Calista segera mundur beberapa langkah dan mulai sibuk untuk membuat kopi, berikut sarapan yang diminta Cedric. Gadis itu mengucap syukur karena berhasil lepas dari suasana canggung yang berhasil membuatnya berdebar tidak karuan.
Suasana kembali hening. Hanya saja beberapa kali Calista mencuri pandang ke arah Mateo. Pria itu masih berdiri menjulang di sampingnya. Anehnya, pria itu malah menaruh cangkir-cangkir ke wastafel.
“Itu gelas bersih, Mat,” peringat Calista.
“Aku tahu, tapi tidak yakin. Ini hanya kebiasaanku untuk mencuci ulang peralatan makan sebelum menggunakannya.”
“Sudahlah, Cal, suka-suka Mateo yang penting sarapan dan kopiku,” teriak Cedric yang berhasil membuat Calista mencibir.
Tidak butuh waktu lama, Calista sudah menghidangkan waffle ke piring. Buru-buru dia mengambil es krim di kulkas dan menaruhnya di waffle. Cedric yang sepertinya benar-benar kelaparan, tanpa peduli waffle masih cukup panas, langsung memakannya begitu saja.
“Dasar bar-bar,” cibir Calista yang langsung dibalas juluran lidah Cedric.
“Ini untukmu, Mateo.” Calista segera mengidangkang sarapan Mateo. Pria itu sudah kembali duduk di stoll barnya, bersebelahan dengan Cedric.
Stoll bar lain yang kosong jelas ada di sebelah Mateo. Sedikit gugup, gadis itu menduduki stoll terakhir. Dia berusaha keras untuk tidak terganggung. Dipotongnya waffle menjadi bagian-bagian kecil. Lalu, saat hendak memakannya, dia mencelupkannya ke dalam kopi panas. Barulah dia memakan itu dengan nikmat.
“Apakah itu enak?” Tiba-tiba Mateo kembali berbicara.
Calista mengangguk cepat, lalu menjelaskan sensasi yang dia rasakan, “Waffle hangat, es krim dingin, lalu ada kopi dingin. Rasanya kau akan mendapatkan sensasi yang berbeda. Coba saja.”
Pria itu tidak banyak membantah dan langsung mempraktekan yang Calista lakukan. Benar, Mateo langsung tersenyum lebar saat menemukan sesasi yang menyenangkan saat memakan sarapannya.
Semua orang di sana pun memakan sarapan dalam diam. Cedric jelas orang pertama yang selesai. Pria itu menaruh semua piring dan cangkir kosong ke wastafel, kemudian berdiri menjulang di sebrang Mateo dan Calista, “Hari ini kau akan di temani Mateo, Cal.”
“Not surprise, but dissappointed. Kau memang selalu mementingkan pekerjaanmu daripada aku, kak, berbeda dengan Mateo.” Calista mengalihkan perhatiannya pada Mateo. “Hari ini kita ke mana, Mat?”
“Garden the Bay, wanita suka ke taman apalagi yang menurut mereka cocok untuk dijadikan tempat foto-foto,” ucap Mateo yang langsung mengundang tawa Calista. Pria itu seperti tahu benar isi kepalanya. “Kemudian ke China Town, wisata kuliner. Perut kenyang akan melenyapkan kesedihan.”
“Sepertinya menarik. Aku akan bersiap-siap kalau begitu, kapan kita berangkat, Mateo?” tanya Calista seraya beranjak dari stoll bar.
“Pukul sepuluh, dua jam lagi.”
Calista mengangguk cepat. Dia menaruh piring kotor dan juga cangkir ke wastafel, sebelum akhirnya menghilang menuju ke kamar. Saat dua pria dewasa itu ditinggal sendirian, mereka berdua mulai saling menatap.
“Kau benar-benar serius padanya?” tanya Cedric yang langsung dibalas anggukan cepat Mateo.
“Kalau aku tidak serius, untuk apa aku ada di sini dan meninggalkan pekerjaanku, Ced?” Mateo mendesah panjang seraya menerawang jauh pada pintu kamar Calista. “Aku akan menjaganya.”
“Tentu saja. Aku sudah memberimu kepercayaan untuk menjaga adikku, maka kau harus menjaganya. Jika sedikit saja kau menyakiti dia, maka bersiap saja pembunuh bayaran mendatangimu.”
Cedric memberikan sebuah tepuka pada bahu Mateo, kemudian bergegas pergi meninggalkan apartemen begitu saja. Peringatan itu bukan sekali atau dua kali diberika, tapi berkali-kali. Mateo serius, bahkan sejak dulu sekali dia serius terhadap Calista.
*****