Bab 5

1269 Kata
Aku tidak tau apa yang ada di benak laki-laki itu sampai mengizinkanku bermalam di rumahnya. Aku tahu tidak seharusnya mempercayai seorang lelaki asing yang baru kujumpai beberapa kali, tapi entah mengapa aku tidak merasa dia adalah orang jahat. Lagipula saat ini aku tidak memiliki uang ataupun kenalan yang bisa membantu. Setidaknya aku harus bersabar sampai gajiku bulan depan terbayar dan aku bisa mencari rumah sewa dengan harga murah di dekat rumah sakit. Dari semua kemalangan buruk yang menimpaku hari ini, ada satu hal yang membuatku bersyukur, karena sebelum pergi, aku berhasil memukul wajah Na Yeon dengan keras yang membuatku menangis keras setelahnya. "Kau baik-baik saja?" Kata lelaki itu ketika menyajikan teh hangat. Aku mengangguk lalu mengamati apartemennya yang cukup luas. Ada ruang tamu dengan sentuhan warna keemasan dan sofa berwarna hitam yang empuk. Di samping ruang tamu ada bar kecil, lalu sebuah lorong yang sepertinya menuju ruang televisi yang berdekatan dengan dapur. "Kau ingin melihat-lihat?" Aku terkejut lalu menatapnya malu-malu. "Kamarmu ada di lantai dua, di dekat kamarku" aku menggangguk lalu menarik koperku, "Kau bisa membawanya ke atas?" "Ya, tidak apa-apa, aku sudah cukup merepotkan mu hari ini, terima kasih" "Sama-sama" Kamar yang aku tempati tidak cukup luas karena sepertinya bukan kamar utama, hanya kamar tamu yang cukup nyaman dengan sebuah ranjang kecil tertutup seprai ungu dan sebuah lemari pakaian. Aku menyingkap tirai lalu cahaya terang masuk menelisik dengan tajam membawa pemandangan kota Soul dari lantai 20. Aku terkesan, tempat ini sangat indah. Setelah selesai menaruh pakaian dalam lemari, aku duduk termenung tak tahu akan melakukan apa. Jika turun, aku akan bertemu lelaki itu dan aku tidak tau apa yang akan aku bicarakan atau aku lakukan, rasanya aku benar-benar merasa sungkan dan mati kutu dibuatnya. Tapi rasa maluku ini tak berlangsung terlalu lama. Begitu aku mencium aroma masakan yang membuat perutku berbunyi keroncongan, aku akhirnya meninggalkan kandangku lalu turun ke bawah mengabaikan rasa maluku. Aku mengikuti aroma masakan lezat itu sampai tiba di dapur kecil di ujung lorong. Aku terkejut melihatnya memasak seorang diri lalu aku memutuskan untuk memberinya bantuan, meski aku sendiri sebenarnya tidak pandai dalam urusan dapur. "Kau sedang memasak, bagaimana kalau aku membantumu?" "Kau bisa memotong ketimun?" "Ya, serahkan saja padaku" kataku dengan nada sok berlebihan, rupanya pekerjaan itu tidak begitu mudah dan aku tidak bersahabat akrab dengan pisau. Baru saja mengiris beberapa potong ketimun, pisau itu juga melukai tanganku. Aku berteriak terkejut membuat Lee memandangku. "Kenapa, kau terluka?" Aku menunjukkan jari manisku yang berdarah padanya, tapi dia tidak tampak simpati. "Ada plaster luka di laci ruang televisi. Kau bisa mengambilnya" ucapnya sambil melanjutkan menumis pasta keju. Aku berjalan ke ruang tivi yang berhadapan dengan dapur. Ada banyak laci di ruang televisi, jadi aku harus membuka laci itu satu persatu. Saat membuka laci ketiga aku terkejut menemukan sebuah pistol dan beberapa peluru yang tersimpan rapi. Aku tidak tahu untuk apa ada benda seperti ini ada di sini. Apa dia seorang polisi? "Kau sudah menemukannya?" Mendengar suara lelaki itu aku segera menutup laci lalu berbalik padanya. "Aku belum menemukannya" Dia membuka laci coklat paling atas lalu mengambil sebuah plaster luka yang dengan gesit ia rekatkan di atas lukaku. "Aku sudah menyiapkan makan malam, ayo ke sana" aku mengangguk patuh, tapi pertanyaan tentang siapa lelaki itu masih membuatku cukup penasaran. "Makanan ini lezat sekali" kataku ketika suapan pertama spaghetti itu meluncur mulus ke dalam mulutku, bersama keju meleleh yang terasa gurih di lidah. "Kalau begitu habiskan" ucapnya dengan raut wajah dingin yang begitu datar. "Kau sangat pandai memasak" pujiku padanya. "Aku tinggal sendiri, jadi tentu saja harus memasak sendiri" "Ah, pantas saja" "Cuci piringmu kalau kau sudah makan" "Aku mengerti" Aku tidak ingin dianggap tidak tahu malu saat tinggal menumpang gratis di rumah orang. Aku membereskan meja lalu mencuci piring, tidak banyak, hanya piring makanku saja karena Lee sudah mencuci piring makannya lebih dulu. Ketika membuka kulkas untuk meletakkan sisa ketimun tadi, aku melihat beberapa kaleng bir yang membuatku tiba-tiba ingin minum dan meluapkan kekesalanku hari ini. Kubawa beberapa kaleng bir itu ke ruang televisi, karena aku melihat lelaki itu ke sana setelah makan. Aku sedang tidak ingin minum sendiri, jadi kubawa minuman ini ke tempatnya. Dia menatapku heran, tapi aku tidak mengatakan apa pun dan lekas menenggak satu kaleng minuman itu tanpa jeda sama sekali. Ketika aku menatap matanya aku merasa sorot mata itu seolah memuji keterampilan minumku. "Kau mau?" Aku menyodorkan satu kaleng bir padanya, tapi dia memilih mengambil kaleng lainnya dari meja, seolah enggan menyentuh apa yang sudah kusentuh, membuatku merasa kesal. "Huh… kenapa ada banyak orang jahat di dunia ini" "Tidak ada orang yang benar-benar baik, bahkan tidak juga kau" aku menatapnya sinis. "Setidaknya aku tidak mengkhianati siapa pun" "Hanya karena tidak melakukan hal seperti itu bukan berarti kau lebih baik" "Kau membela Na Yeon?" Pekikku dengan emosi. "Aku hanya mengatakan hal yang seharusnya" Mendengar bualannya membuatku tidak tahan untuk terus minum. "Apa kau juga suka bercinta dengan para gadis? Ah, tidak perlu kau jawab, itu terlihat jelas di wajahmu" Ia menyeringai tipis. "Semua pria memang b******k" "Hai, hanya karena seorang pria bercinta dengan banyak wanita itu tidak berarti mereka b******k. Lagipula tindakan itu dilakukan dengan keinginan bersama, jadi salahnya di mana?" Aku memicingkan mata makin tajam padanya, "Ya, begitulah pria punya banyak alasan" "Kau sendiri kenapa tidak bercinta, apa karena tidak ada pria yang menginginkanmu" "Enak saja, aku hanya menjaga diriku dengan baik. Aku hanya akan memberikan keperawananku untuk pria yang tepat!" "Lalu, bagaimana kalau pria yang tepat tidak pernah muncul. Kau akan jadi perawan tua!" Ia berbisik sambil tertawa membuatku semakin marah. Aku menenggak empat kaleng bir hingga rasanya perutku penuh ingin muntah. Kepalaku berputar dan tidak bisa mengingat semua yang terjadi dengan baik. Apa yang kulihat begitu bersinar hanya lelaki itu, senyumnya yang aneh seolah membuatku lupa banyak hal. ** Kepalaku terasa berat, pandanganku kabur dan seluruh tubuhku terasa sakit. Aku merasa tempat yang kutiduri terasa sangat sempit, kasar dan hangat, jadi aku berusaha membuka mata, tapi apa yang kulihat membuatku terkejut nyaris terkena serangan jantung. Aku tidur bukan di atas ranjang seperti dugaanku, tapi tidur di atas tubuh telanjang lelaki itu, tapi tunggu! Bukanya hanya dia yang telanjang, tapi aku juga. Buru-buru aku mengambil selimut lalu memukulnya dengan kerasa sampai dia bangun dalam keadaan terkejut. "Apa yang kau lakukan padaku hah?" Kataku sambil menangis mengetahui apa yang sudah terjadi di antara kami, "Apa ini tujuanmu mengizinkan aku tinggal di rumahmu. Kau benar-benar licik" aku memukul tangannya dengan keras, tapi dia diam saja. "Bukan aku yang mengizinkan hal ini terjadi, tapi kau" "Kau menuduhku? Berani sekali kau" "Kau melakukannya, kau menarikku, kaulah yang memperkosaku di sini" "Memperkosamu? Kau? Kau pasti mengarang cerita kan?" "Kau mau lihat buktinya?" Dia beranjak menuju komputer di dekat jendela tanpa mengenakan sehelai benangpun sampai aku bisa melihat bentuk tubuhnya yang menggoda. Baru pertama kali aku melihat lelaki telanjang di hadapanku bukan sebagai seorang pasien. "Lihat ini!" Dia menunjuk ke arah komputernya yang berada di samping tempat tidur. Aku bangun dengan kewalahan, karena bagian bawah tubuhku masih terasa sakit. Entah apa yang dilakukan lelaki b******k ini padaku. Saat melihat rekaman itu, aku tidak bisa menahan malu. Semalam aku menariknya ke atas tempat tidur lalu membuka pakaianku sendiri dengan liar. Setelah aku sudah telanjang di hadapannya, aku menariknya lalu turut menelanjanginya sekalipun dia tampak menahanku melakukan itu. Aku tidak tahan melihat rekaman itu dan buru-buru menyalahkannya agar dia tidak menuduhku sepihak. "Ini bukan pemerkosaan, kau bahkan menikmatinya" "Tapi kau melakukannya tanpa membuat kesepakatan denganku. Aku sedang tidak ingin bercinta tapi kau malah memaksaku" "Itu semua salahmu" "Aku bisa melaporkanmu ke polisi" "Kau pikir polisi akan percaya tuduhanmu?" "Aku punya bukti" Aku diam tidak bisa melakukan apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN