Bab 9

1364 Kata
Lee sibuk memotong sayur-sayuran dengan tangannya yang begitu luwes dan cekatan, sementara aku hanya dibiarkan menatapnya dari sudut dapur. Dia menggoyangkan pisau dengan enteng bak sedang menari, seolah tidak begitu kerepotan saat harus memotong sayuran dan membuat bumbu pasta yang diberi lelehan keju. Dia menyadarinya atau tidak, sebenarnya dia terlihat begitu tampan saat tengah benar-benar serius. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Kataku setelah sekian lama mengamatinya. "Katakan?" "Apa kau benar-benar sudah tidur dengan banyak wanita" "Secara teknis aku tidak menghitungnya. Kita tidak pernah ingat berapa kali kita bernapas 'kan?" Aku menghela napas, entah dia terlalu jujur atau terlalu b******k sebagai seorang lelaki. Tapi pengakuannya ini membuatku geleng-geleng kepala. Sebanyak itukah perempuan yang dia tiduri, apa itu berarti dia juga sama sekali tidak peduli dengan keberadaanku dan menganggap diriku sama saja dengan semua perempuan teman tidurnya? "Mantan kekasihmu pasti sangat banyak" "Aku tidak punya kekasih, hanya partner s*x" ucapnya dingin sambil memotong daun bawang dengan cepat. "Kau pernah membawa mereka kemari?" "Tidak, kau yang pertama menginjak dan tau rumahku" mendengar pengakuannya entah mengapa sempat membuat jantungku berdebar. Aku tersenyum malu-malu tanpa dia sadari. "Tapi, apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya?" "Aku tidak percaya cinta" "Kenapa?" "Hubungan berlandaskan cinta memuakkan, pada akhirnya kau hanya dicampakkan" dia menatapku begitu dalam membuatku buru-buru berpaling karena gugup melihat matanya yang seolah menelanjangi perasaanku. "Aku berpikir akan pindah saat gajiku cair bulan ini" kataku berusaha mengalihkan pembicaraan kami. "Di mana kau akan tinggal?" "Kurasa aku akan mencari rumah dekat rumah sakit" "Kedengarannya bagus" Tingkahnya yang biasa-biasa saja mendengar aku akan pergi membuatku merasa tiba-tiba kesal dan kecewa. Hanya seperti itu saja kah perhatiannya padaku? "Spaghetti kesukaanmu sudah siap, mau makan sekarang?" "Mendadak perutku kenyang, kau makan saja sendiri" gerutuku lalu pergi ke kamar. Aku tidak tau kenapa aku jadi bertingkah seperti ini, tapi memang sudah seharusnya dia menunjukkan padaku kekhawatirannya mengetahui aku akan pergi dari sini 'kan? Apa yang terjadi antara kami tidak bisa dibandingkan dengan apa yang sudah dia lakukan dengan perempuan lain di luar sana. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu dengan siapa pun. Dia laki-laki pertama yang menyentuhku tapi kenapa dia begitu dingin? Aku menghela napasku dengan berat seolah ada beban di atas dadaku. Kumainkan ponsel hingga tengah malam, tapi tiba-tiba rasa lapar menderaku. Aku berusaha menutup mata, menggantikan makan dengan tidur, tapi malah hal itu sia-sia saja. Aku tidak bisa memejamkan mata. Akhirnya aku putuskan turun ke bawah untuk memasak mie instan kalau memang ada di dapur. Aku mengendap hati-hati agar tak terdengar siapapun, namun tanpa sengaja aku menjatuhkan wajan di tempat cuci piring saat hendak mengambil panci air. Tak ayal keberadaanku di sadari Lee yang tiba-tiba muncul, dia berdiri di sudut dapur dengan tangan bersedekap di d**a sembari tersenyum puas. Entah apa yang membuatnya begitu gembira. "Apa yang kau lakukan, mengendap-endap seperti kucing lapar?" "Aku bukan kucing dan aku tidak lapar" Ia menyeringai dengan bibirnya yang tipis dan mempesona. "Lalu untuk apa kau memegang mie instan ditanganmu?" Aku buru-buru menyembunyikan mie itu dibelakang punggungku, "Tidak apa-apa, aku baru akan mengembalikannya" "Kemarilah, kita makan bersama, kebetulan aku sedang lapar" "Kau belum makan?" "Makan sendiri terasa tidak enak. Spaghetti-nya sudah dingin sejak tadi. Rasanya mungkin tidak akan selezat saat masih hangat" Aku menghambur ke arahnya dan melupakan kemarahanku sesaat tadi, "Tidak apa-apa, panas atau dingin tak ada bedanya" Meski dia mengatakan jika spaghetti itu terasa tak enak karena sudah dingin, kenyataannya tetap saja terasa lezat di lidah, membuatku memakannya tanpa sisa. "Sepertinya kau sangat kelaparan?" "Memangnya seperti itu?" "Kau menghabiskan semua spaghetti itu" Aku melihat piringku yang sudah tampak bersih. "Kau mau makan bagianku?" "Tidak perlu, kau habiskan saja. Aku akan cuci piringku dulu" Setelah mencuci piring aku meninggalkannya menuju ruang televisi untuk menonton drama tengah malam. Aku tak menduga Lee menyusul kemudian dengan membawa dua gelas dan sebotol wine merah. "Mau minum?" Ucapnya ramah. "Aku tidak mau mabuk" "Minum sedikit tidak akan membuatmu mabuk, kecuali kau habiskan semuanya" Aku terdiam lalu mengiyakan ajakannya. Kami duduk bersisian dengan jarak yang cukup dekat. Jantungku berdebar agak kencang dan aku mulai merasa gugup sampai aku buru-buru menghabiskan wine yang ia tuang ke dalam gelasku. "Kita bahkan belum bersulang" timpalnya sembari tertawa lirih. "Maaf" Kami kembali terdiam. Aku berusaha konsentrasi menonton televisi, tapi menyadari keberadaannya disampingku membuat semua usaha itu seolah sia-sia saja. "Lalu" katanya membuatku segera berpaling menatapnya, "Bukankah kau orang Jepang, lalu kenapa memilih bekerja di Seoul?" "Aku hanya berpikir kalau bekerja di Seoul akan lebih baik. Ada banyak kesempatan besar di sini" Dia menekan remot kemudian mematikan televisi membuatku berpaling padanya dengan sedikit terkejut. "Suara televisi itu hanya mengganggu" aku mengangguk dengan canggung. "Lalu kau sendiri, bagaimana?" "Aku menjalankan bisnis keluarga" "Tapi aku jarang melihatmu meninggalkan rumah?" "Semuanya bisa diatasi lewat komputer, lagipula aku tidak begitu senang direpotkan dengan hal-hal macam ini" "Lalu bagaimana dengan orangtuamu? "Mereka tinggal di Shanghai setelah pensiun, jadi aku yang menjalankan bisnis mereka. Lalu bagaimana denganmu?" "Ibuku meninggal saat aku masih kecil, jadi yang merawatku hanya ayahku" Lee mengangguk lalu mengguncang gelas winenya beberapa kali sambil menciumnya, kemudian meminumnya dengan pelan. Aku meniru apa yang dia lakukan dan hal itu membuatnya tertawa. "Aku senang kau berada di sini" aku meliriknya penuh makna. "Kenapa?" "Tempat ini kadang-kadang terlalu sepi, jadi aku biasanya menghabiskan waktu di klub malam" "Apa kau tidak punya teman yang bisa dikunjungi?" "Aku hanya punya satu teman" "Sama denganku, tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak punya seorang temanpun" kataku kesal ketika mengingat wajah menyebalkan Na Yeon. Dia kembali tertawa dengan manis, kemudian menyalakan musik piano dari ponselnya. "Aku suka lagu ini" ucapnya dengan tatapan lembut. "Kau tau judulnya?" "Tidak, tapi seseorang pernah memainkannya untukku" "Seorang wanita?" "Ya, bibiku" Aku menyeringai tipis mengira yang memainkannya adalah mantan kekasihnya. "Mau berdansa?" Ucapnya sembari menyodorkan tangannya padaku. Aku meraihnya dengan senang hati. Kami berdiri dalam posisi teramat dekat sampai hembusan napasnya terasa begitu hangat di keningku. Tubuhnya tinggi sampai membuatku merasa pendek. Tangannya yang panjang ia letakkan di pundak dan punggungku, sementara aku memposisikan tanganku di punggung dan lehernya. Darahku tiba-tiba berdesir, suasana seperti apa ini, kenapa aku begitu gugup dan ingin lebih dekat dengannya? Wajah Lee makin condong ke arahku sampai aku bisa merasakan aroma napasnya yang masih tercium aroma wine pekat. Tanpa sadar tanganku menjangkau pipinya lalu menyentuh hidungnya yang tinggi. Mata sipitnya tampak berkilau menatap ke arahku. Aku merasa seperti terhipnotis. "Apa aku boleh mencium bibirmu?" Lee berbisik hangat di telingaku membuat tubuhku rasanya merinding. Aku menatapnya makin dalam lalu memegang pipinya dengan kedua tanganku. Mataku menutup, aku mengecup bibirnya lembut, dan pelan untuk merasakan lembut bibirnya yang menempel di bibirku. Tapi ciuman itu tak lama, ia melepas ciumannya begitu saja membuatku kecewa. Tapi ia kemudian mengangkat tubuhku menuju kamarnya. Suasana terasa makin panas, aku tidak bisa menahan darahku yang mendidih. "Apa yang akan kita lakukan?" Kataku berpura-pura bodoh. "Apa yang kau harapkan?" "Apa kita akan bercinta?" Aku terkejut bisa mengatakan hal itu tanpa malu lagi padanya. "Tidak" Aku merengut. Lee sepertinya tau aku kesal, tapi ia tampak tak begitu peduli dengan apa yang aku rasakan. Dia duduk di atas tempat tidur lalu melepaskan pakaian yang aku kenakan sambil berbisik lembut. "Aku ingin menyentuhmu, dan merasakan tubuhmu" Tangannya mencengkram punggungku lalu mengangkat tubuhku naik ke atas pangkuannya. Pelan tapi pasti bibirnya mulai menggerayangi leher, pundak, lalu perlahan turun ke bawah kedua payudaraku yang dia lumat dengan lembut, terkadang kasar, membuatku mengerang dan menggeliat. Aku mencengkram lehernya, dia melepas pakaiannya lalu membaringkanku di atas tempat tidur. Aku berusaha membuka celana yang dia gunakan, tapi dia malah menahanku. "Sudah ku bilang aku tidak mau bercinta denganmu sekarang" "Apa kau yakin?" Di menempelkan dadanya ke payudaraku, "Aku ingin tidur" ** Aku terjaga dari tidurku, merasakan hangat napas mulut Lee yang menyembur di kedua payudaraku. Aku membuka selimut, dia masih memelukku dengan erat. Aku berusaha tidak bergerak agar tidak membangunkannya. "Kau sudah terbangun?" Katanya tiba-tiba membuatku terkejut. "Harusnya aku yang berkata begitu. Kapan kau bangun?" "Dari tadi, tapi melihatmu masih tidur membuatku memilih berbaring lagi" Aku melepas selimut yang kukenakan dan sengaja menggodanya dengan tubuh setengah telanjangku. Dia hanya melirik sekilas membuatku merasa kalau dia sedang tidak tertarik. "Kau akan ke rumah sakit 'kan?" "Iya" Lee meraih pakaianku yang berhamburan di lantai, lalu menyelimutinya di tubuhku. "Kalau begitu mandilah, aku akan menyiapkan sarapan untukmu"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN