Encounter

1661 Kata
Selepas menghabiskan makanannya, Calista termenung menatap sang kakak. Saat ini Cedric tengah memainkan ponsel sembari membaringkan tubuhnya di ranjang. “Rasanya sudah lama sekali kau tidak mempehatikanku, kak,” bisik Calista yang berhasil menarik perhatian Cedric. Pria itu sontak meletakkan ponsel, lalu menoleh pada Calista. Dia tersenyum lebar. “Lima tahun,” ingatnya. Perlahan dia mendudukan dirinya di tempat tidur. Salah satu tangan pria itu terangkat untuk mengusap puncak kepala Calisata untuk dia usap pelan. “Aku bersyukur ada di sini saat melihatmu sehancur ini. Ben memang baik, tapi aku belum mempercayakanmu padanya.” “Kenapa?” Calista mengernyitkan alis. Cedric mengangkat kedua bahu, tidak ada jawaban pasti, “Hanya belum percaya. Aku belum terlalu mengenalnya.” Tiba-tiba saja Cedric beranjak dari tempat tidur. Pria itu bergegas membereskan bekas sarapan Calista. Kemudian, menghilang begitu saja dari kamar. Untuk sesaat Calista termenung di tempat. Mata gadis itu terus memutari sekeliling ruangan yang masih terlihat asing. Hingga ingatan mengenai ponsel berhasil membuatnya beranjak dari tempat tidur. Dicarinya sekeliling ruangan, sampai akhirnya menemukan koper biru yang tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Calista menduduki samping koper untuk membuka benda itu. Decakan pelan terdengar saat menemukan isi koper berantakan. Sepertinya Cedric lah yang memasukan barang-barang ini tanpa meminta bantuang pembantu mereka. Untung saja, sekalipun tidak beraturan, kakaknya itu tetap memasukkan pakaian dalam untuknya. Sayangnya, saat dia mencari-cari keberadaan ponselnya, benda itu tidak ditemukan dimanapun. Calista kembali duduk di sisi koper. Dia putus asa dan juga bingung. Di satu sisi dia membutuhkan waktu sendiri. Menghindari seluruh orang yang hendak mengganggunya. Namun, di sisi lain, gadis itu ingat janji Ben. Pria itu akan datang ke rumah hari ini. Pasti dia kebingungan mencarinya sekarang. “Kau sedang apa?” Cedric kembali memasuki kamar. Pria itu memasukan kedua tangan di saku dengan alis mengernyit heran. “Di mana ponselku, kak?” tanya Calista. Cedric mengangguk singkat. Pria itu tetap bergeming di tempat dan berbicara tanpa ekspresi, “Nikmati saja waktumu di sini. Tanpa gangguan.” “Tapi ….” “Udahlah, Cal, anggap saja ponselmu itu hilang. Bersiaplah, aku akan menunggumu satu jam lain. Berdandan yang rapi, kita pergi setelah ini.” Belum sempat Calista menyela, Cedric sudah pergi lebih dulu. Calista menghela napas dalam. Kepalanya menggeleng tidak percaya dengan sikap Cedric dan bagaimana kakaknya itu mengurus pengasingan ini. Pada akhirnya, Calista memilih menurut. Lagi pula, seminggu tidak akan mengubah apa pun yang dia tinggalkan di Surabaya, bukan? Atau pikiran gadis itu salah mengenai kehebatan waktu? ***** Cedric tengah membaca beberapa dokumen pekerjaan melalui ponsel. Berkali-kali pria itu melirik jam tangan, tapi orang yang dia tunggu tidak juga datang. Dia terlihat santai hanya dengan kaos polos abu-abu dengan jeans serta sneakers. Harusnya dia bekerja hari ini. Namun, sang adik jauh lebih penting daripada seluruh pekerjaan yang dia miliki. Begitu mendengar seseorang menutup pintu, refleks, Cedric beranjak dari duduknya. Calista sudah berdiri di depan pintu kamar. Gaun putih selutut dan sneakers sama putih dia kenakan. Tas slempang kecil berwarna kuning terlihat kontras dengan penampilan gadis itu, tapi anehnya cocok dan pas. Kacamata hitam yang bertenger sudah jelas untuk menutup mata bengkaknya. “Disuruh satu jam, tapi baru keluar dua jam. Pasti menangis dulu!” cibir Cedric. Pria itu menyesap kopinya sejenak, sebelum akhirnya berjalan mendekati Calista. Calista mendengus kesal. Sayang, kacamat hitam itu tidak dapat menutupi air mata yang tiba-tiba menetes. Membuat Cedric menghela napas dalam, lalu menggeleng. “Cengeng!” “Bawel!” Omelan Calista berhasil membuat Cedric terkekeh. Perlahan kakaknya itu menariknya ke dalam dekapannya. Diusapnya punggung sang adik dengan sayang. “Aku bingung bagaimana membuatmu berhenti menangis.” “Ajak aku belanja,” bisiknya yang langsung dibalas cibiran keras Cedric. “Duit sebanyak apa pun yang kau habiskan, tidak bisa membuatmu bahagia. Kenapa? Karena itu hanya pelarian. Kau tidak bisa mengobati luka jika hanya kau alihkan saja. Yang benar itu cari hal baik untuk mengobati luka hatimu, Calista.” Calista mendesah panjang. Dia benar-benar tidak bisa bicara sekarang. ***** Mobil yang Cedric kemudikan, tiba-tiba saja berhenti di depan sebuah KTV alias Karaoke TV. Kening Calista mengernyit. Pasalnya tempat ini sepi. Satu-satu mobil yang terparkir pun hanya milik sang kakak. “Masih tutup?” tanya Calista yang langsung dibalas gelengan Cedric. Pria itu keluar begitu saja dari mobil. Mau tidak mau Calista segera menyusul sang kakak. Begitu dia di luar, Cedric menoleh ke arahnya. Pria itu menyunggingkan senyum lebar. “Masih jam sebelas. Tempat ini baru buka pukul dua siang.” “Lalu, kenapa kita di sini?” Calista semakin tidak mengerti. “Karena ini hari pertamamu di sini. Hari pertama setelah patah hati hebat kemari. Sekarang saatnya kau menangis sepuas-puasnya. Bernyayilah sesukamu sampai suaramu habis. Lepaskan bebas dan berbahagialah,” pesan Cedric. Sebelum Calista menjawab, buru-buru pria itu menghentikannya, “Itu juga yang membuatku sudah menyewa tempat ini seharia. Kau bebas menangis di ruang mana saja, Calista.” “Gila!” Cedric terbahak, lalu menggeleng pelan. “Tidak, tidak. Lagi pula ini milik sahabat—” Suara decitan rem mobil berhasil menghentikan obrolan mereka. Sontak, kakak beradik itu menoleh menuju sumber suara. Sebuah audi putih R8 keluaran terbaru terparkir manis di samping mobil Cedric. Tidak lama kemudian, seorang pria keluar dari mobil tersebut. Tampilannya terlihat santai dengan sweater abu-abu dan celana jeans. Sepatu sneakers yang dia kenakan pun menambah kenyamanan pakaian yang dia kenakan. Perlahan, pria itu melepaskan kacamata hitamnya. Mata Calista dan pria itu langsung bersirobok di udara, membuat pria itu tersenyum kepadanya. “Hi.” “Mateo Blake!” teriak Cedric memecahkan sedikit keheningan yang sempat tercipta. Mateo, pria yang kakaknya panggil itu seketika menoleh. “Ced!” Mereka berdua segera berpelukan singkat, sebelum akhirnya Mateo kembali memusatkan perhatiannya pada Calista. Pria itu mengulurkan tangan. Refleks, gadis itu membalasnya, “Mateo, Mateo Blake.” Calista ikut tersenyum. “Calista Muller.” Perkenalan singkat mereka berakhir begitu saja. Mateo bergegas berjalan mendahului, mengiring keduanya memasuki KTV tutup itu. Ternyata di dalam sudah terisi oleh para pegawai yang siap melayani. Sembari berjalan, Cedric berbisik kepada Calista, “Mateo sahabat kakak di Harvard. Dia juga yang menyarankanmu ke sini. Karena Calista, pria yang berada di depanmu itu memiliki setengah Singapura." “Tapi … kenapa, kak?” Calista bingung. “Mungkin dia tidak tega melihatmu menangis seperti kemarin. Kau kan kemarin menangis saat aku sedang berbicara dengan Mateo.” Wajah Calista langsung bersemu merah. Dia seketika merasa malu. “Astaga, memalukan.” Cerdic lagi-lagi terkekeh. “Makanya, buat pelarianmu ke sini sebagai obat patah hatimu.” Calista termenung, tidak menjawab. Gadis itu malah tengah asyik memperhatikan punggung lebar Mateo. Kepalanya bertanya-tanya, kira-kira apa yang Mateo pikirkan saat melihatnya hancur kemarin? Pasti pria itu menganggapnya sangat menyedihkan hingga mengusulkan penculikan ini. “Cedric memberitahumu ya?” pertanyaan itu seketika menyentak Calista. Mateo ternyata telah berdiri di sampingnya. Kedua tangan bersedekap. “Aku memang yang mengusulkan ‘penculikan’ ini.” “Apa aku terlihat menyedihkan kemarin?” Mateo termenung sesaat sembari menatap lekat mata Calista. Pria itu menggeleng. “Tidak. Aku sempat mendengar obrolan kalian kemarin dan menurutku wajar saja jika reaksimu seperti itu. Calista, aku akan sehancur itu saat mengetahui orang yang kucintai menikah dengan orang lain.” “Harusnya aku mengungkapkan perasaanku lebih dulu padanya,” sesal Calista yang langsung dibalas dengan gelengan Mateo. “Kau harusnya berpikir bahwa ini yang terbaik bagi Tuhan. Kalau kau menyatakan cinta lebih dulu, mungkin saja pria itu akan menjauhimu. Kalau kau tetap diam, dia akan selamanya menjadi sahabatmu. Itulah ada peraturan tidak tertulis bahwa jangan jatuh cinta pada sahabatmu sendiri, karena kau akan kehilangan seseorang yang kau cintai sekaligus sahabat yang kau sayangi.” Sayangnya, percakapan mereka harus berakhir saat Cedric berteriak memanggil keduanya. Sepanjang karaoke Calista memang menangis, tapi sepanjang itu pula gadis itu memikirkan kata-kata Mateo. Pria itu satu-satunya yang sedikit membuat Calista sadar untuk melepaskan bayangan Raka. ***** Begitu pukul enam sore, Calista seperti tidak lagi dikenali. Wajah gadis itu memerah, begitu pula matanya. Ingus meleleh dari hidung. Riasan yang dia pakai pun ikut luntur. Meskipun begitu, gadis itu terlihat puas. “Aku saja yang menggendong dia. Lagi pula, dia juga tanggung jawabku.” Mendengar permintaan Mateo, Cedric memilih untuk mengalah. Diberinya Mateo akses seluas-luasnya untuk menuju mobil. Hanya saja ketika Calista hendak dimasukan ke dalam mobil Mateo, segera saja pria itu hentikan. Sambil menggeleng dan terkikik geli, Cedric berbicara, “Belum saatnya, Mat, bersabarlah. Taruh Calista di mobilku. Kau tidak akan suka mendengar dia terbangun sambil berteriak, kan?” Mateo mendesah panjang. Sekalipun tidak rela, tapi Cedric ada benarnya. Segera saja dia memasukkan Calista ke dalam mobil Cedric. “Jaga dia, Ced.” “Hey! Kau berlebihan, aku pasti menjaganya, dia satu-satunya adik manja dan bawel yang kupunya.” Keduanya sontak terbahak mendengar ucapan Cedric. Tiba-tiba saja pria itu menoleh pada Mateo. “Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Aku akan kembali kalau begitu, besok saja kau ke apartemen kami.” Mateo mengangguk setuju, barulah melepaskan kepergian Cedric dan Calista dari KTVnya. Di tengah-tengah perjalan, ponsel Cedric berbunyi. Nama Ben sontak membuat pria itu memasang wajah datar saat menerimanya. “Ya, Ben?” “Di mana Calista?” tanyanya sembari berteriak. Cedric termenung sesaat. “Aku tidak tahu.” “BAGAIMANA KAU TIDAK TAHU? CED, KAU KAKAKNYA.” Nada suara Ben terdengar tidak terkontrol. Pria itu bahkan frustasi. “Please, Ced, di mana Calista?” “Aku tidah tahu. Semalam aku pulang ke Amerika. Harusnya kau yang tahu dia di mana, Ben.” Suara Cedric terdengar dingin. “Tidak mungkin Calista pergi begitu saja, kan?” “Kalau dia pergi, harusnya kau cari! Kau kan sahabatnya dan berkat akan menjaganya!” “Aku tahu, aku tahu.” Ben terdengar bingung. Dia menghela napas dalam. “Aku akan mencari keberadaan Calista. Maaf, aku lalai.” Panggilan segera ditutup oleh Ben, sementara itu Cedric menatap jalanan dengan rasa bersalah. Maaf, Ben. Sebuah pemberitahuan lain masuk ke ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Mateo. From : Mateo Kuharap kau akan menepati janjimu, Ced. Biarkan aku bersama Calista selama seminggu ini. Biarkan aku juga yang mengobati luka hati dia hingga sembuh. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN