A New Friend

1368 Kata
CALISTA Perlahan aku mengerjapkan mata, sembari menatap langit-langit kamar. Ternyata aku tidak sedang bermimpi. Kak Cedric benar-benar menculikku ke Singapura kemarin. Sekarang, aku malah terjebak di dalam kamar asing yang sama seperti kemarin. Kepalaku menoleh menatap jam digital di nakas. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sontak mataku melebar, terkejut karena aku hampir tidur selama dua belas jam. Tidak terusik oleh lapar ataupun keinginan ke kamar mandi. Rasanya kemarin, setelah pulas menyanyi sambil menangis, aku jatuh terlelap saking lelahnya. Kemudian, terbangun begitu saja di sini. Segera saja aku bangun dari tempat tidur. Baru beberapa langkah, seketika aku memegang kepala yang terasa sedikit pening. Astaga, banyak menangis ternyata tidak baik. Baru menangis berjam-jam tanpa henti, sekarang malah sakit kepala. Aku menghela napas dalam, lalu mengabaikan pening yang kurasa. Buru-buru aku ke kamar mandi. Saat pantulan diriku terlihat, aku tampak sangat menyedihkan. Riasan kemarin luntur. Mata merah dan bengkak. Tidak ada senyum yang terpasang di wajah. Rambut berantakan. Hanya saja, ada satu yang sedikit membaik, perasaanku. Kurang lebih satu jam kemudian, aku sudah rapi dalam balutan pakaian rumah; kaos putih polos, celana jeans, tanpa alas kaki. Rambut tergerai dan setengah kering. Saat merasakan perut berbunyi, tanpa menunggu lama, aku segera keluar kamar menuju dapur. Tidak terdengar suara seorang pun di sini. Kalau sudah begini, kak Cedric pasti sedang pergi. Aku mendesah panjang, sedih juga kalau kakakku itu malah ingkar janji. Sekali pun tidak menyukainya, tapi aku tidak bisa berbuat apapun. Kak Cedric memang menyayangiku. Dia juga gila bekerja. Mau tidak mau, salah satu harus dia prioritaskan. Mungkin setelah kemarin memedulikanku, hari ini dia memedulikan pekerjaannya. Sekarang, aku tinggal memikirkan untuk ke mana atau berbuat apa untuk mengisi kekosongan hari ini. “Morning,” sapa seseorang yang berhasil menyentakku. Refleks, aku menoleh. Kak Cedric tiba-tiba saja sudah berdiri di tengah ruangan. Berbeda dengan dugaanku, kakakku itu malah seperti orang bangun tidur. Dia hanya mengenakkan pakaian tidur; kaos polos abu-abu, celana pendek bergaris, tanpa alas kaki. Rambut acak-acakan. Wajah mengantuk dan sesekali menguap. “Kupikir … kau sudah pergi.” Kak Cedric menggeleng pelan. Dia segera mengambil duduk di salah satu stoll bar. “Baru bangun, dek. Kan … sudah janji untuk menemanimu bersenang-senang di sini.” Aku mencibirinya. Terkadang kakakku itu manis dan baik. Hanya saja itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja dia berubah pikiran. Sepertinya, aku memang harus mempersiapkan diri untuk berjalan-jalan sendirian. Tanpa membalas ucapan kak Cedric, aku mulai menyibukan diri untuk membuat sarapan. Sederhana saja, pancake dengan sirup mapple. Lagi pula, kami sudah terbiasa tidak makan berat di saat sarapan yang terpenting perut terisi. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” Kak Cedric mulai berbicara. Aku mengangguk, masih tetap menyibukan diri dengan pancakeku. Ada seulas senyum tipis tersungging. “Lebih baik dari kemarin. Terima kasih, kak.” “Baguslah. Semoga beberapa hari ke depan, sakit hatimu akan hilang,” ucapnya yang hanya kuamini pelan. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, aku sudah menghidangkan pancake ke dua piring. Sembari menghidangkannya pada kak Cedric, aku kembali berbicara, “Kopi?” Dia mengangguk pelan. “Yes, please.” Langsung saja aku kembali sibuk di kabinet. Kakakku itu suka kopi yang baru digiling, bukan kopi kemasan. Rasanya berbeda dan aku setuju, sekalipun tidak terlalu menyukainya. Sementara aku sibuk dengan penggilingan kopi, kak Cedric sibuk dengan ponselnya. “Satu jam lagi Mateo ke sini. Tolong buatkan sarapan juga untuknya.” Lagi-lagi kak Cedric memecahkan keheningan. Aku mengangguk setuju. Memikirkan sarapan sederhana yang tidak rusak apabila harus menunggu satu jam lagi. Karena kebaikan pria bernama Mateo itu, aku jadi sedikit membaik. Dia sudah berbaik hati menyewakan KTV miliknya untukku. Bahkan, ikut menemaniku bernyanyi sambil menangis heboh. Untuk sesaat aku termenung sembari mengingat wajah seorang Mateo. Aku yakin, dia bukan keturunan asia. Mata pria itu sebiru langit. Tatapannya pun tajam, terlebih saat menatapku. Rahangnya juga tegas dengan jambang disekelilingnya. Selama beberapa jam bersama, aku tidak melihat satu senyuman pun terukir di wajah pria itu ataupun banyak bicara. Terkesan dingin dan juga misterius. Raka mungkin terlihat dingin dan juga misterius. Namun, dua orang itu memiliki kesan yang berbeda. Bagiku, Raka masih mudah didekati. Mungkin karena aku sudah mengenalnya hampir seumur hidup, aku jadi tahu bagaimana membuat Raka tertawa bersamaku. “Hey!” teguran kak Cedric berhasil menyentakku. “Apa?” bentakku tanpa sadar. Kak Cedric berdecak pelan. Tiba-tiba saja dia beranjak dari stoll bar, untuk berjalan mendekatiku. Diraihnya cangkir kopi, lalu menuangkan air panas ke dalamnya. “Melamun saja! Untung tidak sedang memasak makanan.” Aku menyengir. “Sori.” Pada akhirnya kak Cedric menghela napas dalam. Kedua tangannya menyentuh bahuku, lalu memutar badanku untuk menghadapnya. Ketika kami saling berhadapan, kakakku itu menggeleng tegas, “Jangan melalum seperti ini lagi, Calista. Aku tahu kau sedang patah hati. Rasanya pasti sakit sekali, hingga membuatmu menangis tiada henti. Sayangnya, hidup itu terus berputar, Cal. Tidak baik mengingat hal yang menyakitimu. Move on!” Berpindah ke lain hati atau hal lain itu tidak mudah. Kalau itu mudah, aku tidak mungkin mencintai Raka selama belasan tahun persahabatan kami. Hanya saja, aku tetap mengangguk. Menyenangkan kak Cedric itu jauh lebih baik daripada membuat kakakku uring-uringan karena sang adik menangis tiada henti. ***** Saat Mateo datang, tiba-tiba saja kak Cedric mengusirku untuk segera ganti baju. Malas berdebat, aku pun langsung menurut. Tidak terlalu terburu, karena pada akhirnya setengah jam kemudian baru selesai memilih pakaian yang tepat. Kak Cedric tidak mengatakan ke mana tujuan kami setelah ini, maka aku memilih gaun selutut berwarna pink pastel ini serta flat shoes berwarna senada. Rambut yang tadi kuurai, kini sudah kukuncir tinggi. Riasan juga tidak terlalu berlebihan yang penting tidak seperti orang baru bangun tidur saja. Tidak buruk, tapi tidak bagus juga, yang cepat saja. Begitu merasa siap, aku bergegas menuju ke dapur. Sama seperti tadi, dua orang pria dewasa sedang berbincang serius di stoll bar. Seketika keningku mengernyit saat menemukan perubahan penampilan kak Cedric. Pria itu tadi hanya mengenakan pakaian rumahan, tapi sekarang tiba-tiba berubah menjadi pakaian kerja; kemeja biru muda, berdasi, serta jas warna biru tua. Rambutnya terlihat rapi dan klimis. Penampilan itu adalah penampilan saat dia bekerja. Sudah kuduga, dia akan kembali mengurusi kehidupannya yang sebenarnya, bekerja. Perhatianku mulai beralih pada Mateo. Pria itu jelas terlihat berbeda jauh dengan kak Cedric. Tidak ada pakaian kerja, digantikan dengan kaos hitam berlengan panjang, celana jeans, serta sepasang sneaksers. Santai dan juga tampan menurutku. Aku berdeham pelan saat berada di dekat keduanya. Membuat mereka langsung menghentikan obrolan, lalu tertuju padaku. “Kau … bekerja, kak?” Kak Cedric mengangguk cepat. “Ada urusan mendadak, maafkan aku.” “Not surprised, but still disappointed,” cibirku. “Kalau tahu begini, untuk apa aku capek-capek berganti baju.” “Nggak masalah, Cal, kau tetap pergi.” “Maksud kakak? Sendirian? Lebih baik aku menangis saja di kamar!” rengenkku tanpa sadar. “Kau pergi dengan saya.” Mateo tiba-tiba bersuara. Nada suara yang rendah itu, anehnya berhasil membuat bulu kudukku berdiri serta jantung berdebar. “Cedric sudah meminta tolong untuk menjagamu, jadi saya setuju.” “Tidak … apa-apa?” tanyaku sedikit tidak enak hati. Rasanya ingin kumarahi saja kak Cedric karena main suruh tematnya. Mateo tersenyum kecil. “Nggak masalah. Kamu juga tidak perlu merasa segan denganku. Cedric sahabatku dan kau bisa menganggapku begitu. Calista, aku juga mau kau berhenti bersedih. Kau terlalu indah untuk menangis.” Seketika kedua pipiku memanas. Kata-kata Mateo dan caranya memandangku terasa berbeda. Karena bukan hanya membuat pipiku merona, tapi hatiku juga ikut berdebar. ***** AUTHOR Ruang kerja pria itu tidak lagi terlihat rapi. Beberapa lembar kertas berserakan, kebanyakan adalah gumpalan kertas yang sengaja dibuang. Sisanya adalah beberapa buku kedokteran yang berusaha dia pelajari. Sayang, kepergian gadis itu kemarin seolah menghentikan otaknya untuk berpikir. Bayangan punggung gadisnya yang menjauh perlahan, ternyata mampu membuatnya merasa kehilangan dan tidak rela. Hidup pria itu mendadak berubah menjadi bencana. Baru satu hari dia melepaskan gadisnya, tapi dia sudah mengacauakan ruangan ini. Dia khawatir dan juga bingung. Seluruh tempat berusaha dia cari, tapi tidak ada hasil. Semua orang berusaha dia hubungin. Namun, tetap saja tidak ada yang tahu mengenai keberadaan gadis itu. Pria itu putus asa. Diusapnya wajah dengan kasar, lalu tanpa sadar melempar kembali gumpalan kertas di tangan. “Ke mana lagi aku harus mencarimu, Calista?” teriaknya. “I’m sorry….” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN