Sembilan Belas

915 Kata

Sepanjang pagi tak terhitung berapa kali kami bercinta. Rasanya seperti pengantin baru yang sulit melepaskan diri dari godaan cinta, hasrat, nafsu dan birahi untuk selalu bersama -- saling melengket satu sama lain seperti lem. Kami hanya berhenti untuk makan siang, lalu setelah kembali ke kamar tangan kami balik saling menggerayangi, kulit saling bersentuhan dan bibir saling melumat. Entah mengapa aku selalu merasa menginginkannya dan mungkin sepertinya hanya aku yang kepalanya diisi oleh dirinya, sebaliknya dia seperti biasa, dingin, bisa mengendalikan diri; tenang seperti air. Aku agak cemburu, berharap dia juga bisa segila aku yang sangat menginginkannya. Kami berbaring di atas ranjang, bermandi peluh dan keringat. Aku terus memeluknya sementara dia tampak damai dalam tidur. Dari balik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN