Bab 7

809 Kata
Membayangkan apa yang terjadi pada kami membuatku tidak sanggup tinggal bersama dengannya. Hari itu juga aku mengemas koperku lalu pergi dari sana, meski aku bingung di mana aku akan tinggal tanpa sepeserpun uang dalam kantongku. Menjelang waktu praktek selesai hatiku di buat gamang, dimana aku akan tidur malam ini? Kutatap tempat tidur pasien di sampingku, aku menghela napas, mungkin malam ini aku akan bermalam di sini saja sebelum memutuskan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Menjelang malam perutku sudah keroncongan. Aku berusaha menulusuri tiap sudut dalam rumah sakit untuk menemukan makanan, tapi apa yang kutemukan hanya bungkus obat di mana-mana. Aku menghela nafas pendek lalu kembali ke ruanganku dengan putus asa. "Kau sudah kembali?" Aku terkejut ketika mendapati pria b******k itu sudah ada dalam ruanganku dengan wajah tak berdosa, ingin sekali rasanya aku membunuhnya saat itu. "Untuk apa kau kemari?" "Aku minta maaf untuk ucapanku tadi pagi. Apa yang terjadi adalah kesalahan" "Ya, itu memang kesalahan dan kau yang menjebak ku" "Apa kau akan terus menuduhku seperti ini?" "Memang kaulah yang bersalah, benar'kan?" Saat kami tengah berbincang, tiba-tiba lampu ruanganku padam, membuatku meloncat ketakutan kearahnya. "Apa ini, mereka mematikan lampu ruanganku?" "Apa kau akan tetap berada di sini?" "Kenapa, apa urusannya denganmu" "Kalau kau mau aku bisa mengantarmu pulang bersamaku" "Dan kau akan melakukan hal yang sama seperti kemarin malam?" "Aku sudah bilang aku tidak membuatmu melakukan itu, kau yang memaksaku" Perutku mendadak berbunyi dengan nyaring membuatku merasa malu. "Kau belum makan malam 'kan? Kita bisa makan bersama jika kau mau" "Kau pikir aku mau?" Sekalipun saat itu aku ingin menolak ajakannya, pada akhirnya aku tetap ikut dengannya entah karena apa, padahal seharusnya aku sangat membencinya sampai ingin membunuhnya. "Kau ingin makan apa?" "Tteokbokki" "Aku tau ada restoran tteokbokki yang enak di sekitar sini" Aku menatap sinis ke arahnya, "Kita makan di rumah saja" "Kenapa?" "Pokoknya kita makan di rumah saja" "Apa karena kau tidak punya uang sekarang" Ia bisa menebak isi hatiku dengan baik, membuatku merasa semakin kesal, "Sudahlah, pulang saja" "Aku yang akan mentraktirmu, anggap saja sebagai permintaan maaf ku" "Aku tidak akan mudah disogok" Mendadak ia menghentikan mobilnya, membuatku makin bingung dan cemas, apa maksudnya? "Kita anggap saja tidak terjadi apa pun di antara kita malam itu" "Enak saja, apa ini caramu lari dari tanggungjawab?" "Memangnya tanggungjawab apa yang kau ingin aku lakukan, menikahimu?" Mendengar dia mengatakan hal itu membuatku tidak bisa menahan tawa. "Aku lebih tidak bisa membayangkan hal itu… kau terlalu b******k untukku" "Lalu?" "Aku mau kau membantuku balas dendam pada Taeyang" Ia menghela napas, "Mantan pacarmu waktu itu?" "Iya, aku mau membuatnya menyesal sudah meninggalkanku" "Kalau begitu mudah saja, kau cukup membuat dirimu tampak berbeda seperti yang dia inginkan" "Seperti apa?" Aku meliriknya penasaran. "Kau terlalu tertutup, semua gaya berpakaianmu tampak kuno. Jika kau mau membuatnya menyesal, kau harus terlihat seperti gadis modern yang bisa mematahkan hati siapa saja" "Apa kau bersedia membantuku?" "Tentu saja" Aku harusnya tidak pernah meminta atau menerima bantuan darinya, jika tidak aku mungkin tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Sejak dia pergi tanpa pamit, aku selalu sendirian di apartemen itu menunggu dia akan kembali sekalipun aku tidak yakin jika dia benar-benar akan kembali atau tidak. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tidak pergi saja dari sana, aku sudah punya cukup banyak uang untuk menyewa rumah yang berjarak tak jauh dari rumah sakit, tapi pikiranku selalu berharap dia akan kembali membuatku tidak berdaya dan selalu menunggunya membuka pintu dengan senyum dingin yang mencairkan hatiku. ** "Kita akan mengubah penampilan mu, jadi sebaiknya kau segera bangun" ucapnya ketika aku baru membuka mata. Setengah mengantuk aku duduk di samping tempat tidur. "Ini hari Minggu, aku ingin tidur lebih lama" kataku berusaha merebahkan diri ke atas ranjang, namun ia menarik lenganku, menahanku membaringkan kepala di atas bantal. "Justru karena ini adalah hari libur, akan lebih baik untuk memulainya hari ini! Kau tau, aku dapat kabar baik" "Kabar baik apa?" "Mantan kekasih dan temanmu akan bertunangan Minggu depan" Aku mengerutkan kening dengan heran, bagaimana itu bisa jadi kabar baik untukku, itu bahkan lebih buruk dari mimpi paling buruk di dunia. "Dan menurutmu itu kabar baik?" "Itu adalah waktu yang tepat untukmu menunjukkan diri dan melakukan balas dendamu" Aku mengangguki kebenaran ucapannya, "Kalau begitu tunggu apa lagi, kita pergi sekarang" dia menarik tanganku, namun aku menahannya. "Tapi, aku tidak punya uang" "Kau memintaku bertanggung jawab 'kan, jadi anggap saja ini ganti rugiku" "Kau serius?" "Tentu saja" Kami pergi ke banyak toko pakaian yang bercokol di seputar jalanan Gangnam. Memasuki toko satu persatu dan membeli semua pakaian yang dia rasa cocok denganku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu karena aku yakin dia tidak mengeluarkan sedikit uang untuk ini. "Sekarang kita akan mendadanimu" katanya ketika kami berhenti di depan sebuah salon besar. "Aku rasa penampilanku sudah cukup bagus" "Kau terlalu polos, belajarlah untuk berdandan, dan kau akan terlihat semakin cantik. Ayo masuk!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN