Aku tidak ingat persis apa yang membuat dia meninggalkanku. Aku kira aku sudah meminta maaf sepenuh hati karena datang ke pesta yang seharusnya aku tak pernah ada di sana. Aku kira dia sudah benar-benar memaafkanku dan melupakan apa yang terjadi, tapi sepertinya tidak. Dia memilih untuk meninggalkanku tanpa alasan dalam derita penuh tanya alasan kepergiannya.
Berbulan-bulan aku terus berusaha mencari alasan pasti kenapa aku ditinggalkan, tapi nihil. Aku tak merasa menemukan alasan memuaskan selain satu kenyataan bahwa aku ditinggalkan karena kesalahanku sendiri. Aku menunggu terus menunggu, menelpon nomor telponnya berulang kali tiap pagi setelah aku bangun dan berharap bisa mendengar suaranya, tapi usahaku sia-sia saja. Pada akhirnya semua hanya berakhir dengan kekecewaan.
6 bulan lamanya berlalu tanpa kabar darinya, dan aku masih seperti orang linglung, menunggu dia datang kembali. Awalnya aku berencana untuk pindah dari apartemennya, tapi pada akhirnya aku menahan diri dan lebih memilih menetap karena terus memikirkannya.
Hari-hariku terasa monoton tanpa dirinya -- dari rumah ke rumah sakit, terus seperti itu tiap harinya. Teman-teman sejawatku sering mengundangku menghadiri acara minum atau makan, tapi aku lebih sering tidak datang karena Taeyang juga biasanya akan datang. Ya, beberapa hari setelah insiden pesta itu terjadi, aku baru mendengar kalau dia bergabung dalam manajemen rumah sakit yang didirikan ayahnya. Aku baru tahu kalau Rumah Sakit Hallym adalah milik ayahnya -- pantas saja Na Yeon dengan entengnya merebutnya dariku. Yah, tapi sekarang aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Bagiku, hubungan antara aku dengannya sudah berakhir.
"Dokter" seru suster Song padaku membuat lamunanku seketika buyar dalam hitungan detik.
"Ne, suster Song, ada apa? Apa masih ada pasien di luar?"
Wanita 40 tahun berwajah kotak itu menarik kursi di depan mejaku dengan raut muka aneh yang tampak penasaran, "Apakah Anda akan datang ke acara Ui Sang seonsaengnim ?"
Aku meliriknya dengan bingung, Ui Sang seonsaengnim adalah pemilik rumah sakit sekaligus Ayah Taeyang
"Memangnya acara apa yang akan dilakukan?"
"Anda belum mendengarnya?" Ia mengerutkan kening tampak terkejut.
"Belum"
Ia menepuk jariku, "Akan ada acara makan malam dengan seluruh staf rumah sakit di rumahnya besok"
Aku menghela napas, mengunjungi rumahnya berarti harus siap bertemu Taeyang yang sudah lama aku hindari berbulan-bulan ini.
"Aku tidak tau apakah aku akan datang atau tidak"
"Anda harus datang, banyak orang mulai bergunjing tentang Anda yang mulai jarang berbaur dengan dokter lainnya. Apa lagi ini acara khusus yang sengaja di gelar pimpinan rumah sakit"
Aku terdiam sesaat sembari menimbang-nimbang, "Aku akan memikirkannya"
"Pastikan Anda datang... Acaranya dimulai jam 7 malam" Suster Song mengeluarkan sebuah amplop dari dalam sakunya, "Ini undangan untuk Anda" dia menepuk pundakku beberapa kali sebelum meninggalkan ruanganku dengan wajah ceria. Aku selalu senang melihat pembawaannya yang senantiasa riang tanpa beban.
Setelah jam praktek selesai, aku menunggu lift menuju losmen untuk menuju mobilku. Namun, ketika pintu lift terbuka nampak pemandangan tak menyenangkan dihadapanku-- sosok Taeyang yang angkuh berdiri seorang diri dalam lift.
Kami sempat bertukar pandang sesaat dalam keheningan. Seketika aku merasa bingung, haruskah aku lari menghindar atau tetap menghadapinya saja dengan berani seolah tak terjadi apapun di antara kami.
Setelah berpikir beberapa detik hingga pintu lift nyaris menutup, aku memutuskan untuk masuk ke dalam. Kami berdua diam seolah orang asing yang tak pernah saling mengenal.
"Hmm" ia berdehem aku tak menanggapinya. "Apakah kau akan datang ke acara makan malam yang akan diadakan di rumah Ayahku?"
Aku diam sesaat, "Aku tidak tau"
Pintu lift membuka, aku berusaha keluar dengan cepat, namun Taeyang menarik lenganku tiba-tiba membuatku terkejut, "Datanglah" Aku menghempas tangannya dengan kasar lalu buru-buru pergi tanpa berbalik lagi. Aku masih membencinya, padahal dulu aku begitu memujanya. Dia lelaki bertubuh tinggi dengan hidung mancung, mata yang besar dan garis rahang yang kuat. Dulu dia begitu sempurna, tapi sekarang tidak lagi.
**
Aku biasanya menunggu hari Minggu dengan riang gembira karena hanya hari itu aku bisa merasakan ketenangan, jauh dari pasien, dan aroma obat-obatan. Tapi entah mengapa hari ini aku merasa sangat ingin bekerja, apa lagi mengingat pesta yang akan diselenggarakan Ui Sang seonsaengnim hari ini.
Aku terus berpikir apa yang harus aku lakukan, haruskah aku pergi malam ini? Aku terus bertanya pada diriku tentang hal yang sama, hingga aku lupa makan dan waktu pun berjalan dengan begitu cepat. Ketika aku menatap jam dinding, jarum jam sudah menunjuk pukul 7 malam. Kembali aku teringat ucapan suster Song yang mengharapkan kehadiranku, lalu sempat terbersit dalam ingatanku tentang Taeyang.. mendadak aku merasa kesal dibuatnya.
Aku beranjak hendak ke kamar mandi, lalu saat itu muncul panggilan dari suster Song. Aku hampir saja tak mengangkat telponnya, tapi mengingat kebaikan dan perhatiannya padaku, aku memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
"Dokter Runa"
"Ne"
"Anda jadi datang 'kan?"
Aku terdiam sesaat mencoba berpikir, "Aku..."
"Tolong datanglah" ia terdengar begitu memohon membuatku merasa tak enak jika harus menolak ajakannya, maka aku mengiyakan permintaannya untuk datang ke sana. Entah mengapa aku tiba-tiba setuju, aku bahkan hendak memaki diriku sendiri saat ini, tapi apa daya aku sudah terlanjur mengiyakan.
Aku tiba pukul delapan lebih tiga puluh menit di rumah keluarga Taeyang yang berlokasi di kawasan elit United Nation. Tak seperti dugaanku, tak nampak wajah Taeyang di tengah pesta seperti yang pernah kupikirkan dan sempat membuatku cemas beberapa saat lalu. Aku lega bisa bercengkrama dengan para rekan sejawatku tanpa keberadaannya di sini.
"Ah, Runa" dokter Nam Jih Yo, seniroku dari bagian forensik menghampiriku.
"Sunbae"
"Kau datang sendiri?"
Aku mengangguk malu-malu.
"Kudengar kau putus dengan putra Ui San seonsaengnim?"
"Anda mengetahuinya?"
"Semua dokter menggunjingkannya" dia kemudian menunjuk ke salah satu sudut ruangan pesta di mana ada banyak tamu berkumpul.
"Dia 'kan yang merebutnya darimu. Aku melihat tingkahnya seperti keturunan chaebol saja, padahal dia bahkan sama sekali tidak setara dengan keluarga Ui Sang seonsaengnim" aku tersenyum kecut menimpalinya dan baru tersadar jika Na Yeon juga menghadiri pesta yang sama. Sepertinya harapanku untuk bisa menikmati pesta ini dengan leluasa tak akan berakhir dengan baik.
"Ayo kita minum Soju di sana" kata dokter Nam menunjuk salah satu kursi kosong.
"Saya…"
Belum sempat aku menimpali ajakan dokter Nam, tiba-tiba seseorang menyenggolku dari belakang dan membuat pakaian yang aku kenakan basah. Aku melirik ke samping tubuhku dan kudapati wajah menjengkelkan Na Yeon yang tampak sama sekali tak merasa bersalah sudah membasahi gaunku. Aku berharap bisa menjambak rambutnya seperti yang sudah aku lakukan sebelumnya, tapi aku berusaha menahan diri di tengah kerumunan orang.
"Mian" timpalnya datar dengan muka kecut.
"Hai, kau!" Sunbaenim-ku tampak kesal dibuatnya, hingga aku harus menahannya agar tak terjadi kericuhan di tengah pesta.
"Tidak apa-apa Sunbae, aku akan ke toilet sebentar untuk membersihkan diri"
Aku mencuci tanganku dengan air, lalu mengambil tisu untuk membasuh gaunku. Tak henti-hentinya aku mengutuki Na Yeon sambil berharap dia ada di sini agar aku bisa melakukan perhitungan dengannya. Untung saja warna pakaianku membuat noda minuman itu tak tampak terlalu jelas.
Di tengah suasana musik yang membahana mendadak aku mendengar bunyi letusan yang terdengar seperti bunyi kembang api meledak. Tak lama suara teriakan menggema tak habisnya, lalu menghilang setelah terdengar suara letusan yang keras berulang kali. Awalnya aku kira ada pesta kembang api, hingga aku buru-buru mengintip keluar, namun apa yang kulihat lebih mengerikan lagi.
Aku terkejut, kedua kakiku terasa lumpuh. Lantai bak kolam darah. Puluhan tubuh teronggok di lantai dengan luka tembak di tubuh mereka semua. Aku tidak tau apa yang terjadi saat itu, tapi yang pasti ini lebih mirip mimpi buruk -- orang-orang dibantai begitu saja.
Aku bersembunyi di bawah kolong meja yang berada di sudut pintu keluar toilet sembari mengintip apa yang terjadi dibalik tirai yang menutup meja. Tak lama dari arah pintu keluar kulihat UI Sang seonsaengnim ditarik jatuh ke lantai oleh 5 orang lelaki dengan senapan besar di tangan mereka masing-masing. Ia dibuat berlutut dengan tubuh gemetaran meminta dibebaskan, namun kelima orang itu abai dan terus memukulinya hingga ia meringis.
Salah satu dari mereka kemudian membuka topeng, lalu menembaknya tiba-tiba. UI Sang seonsaengnim jatuh ke lantai dengan lubang peluru menganga di kepalanya.
Kakiku gemetaran, seluruh tubuhku lemas hingga aku hanya bisa menangis saat itu. Aku dilanda ketakutan luar biasa, bagaimana kalau mereka juga menangkapku dan menembakku seperti yang mereka lakukan pada yang lain?