Bab 6

550 Kata
Dia minum sambil menangis. Aku kira sebentar lagi matanya akan bengkak sampai dia tidak akan bisa membuka mata karena tidak bisa menghentikan tangisnya. Bukan hanya itu, dia juga tidak berhenti minum bir seolah itu adalah air putih atau jus saja yang bisa seenaknya ia tenggak sesuka hati. Aku bisa sedikit memaklumi, apa yang dia alami mungkin tragis, dikhianati teman dan kekasih, dua hal yang tidak kumiliki jadi aku tidak mengerti bagaimana hal itu bisa terasa sangat menyakitkan. "Pria b******k" katanya memaki dengan tubuh terhuyung, "Aku akan balas dendam. Dia meninggalkanku hanya karena aku tidak mau tidur dengannya. Dia pikir aku tidak bisa bercinta seperti yang dia harapkan? Tentu saja aku bisa. Aku bisa bercinta dengan siapa saja yang aku inginkan kalau aku mau. Benarkan?" Dia menatapku penuh harap, membuatku tak tega menolak ucapannya. "Kurasa begitu" Ia tertawa terbahak-bahak dengan wajah bahagia kemudian sebentar-sebentar menangis, membuatku bingung bagaimana menghadapinya. "Apa kau mau bercinta denganku" Aku terkejut hingga tanpa sengaja menyemburkan bir dalam mulutku. "Apa yang sedang kau pikirkan, apa kau sudah gila?" Dia menarik kerah pakaianku dan duduk di atas pangkuanku. "Aku tidak gila, aku hanya ingin membuktikan kalau apa yang si b******k itu pikir tentangku salah" Aku berusaha menariknya turun dari pangkuanku, tapi apa yang dia lakukan semakin tak terkendali. Dia mulai melumat bibirku dan membuat hasratku yang tak seharusnya muncul pada orang mabuk nan malang ini bangkit tak terkendali. "Aku bilang turun!" Aku mendorongnya jatuh dan seketika ia mengucurkan air mata yang begitu deras dan menunjukku seperti orang jahat yang sudah melukai dia dan harga dirinya. "Lihatkan, aku begitu menyedihkan sampai kau juga menolak tidur denganku" Aku berusaha membujuknya agar hatinya tak makin hancur, "Bukan begitu, aku hanya tidak mau kau mengambil keputusan yang salah dalam keadaan mabuk seperti ini" Dia bangkit sambil menyeka air matanya. Langkahnya menyeret dan terhuyung seolah dia akan selalu jatuh tiap kali melangkah. "Aku tidak mabuk, aku sangat sadar, aku menginginkanmu" Dia mendorong tubuhku terjatuh ke atas kursi, lalu melepaskan kemeja besar yang membalut tubuhnya. Saat itu aku tiba-tiba merasa begitu beruntung bisa melihat lekukan tubuh indahnya yang belum pernah dilihat siapapun selama hidupnya dan tidak pernah kulihat sepanjang umurku. Dia memiliki pinggang yang ramping, pinggul yang besar dan d**a yang indah, tidak kecil, tidak besar, seukuran telapak tanganku. Aku menyentuh tubuhnya, darahku mendadak berdesir, tapi tiba-tiba aku teringat kalau ia sedang mabuk. Kalau dia tidak bisa menahan diri, setidaknya aku bisa berbelas kasih menahan hasrat liarku. Aku meninggalkannya kembali ke kamar sambil berusaha menenangkan hasratku sendiri. Namun, saat aku mulai menunjukkan belas kasihku, dengan bodoh dia muncul lagi. Mendorongku ke atas kasur sambil melepas pakaianku. Kalau begini, aku benar-benar tidak akan bisa menahan diri. Jangan salahkan aku! Kami berciuman, ciuman yang teramat liar sampai ke ujung bawah tubuhku yang sudah bergetar tidak bisa menahan hasrat bercinta. Saat itu tanpa bisa menunggu lagi dengan sabar, dia melepaskan celanaku yang membuatnya tampak sangat antusias. "Kau lebih seksi dari yang kuduga" katanya tertawa dengan nyaring membuatku merasa senang mendapat pujian tak malu-malu darinya. "Jadi kau benar-benar ingin tidur denganku?" Sekali lagi dia mendorongku rapat ke atas bantal, kemudian dia membuka kedua kakinya lebar-lebar dan menyerahkan tubuhnya padaku. Kami bercinta, bergulat sepanjang malam dan melengket seperti lem. Aku begitu menikmatinya sampai tidak sadar kami bercinta sampai menjelang pagi. Aku kelelahan tetapi merasakan kepuasan yang teramat luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN