Peristiwa yang tak menyenangkan yang terjadi di antara kami berakhir buruk. Dia pasti dan memang akan menyalahkanku atas apa yang terjadi antara kami, dan aku tidak bisa mengelak. Aku kehilangan kontrol diri.
Hari ini aku pulang lebih awal untuk meminta maaf atas ucapanku dan terpaksa menunda pembicaraanku dengan Paman Dalton tentang misi kami berikutnya di Barcelona. Tapi ketika aku membuka kamarnya semua pakaiannya sudah tak ada di lemari. Dia tidak meninggalkan apapun sebagai tanda pamit baik-baik, dia pasti marah.
Aku berpikir dengan keras dimana kira-kira sekarang dia berada. Di rumah mantan temannya? Tidak, tidak mungkin! Di hotel? Dia tidak punya uang sepeserpun! Rumah sakit?
Setelah terbersit dalam ingatanku satu-satunya tempat yang akan dia datangi aku meluncur ke Rumah Sakit Hallym. Benar saja tebakanku, kopernya masih berada di ruang kerjanya tapi dia tidak ada di sini, di mana Runa?
Tak berselang lama setelah aku datang akhirnya dia muncul dengan muka kusut dan tatapan penuh kebencian, tidak ada yang bisa kukatakan selain kata maaf dan memintanya pulang denganku. Awalnya dia menolak, tapi setelah lampu ruangannya padam, dia akhirnya memutuskan untuk mengalah.
Sepanjang perjalanan pulang kami terlibat perbincangan tentang semua yang sudah terjadi antara kami. Aku ingin dia melupakan apa yang terjadi supaya kami bisa bersikap biasa, tapi dia begitu sinis dengan tawaranku. Sebaliknya dia memintaku untuk membantunya balas dendam pada mantan kekasihnya, tidak buruk. Jika hal itu bisa membuatnya lebih lega tidak masalah bagiku.
Untuk menunjang balas dendamnya aku meminta Paman Dalton mencaritahu segala hal tentang laki-laki bernama Taeyang itu. Rupanya dia juga seorang dokter di rumah sakit yang didirikan ayahnya. Dia seorang lelaki kaya dengan tingkah buruk yang senang sekali berselingkuh, sayangnya semua sifat buruknya itu tidak diketahui Runa, aku kasihan padanya.
Satu kabar mengejutkan yang terdengar menyenangkan tiba kemudian. Kudengar Taeyang dan mantan teman Runa akan bertunangan Minggu depan, kurasa ini saat yang tepat untuk melakukan balas dendam.
Kusampaikan kabar ini pada Runa, tapi dia sama sekali tampak tak semangat dan semakin murung. Aku menyemangatinya dan mengatakan kalau ini adalah kesempatan baik untuk balas dendam dan syukurlah di setuju dengan usulanku.
Aku membelikannya pakaian baru yang lebih terbuka untuk menunjukkan pada dunia lekuk tubuh indahnya yang tersembunyi. Dia tampak kikuk dengan pakaian itu, tapi aku senang melihatnya.
Akhirnya tiba juga hari pertunangan Taeyang. Hari yang ditunggu-tunggu oleh Runa. Dia berdandan sebaik mungkin dan mengenakan pakaian terbaik. Awalnya dia bingung, dari mana aku tau tempat acara itu berlangsung, tapi aku meyakinkannya bahwa aku punya banyak cara untuk mencaritahu apa yang ingin kuketahui dan jawaban itu mau tidak mau ia terima dengan baik.
Acara pertunangan mereka dilangsungkan di hotel Lafayete, pukul 8 malam. Hari itu aku datang dengan Runa. Dia tampil dengan pakaian terbaik dan riasan yang menambah kecantikan alaminya sampai semua orang dalam ruangan pesta itu terkagum-kagum melihatnya. Aku bangga bisa berada di sampingnya sekalipun hal itu hanya untuk pura-pura. Kami belum jadi pasangan sebenarnya.
Saat melihat kemunculan kami, teman Runa tampak begitu sinis menatap kami berdua sampai-sampai dia tidak kuasa mengalihkan perhatiannya dari kami begitupun Taeyang yang begitu terkesima melihat Runa. Namun gadis itu tampak tak peduli, ia bahkan tidak malu-malu menunjukan kemesraannya denganku, bahkan tidak sungkan mencium bibirku di hadapan semua orang. Sekarang rasanya calon pengantin tidak lagi mencuri perhatian, tergantikan oleh kehadiran kami.
"Maaf harus menciummu" katanya sembari berbisik
"Aku memaafkanmu untuk sementara waktu demi balas dendamu"
"Kau baik sekali" ucapnya seraya tersenyum lebar. "Aku tidak akan lama-lama di sini. Aku hanya ingin menunjukkan wajahku di sini lalu pergi"
"Setidaknya salami calon pengantin"
"Aku setuju" dia mengedipkan mata dengan genit membuatku tak kuasa menahan senyum.
"Selamat atas pertunangan kalian" kataku mengulurkan tangan pada mantan kekasih Runa, tapi tampaknya sikap bersahabatku tidak diterima dengan begitu baik.
"Selamat Oppa" Runa mengulurkan tangan dan disambut baik.
"Gumawo, siapa lelaki ini?"
Runa mengaitkan tangannya makin mesra padaku, "Pacar baruku, namanya Lee"
"Bukankah dia yang waktu itu datang ke apartemen kalian?"
"Ya, sepertinya kami sudah lama saling menyukai dan baru jujur pada perasaann kami beberapa hari belakangan ini. Benarkan Honey?"
Aku berpaling sembari tersenyum, "Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk bersama gadis luar biasa seperti Runa"
Taeyang menatap sinis padaku, "Lalu sekarang kau tinggal di mana?"
"Kami tinggal bersama" lelaki itu tampak terkejut dengan jawabanku.
"Kami harus pulang dulu, karena kami akan makan malam bersama. Benarkan Honey?"
"Tentu saja"
"Sekali lagi selamat untuk kalian berdua" tutup Runa dengan senyum lebar yang tampak begitu puas dengan balas dendamnya yang berjalan lancar.
Sepanjang perjalanan pulang kami dibuat tertawa melihat tingkah pasangan ini. Runa sangat terhibur menikmati raut muka sahabatnya yang seperti kesetanan tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
"Gumawo, karena bantuanmu aku bisa balas dendam pada mereka"
"Apa itu berarti kita sudah bisa melupakan apa yang terjadi?"
"Apa kau benar-benar ingin melupakan apa yang terjadi malam itu?"
"Kau tidak mau?"
Runa termenung menatap ke arah hamparan jalan, "Bukan tidak mau, hanya sepertinya tidak bisa. Aku harap bisa memberikan tubuhku pada suamiku nanti, tapi sepertinya semua hanya angan-angan"
"Sepertinya kau sangat konservatif"
"Kuno maksudmu?"
"Anggap saja begitu"
Kami sama-sama terdiam dalam keheningan beberapa saat sementara mobil masih melaju kencang melewati jalanan Gangnam.
"Kau ingin makan malam di rumah atau di luar saja?"
"Sejujurnya aku ingin makan spaghetti yang kau buat, apa tidak apa-apa kalau kita pulang saja?"
"Terserah padamu"