Dua Puluh

1716 Kata

Aku melamar Runa... Melamarnya... Melamarnya? Itu adalah kosa kata yang terus terulang seperti perintah di kepalaku dan entah kenapa kulakukan juga. Untuk alasan cinta? Bukan. Aku memang mencintainya tapi seperti yang selalu kuutarakan penuh keyakinan yang tak pernah sekalipun goyah, aku tak memuja pernikahan dan tak mau terlibat jadi bagian dari ikatan itu. Tapi, selama berada di Busan aku selalu mencari cara mengubah pikiran dan keputusannya agar dia bukan hanya mementingkan diri dan hidupnya, tapi juga memikirkan pendapat dan kehendakku. Walaupun selama berada di sini dia tak pernah lagi membahas insiden itu, tapi aku tahu harus melakukan pencegahan paling baik. Lalu ide ini muncul dan hadir. Kupikir mengapa tidak? Sehabis memesan sebuah resort pribadi setelah bermalam di jalan seperti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN