CALISTA
Matahari tepat berada di atas kepala, mobil yang kami kendarai baru saja terparkir manis di parkiran Universal Studio Singapura. Kak Cedric benar-benar meninggalkanku berdua dengan sahabatnya. Sekalipun kesan pertama yang dia berikan cukup membuatku nyaman, tapi aku tidak tahu bagaimana yang terjadi nantinya.
Mateo tiba-tiba saja keluar dari mobil. Baru saja aku melepaskan seatbelt, pintu di sampingku terbuka. Pria itu berdiri dengan senyum lebar. Salah satu tangannya yang bebas terulur. Saat mata kami bersirobok di udara, refleks, aku meraih tangan pria itu.
“Terima kasih,” gumamku begitu berdiri di hadapannya.
Seperti yang sudah-sudah, Mateo tidak banyak bicara. Dia hanya membalas ucapanku dengan anggukan pelan. Ditunjuknya eskalator menuju lantai atas, “Kita naik dulu, pintu utama di sana.”
Baru saja aku berjalan, sebuah tangan menahan gerakanku. Aku menoleh. Mateo sudah berdiri di sampingku. Tangan pria itu sengaja mencekal lenganku. Lalu, perlahan bergerak untuk menggenggamnya. “Sori,” bisiknya. “Kau tanggung jawabku sekarang, Calista. Tempat ini besar dan aku berusaha menjagamu agar tidak tersesat.”
Harusnya aku menjawab, menolak pria itu. Namun, aku malah mengangguk setuju tanpa perlawanan. Mata pria itu saat kutatap seperti memiliki hal magis yang tidak bisa kujelaskan. Bahkan, saat Mateo mulai menuntunku menaiki eskalator ke halaman utama USS, aku masih sedikit termenung menatap pria itu.
Cahaya terik matahari berhasil mengalihkan perhatianku. Tanpa sadar senyumku tersungging begitu lebar. Meskipun ini bukan kali pertama ke sini, tapi nyatanya aku selalu menyukainya. Tidak ada yang spesial sebenernya, hanya saja orang-orang yang berdatanganlah yang spesial. Berbagai kalangan, seluruh anggota keluarga, sepasang kekasih, semua datang ke sini dengan senyum lebar dan semakin lebar saat pulang. Tempat penuh kebahagiaan yang ternyata mampu menghangatkan hatiku.
“Kau tahu Calista, aku suka berada di tengah-tengah orang yang sedang berbahagia.” Perhatianku sontak beralih mendengar pernyataan Mateo. Pria itu masih tertuju lurus pemandangan di depannya sambil terus berbicara, “Pergi ke taman bermain selalu membawa kebahagiaan. Kau sedang bersedih, kau butuh bahagia. Kau bisa berteriak atau mungkin menangis sekencang-kencangnya di sini, tapi ketika keluar dari tempat ini, aku mengingkan senyummu. Calista, lupakan kemarin. Sekarang pikirkan bahwa kau akan bahagia hari ini, bersamaku.”
“Eh …,” balasanku menarik perhatian Mateo.
Mateo menoleh. “Berbahagialah, Calista. Kumohon.”
Pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk pelan dengan kedua pipi bersemu. Aku baru mengenalnya, tapi sudah berkali-kali dia membuatku bungkam. Bukan hanya itu saja, pria itu sepertinya juga berhasil membuatku sedikit merasa nyaman dan akrab bersamanya.
*****
Kami terus memasuki area universal. Sejak terakhir ke sini pun tidak ada perubahan yang berarti, hanya beberapa tata letak serta pernak-pernik yang sedikit diubah. Untuk sesaat, aku tertegun saat kembali teringat Raka. Sahabatku itu tidak suka jika aku mengajaknya ke sini. Ramai dan melelahkan. Terakhir ke sini pun, aku lebih memilih mengajak kak Cedric. Ben saat itu sedang disibukkan dengan residentnya.
“Jangan melamun,” bisikan pelan diikuti dengan remasan pada tangan, berhasil menyentakku.
Aku mendongak. Tatapan mata kami langsung bersirobok di udara. Mateo terlihat dekat dan lagi-lagi mata itu menghanyutkan hingga menimbulkan getar aneh di hatiku. “Iya….”
“Kau suka Shrek dan Fiona?”
Pertanyaan Mateo ini berhasil membuatku sedikit melongo. Aku sangat suka dua tokoh film animasi itu, Shrek dan Fiona. Bagaimana mereka dipertemukan dalam ketidaksengajaan— penculikan. Kemudian, dalam kebersamaan perasaan mereka tumbuh. Uniknya, perasaan mereka tumbuh bukan karena menyukai fisik satu sama lain, melainkan karena memang jatuh cinta karena sifat masing-masing.
Aku mengangguk. “Suka ….”
“Great! Kita ke toko itu.”
Mateo menunjukkan sebuah stan di kejauhan. Sebuah toko kecil di pinggir jalan. Mataku menyipit untuk melihat apa yang dijual. Entah mengapa, aku terkekeh pelan saat menemukan berbagai aksesoris dari cerita Far Far Away itu. “Lucunya.”
“Aku tahu kau menyukainya. Semua wanita suka putri dongeng Disney, tapi cerita Shrek ini juga sangat mencuri perhatian, bukan? Terlebih kisah cinta yang tidak biasa,” jelas Mateo yang langsung kusetujui.
Kami bergegas memasuki toko tersebut. Terdengar bunyi lonceng pelan begitu pintu terbuka. Tempat ini tidak terlalu ramai. Kebanyakan pengunjung perempuan ataupun anak-anak, hanya ada Mateo, pria sendirian. Pria itu tidak terlihat aneh. Dia bahkan dengan cueknya terus berjalan sambil menggandeng tanganku menuju sebuah bandana Shrek-Fiona di dekat kaca etalase.
“Kau suka?” tunjuknya.
“Apa ini tidak terlalu kekanakan, Ma … teo?” Aku merasa canggung saat memanggil nama pria itu. Sekalipun aku tahu Mateo sahabat kak Cedric, anehnya aku tidak nyaman memanggilnya menggunakan embel-embel kak.
“Tidak juga. Pakailah.” Penganan tangan Mateo terlepas, hal tiba-tiba terasa sedikit asing untukku. Pria itu meraih bando berwarna hijau dengan bentuk telinga milik Fiona. Perlahan, dia memakaikannya di kepalaku. Sontak aku mendongak. “Kau terlihat lucu.”
Tanpa bisa dicegah aku sedikit merona. Mateo tampak tidak peduli. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah bando lain milik Shrek untuk dia kenakan sendiri. “Bagaimana menurutmu?”
“Aneh, Mateo.” Aku terkekeh. “Wajahmu itu terlalu garang untuk mengenakkan sesuatu selucu ini?”
“Masa sih?”
Mateo kembali menggenggam tanganku untuk menggiringku menuju sebuah kaca yang tersedia. Tiba-tiba saja dia merangkulku, hingga kami berada di jarak yang cukup dekat.
“Sedikit aneh,” akunya sembari melirikku. Hal yang kembali mengundang senyum geliku. “Tidak masalah. Aku sengaja berdandan seperti ini untuk membuatmu tersenyum dan syukurlah, kau malah tertawa melihatnya. Kita bayar ini dan coba wahana lain.”
Lagi-lagi jantungku berdebar hebat dengan sikap Mateo. Pria itu terlihat tidak terganggu dengan beberapa pasang mata yang menatapnya geli. Bagaimana aku tidak tersentuh dengan kebaikannya. Aku rasa, siapapun wanita yang nantinya bersama dengan pria ini, wanita itu adalah wanita paling beruntung di dunia.
*****
Kita sedang berada di dalam antrian untuk menaiki roaller coaster. Seharusnya dengan tiket yang kami miliki, kami bisa naik lebih cepat. Sayangnya, aku memilih untuk ikut mengantri. Ini bukan karena aku sok-sokan untuk tidak menggunakan hakku, melainkan karena aku takut. Perasaan naik, kemudian terjun bebas dengan ketajaman tertentu adalah hal yang buruk. Jantungku rasanya copot, sekalipun saat di darat pun aku masih bisa berdiri tegak.
Hanya saja, Mateo terlihat sangat bersemangat saat menarikku ke sini. Akhirnya, aku memilih untuk mengiyakannya. Pria itu sudah terlalu baik hari ini, maka aku bersedia untuk mengorbankan diri. Hanya saja, tanganku yang saling bertautan, rapalan doa yang tiada henti k****a, serta keringat yang mulai bercucuran mampu menarik perhatian Mateo.
“Cal, kau baik-baik saja?” pertanyaan Mateo sontak membuatku menoleh.
Aku berusaha keras untuk tersenyum. Sekalipun aku tidak yakin saat menjawab pertanyaannya, “Tentu saja.”
Mateo menggeleng pelan. Tiba-tiba saja dia menarikku untuk keluar dari kerumanan. Langkahnya yang lebar dan cepat, mengharuskanku sedikit berlari. Pasalnya, dia tidak berkata apa pun dan menyisakan tanda tanya di kepala, “Mateo!”
“Bilang dong kalau tidak suka roller coaster.” Hanya saja saat Mateo mengajakku menuju ke roller coaster yang lebih kecil, aku tetap saja mengeluh. “Kita coba saja yang jauh lebih kecil.”
“Haruskah kita naik roller coaster?” keluhku.
Mateo menarikku hingga kami berdiri saling berhadapan. “Kenapa tidak? Cedric mengatakan padaku tadi, kau hanya tidak suka efek saat naik roaller coaster. Kau tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau sedang hamil.”
“Mateo ... aku tetap saja tidak menyukainya. Bagaimana kalau saat kita naik, aku terlepas dari kursi dan jatuh? Menyeramkan!”
Pria itu terkekeh pelan sembari menggeleng. Diusapnya kepalaku seraya berbisik, “Pikiranmu hanya terlalu ke mana-mana, Calista. Semua di sini aman, aku jamin itu. Kalau kau takut, aku selalu di sampingmu untuk menggenggam tanganmu. Kau tidak perlu cemas.”
“Mateo ….” Aku terus berusaha menahannya, sekalipun kata-katanya barusan sediki menenangkan.
“Calista, saat kau naik roller coaster itu, kau bisa berteriak segila apa pun. Lepaskan kesedihanmu itu tanpa perlu merasa malu. Ingat kata-kataku tadi, saat keluar dari sini kau harus bahagia.”
Aku hanya berdecak pelan, sementara Mateo terus menuntunku. Berbeda dengan tadi, kali ini dia tidak mengikutiku dengan memasuki antrian, melainkan menuju ke antrian cepat. Tidak perlu menunggu sepuluh menit, kami sudah bersiap akan masuk. Jantungku semakin menggila saja kali ini.
“Kau aman, tidak perlu takut,” ucap Mateo sembari terus menggenggam tanganku erat.
Kami berdua benar-benar duduk di dalam kereta, di paling depan juga. Genggamanku terhadap Mateo semakin erat. Hingga aku yakin pria itu sudah kesakitan sekarang. Petugas mulai memberikan aba-aba, sontak aku memejamkan mata. Perlahan, aku bisa merasakan roller coaster mulai berjalan.
“Berteriaklah sekencang-kencangnya, Cal.”
Setelah itu, aku tidak lagi mendengarkan karena bersamaan itu pula aku merasakan tubuhku jatuh begitu saja. Aku berteriak, bahkan terisak kencang. Kuharap, bersamaan dengan teriakan yang kulontarkan, kesedihanku turut pergi begitu saja.
*****
Ketika pengeras suara mulai memberikan penguman bahwa jam kunjungan Universal akan segera berakhir sepuluh menit lagi, Mateo baru menarikku keluar tempat ini. Tawa kami berkumandangan. Entah sudah berapa kali juga kami mengabadikan foto di sini. Sekalipun sudah sering datang, tapi menjadi turis terasa tidak pernah membosankan.
“Kau lapar?” tanya Mateo saat kami sudah berada di dalam mobilnya.
Aku mengangguk cepat. “Sangat amat lapar, sekalipun sudah memakan fish and chips di dalam.”
“Okelah. Kalau kau lelah tidurlah dulu, karena ini cukup membutuhkan waktu.”
Mateo mengulurkan tangan untuk mengusap lembut puncak kepalaku. Entah mengapa, usapan itu perlahan membuat kantukku mulai terasa semakin hebat. Hingga akhirnya, aku terlelap begitu saja.
Sebuah guncangan pada bahuku, sontak membuat kedua mataku terbuka lebar. Wajah Mateo sudah berada di jarak dekat. Aku bisa langsung menemukan mata tajamnya menatapku. Tidak ada senyum. Hanya saja, cara pandangnya terasa berbeda dari tadi. Aku tidak tahu apa itu, tapi anehnya membuat debaranku semakin menggila.
“Mateo …,” bisikku pelan.
Mateo berdeham pelan. Buru-buru dia menjauhkan diri dariku. Kali ini ada seulas senyuman di wajah. “Sudah sampai.”
Aku mengangguk pelan. Sama halnya seperti tadi, Mateo keluar lebih dulu. Lalu, memutar mobil untuk membukakan pintu lebih dulu. Cara ini terasa sangat lampau sekali. Namun, jika pria setampan dan sebaik Mateo, aku tetap tersanjung.
“Terima kasih. Kau sungguh manis,” sanjungku yang dia balas dengan anggukan pelan.
Kami pun segera beranjak memasuki sebuah restauran. Ornamen dengan tulisan bahasa Mandari sudah menunjukkan bahwa ini menu yang dihidangkan adalah masakan chinese. Mateo terus menuntunku menuju keluar restauran. Hingga pemandangan di luar sana membuatku tertegun.
Mungkin aku yang terlalu pulas hingga tidak menyadari bahwa Mateo membawaku menaiki bukit. Kini kami berada di pinggir tebing. Malam yang telah datang membawa lampu-lampu yang menyala di bawah sana menjadi pemandangan cantik tersendiri. Belum lagi, lantunan lagu yang berkumandangan. Angin yang berhembus. Semua terasa menyenangkan.
“Kau menyukainya?” Pertanyaan Mateo berhasil mengambilkanku.
Aku mengangguk kencang. Senyumku mengembang begitu saja seraya menatap dalam kedua mata Mateo. Entah kebaikan apa yang pernah kulakukan, tapi mengobati luka bersama pria ini terasa sangat menyenangkan. Tidak ada rasa canggung karena pria itu dengan pandainya membawa kenyaman tersendiri untukku.
“Mateo, terima kasih.”
“Kau tahu Calista.” Mateo mengangkat salah satu tangannya untuk diusap ke pipiku. “Caramu menatapku seperti ini, terlalu berbahaya untukku. Bagaimana kalau aku jatuh cinta padamu setelah ini?”
Kedua mataku sontak melebar. Jantungku berparade. Ada yang salah pada diriku karena saat mendengar itu, tanpa sadar aku sedikit mengharapkannya.
*****
Sesampainya di apartemen, aku buru-buru memasuki kamar. Kejadian di restauran tadi mendadak membuat suasana kami jadi canggung. Bukannya aku tidak nyaman dengan intensitas yang Mateo berikan. Hanya saja, aku jadi tidak bisa konsentrasi melakukan apa pun karena terlalu berdebar bersamanya.
Perlahan aku merebahkan diri di ranjang. Tatapanku langsung tertuju pada langit-langit kamar. Mataku mulai menjelajajah setiap sudut ruangan. Tidak sebesar kamarku di Surabaya, semua di sini terlihat minimalis. Satu tempat tidur di tengah ruangan dengan nakas di setiap sisi. Satu lemari besar berwarna hitam, sangan kontras dengan warna putih ruangan ini, berada di dekat pintu masuk. Satu pintu lain tempat kamar mandi. Kemudian yang paling mencuri perhatian adalah jendela raksasa di sisi lain pintu. Ada balkon di sana dan jelas tempat terbaik untuk melihat kota Singapura.
Untuk sesaat aku tertegun saat bayangan Mateo hadir. Senyumku lagi-lagi mengembang. Acara hari ini memang ditutup dengan kecangungan. Namun, kenyataan hebat lain harus kuakui. Pria itu berhasil membuatku tersenyum lebar tanpa peduli aku baru mengenalnya kemari. Dia juga dengan hebatnya mampu membuatku hanya mengingat Raka selama sepersekian detik, karena sisanya, aku terlalu sibuk dibuat tertawa lepas oleh pria itu.
“Thank you, Mateo Blake.”
*****