Bab 10

1247 Kata
Setelah mengantar Runa ke rumah sakit di Gyeonggi-do aku memutar jalan menuju hotel di Banson Dong, tempat pertemuanku dengan Paman Dalton. Aku datang terlalu pagi, tapi memang sengaja untuk menunggunya di salah satu kamar hotel tempat kami sering bertemu belakangan ini. Kamar 101 adalah lokasi rahasia tempat pertemuan kami, di mana kami membicarakan tentang misi, target dan sejumlah bayaran yang diperoleh dari setiap misi. Aku tidak ingat sudah berapa lama aku menjadi pembunuh bayaran profesional karena sudah terlalu lama berkecimpung di dunia ini. Aku bahkan sudah mengganti identitas ratusan kali agar tak tertangkap interpol. "Kau sudah datang?" Aku berpaling dari jendela tempatku mengamati keramaian beberapa saat lalu. "Kau terlambat" Dalton adalah lelaki berusia 40 tahunan. Tubuhnya tinggi dan kurus, pembawaannya cekatan. Matanya sipit, hidungnya tinggi dengan bibir tak terlalu tipis. "Belakangan ini kau menyuruhku menyelidiki hal remeh, ada apa?" Ia menarik kursi dengan mata jeli menyelidiki diriku. Aku tahu, padanya aku tak akan bisa berbohong. "Tidak apa-apa, aku hanya punya sedikit masalah" "Tentang wanita?" Aku diam tak menjawab. "Kau harus ingat Lee, kau tidak boleh terlibat lebih jauh dengan seseorang. Hubungan apapun yang kau jalin tidak akan berjalan mulus" Aku mengalihkan tatapan mataku darinya, kali ini aku tidak yakin apakah aku bisa melakukan apa yang ia harapkan atau tidak. "Aku tau, apa sekarang kita bisa membahas misi baru itu sekarang?" Dalton mengangguk. Ia mengambil sejumlah berkas dari dalam tas selempang hitam yang dia bawa. Dia menunjukkan padaku sejumlah berkas penting yang aku butuhkan seperti visa, paspor, uang, foto korban berikutnya dan sebuah peta kota Barcelona. "Aku sudah menyediakan semua yang kau butuhkan, apa yang perlu kau lakukan hanya berangkat. Ingat, secepatnya!" Aku meraih foto di atas meja. Lelaki yang menjadi korban berikutnya kuperkirakan seorang politisi berusia 60 tahun. Tubuhnya gemuk, besar, kulitnya coklat, hidungnya besar, bibirnya tipis agak panjang. "Siapa nama korban ini?" "Mario Chiaveli. Dia seorang hakim yang akan memimpin peradilan Pablo Sanchez, mavia dari Mexico yang tertangkap di Barcelona saat melakukan transaksi narkoba" "Dia sangat ceroboh" "Kecerobohannya membawa keuntungan bagi kita" Aku membawa foto itu bersamaku, "Aku akan berangkat dalam 2 hari" ** Hari ini mungkin menjadi malam terakhir aku menikmati waktu bersama Runa, jadi kuputuskan membuat makan malam lezat untuk kami nikmati malam ini. Hari ini aku juga sengaja menjemputnya di rumah sakit untuk membuatnya lebih terkesan. Aku ingin menikmati detik-detik berharga ini dengannya. Dari jauh ketika melihatnya keluar dari rumah sakit dengan senyum lebar membuatku merasa lega. Dia melambaikan tangannya padaku lalu berlari ke arahku. "Kau sengaja menjemputku?" Tanyanya dengan raut wajah yang begitu manis. Sangat manis sampai aku berharap bisa menjilati tubuhnya. "Untuk memberi kejutan" "Aku tidak menyangka kau bisa bersikap semanis ini" Aku tersenyum tipis sambil melihat ke arah jalan. "Oh, ya, ada yang ingin kukatakan padamu" Dia mengeluarkan sebuah amplop merah dari dalam tas kerja yang ia kenakan, "Kejutan" ia tampak begitu gembira ketik menunjukkannya membuatku penasaran, ada apa dengan undangan itu. "Undangan apa itu?" "Oppa Taeyang, dia mengundangku datang ke pestanya malam ini" senyumnya ketika mengingat tentang lelaki itu membuatku tercekik. Apa dia masih belum bisa melupakan si b******k itu? Ingin sekali aku meninju wajah Oppa kebanggaannya itu. Aku meraih undangan yang dia pegang lalu merobek-robeknya di depan matanya, "Jangan datang" "Apa yang kau lakukan?" Protesnya ketus, "Kenapa aku tidak boleh pergi?" "Apa kau akan kembali padanya?" "Hanya karena aku datang ke pestanya tidak berarti aku akan kembali padanya 'kan? Lagipula kalau kau tidak mau aku pergi sendiri, kita bisa pergi bersama" "Aku tidak akan pergi, begitu juga denganmu" "Sebenarnya ada apa denganmu? Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan lagi, sekarang aku punya kau" Mendengar kata itu dari mulutnya tetap saja tak membuatku lega, "Jika kau tetap menemuinya, jangan pernah menganggap ada hubungan di antara kita" Aku menutup pembicaraan itu dengan kata-kata yang tegas dan tajam supaya di bisa mengerti dan berhenti berhubungan dengan lelaki itu. Aku tau ucapanku keterlaluan, saat aku melirik sebentar ke arahnya bisa kulihat tetes air mata yang tertahan di garis matanya. Pertengkaran pertama kami ini membuatnya terus diam sampai kami kembali apartemen. Dia masuk ke dalam rumah lebih dulu meninggalkanku. Rencana makan malam yang awalnya kupikir akan menyenangkan berakhir dengan begitu hambar, tanpa dia disisiku. Aku duduk seorang diri di meja makan, menatap pasta kesukaannya yang perlahan mendingin, sedingin hatiku. Untuk mengalihkan kekecewaan aku sibuk memeriksa peta bangunan yang akan kugunakan dalam misi berikutnya. Aku menganalisa tempat yang cocok untuk kujadikan area eksekusi, yang tak menarik perhatian tapi dekat dengan mangsaku. Saat tengah sibuk menyusun rencana, aku melihat Runa turun dari kamar mengenakan jaket tebal dan menenteng sebuah tas kecil. Aku yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku, karena dia terus memegang jaketnya seolah berusaha menyembunyikan sesuatu. Meski aku tahu dia mungkin tak akan menjawab, aku tetap bertanya padanya. "Kau mau ke mana?" Ia berhenti di ambang pintu tak berani menatap ke arahku "Mmm... ada beberapa hal yang ingin kubeli di luar sebentar. Aku pergi dulu" Karena tidak yakin dengan jawabannya, aku mengikuti ke mana dia pergi dengan mobil, dan seperti dugaanku dia pergi ke rumah Taeyang di Geyonggi-do. Aku berhenti di pelataran jalan sejenak sambil melihat Runa masuk ke dalam. Setelah itu aku memarkir mobil di luar pintu pagar rumah berlantai dua itu. Aku menunggu Runa keluar selama hampir 10 menit lamanya dengan perasaan was-was. Pria seperti Taeyang hanya peduli pada penampilan dan tubuh wanita. Sangat mudah membaca sepak terjang dan segala tindakannya, tapi berbeda dengan Runa yang terlalu naif dan tak bisa mengerti hal itu. Setelah lama menunggu dan ia tak kunjung keluar, aku memutuskan masuk ke dalam. Pesta di rumahnya memang tengah meriah-meriahnya, musik menghentak, semua orang berjoged di lantai dansa seolah melupakan dunia. Aku berusaha mencari keberadaan Runa di antara kerumunan dengan susah payah. Sayangnya sulit menemukannya. Aku sampai harus mengelilingi tempat itu dua kali, hingga melihatnya sedang minum di pinggir kolam renang bersama Taeyang. Mereka duduk berdekatan, Taeyang tak henti-hentinya berusaha menyentuh tubuh Runa. Ia berusaha menjaga jarak dari lelaki itu, tapi sepertinya sulit bagi Runa yang sudah tampak mabuk untuk mengelak. Aku berjalan menghampiri mereka, namun sebelum tiba di tempat mereka duduk, Taeyang sudah lebih dulu membopong Runa yang sudah sempoyongan dengan susah payah. "Berikan dia padaku" kataku sengaja menghadang jalan mereka. Taeyang menatap tajam, "Kau lagi?" "Dia wanitaku" "Cieh" ucapnya ketus. Bukannya memberikan Runa padaku, dia malah melepaskan tangannya hingga membiarkan tubuh Runa oleng dan jatuh ke dalan kolam renang yang dingin. Aku melompat untuk menyelamatkannya. Dia sangat kewalahan hingga nyaris saja tenggelam. Suasana ricuh sejenak, membuatku merasa tak bisa membiarkan hal ini begitu saja. Lelaki itu akan membayar tindakannya. Setelah membaringkan Runa di tepi kolam renang, aku naik ke atas memberinya napas buatan. Tak lama ia mengeluarkan sejumlah besar air dari dari mulutnya. Taeyang si b******n itu hanya menyeringai tipis setelah hampir membuat Runa mati. Aku menghampiri lelaki itu. Dia masih bisa tertawa ketika melihatku, tapi tidak lagi setelah aku menonjok keras batang hidung dan bibirnya hingga mengeluarkan darah. Aku lega melihatnya. ** Pagi menjelang tanpa terasa. Aku terjaga dari tidurku dan baru menyadari kalau sepanjang malam aku hanya berbaring di sofa mengamati keadaan Runa. Apa dia baik-baik saja sekarang, apa dia sudah membuka mata? Aku beranjak ke sisinya dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya merah penuh air mata. Aku tidak tau kenapa dia menangis. "Ada apa?" Dia tiba-tiba memelukku, "Maafkan aku, tidak mendengarkanmu" Aku baru saja ingin marah padanya, tapi melihat penyesalan dirinya aku merasa tidak berdaya. "Sudah kukatakan jangan temui dia lagi" "Aku bersumpah tidak akan menemuinya lagi. Tolong jangan marah padaku" "Tidak, tenanglah" aku menepuk-nepuk lengannya untuk membuat dia merasa lebih nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN