Dua Satu

960 Kata

Baru sesaat rasanya aku mengecap bahagia sampai membuatku ingin melayang. Makan malam romantis, tawa indah, pelukan hangat, dan mimpi-mimpi masa depan penuh harap. Tiba-tiba segalanya berbalik arah. Musnah, runtuh, terbakar jadi abu, ketika Lee dengan dingin berkata kami selesai. Ia berbicara dengan cara asing yang membuatku sesaat tak mengenalnya. Kupikir apa yang terjadi pagi ini semacam mimpi buruk, sangat buruk sampai aku mau memaksa bangun. Aku termenung menatapnya, melihat kemarahannya dalam senyap ditemani deru lautan yang pecah di kejauhan -- itupun samar nyaris tak terdengar jelas. Lalu ketika menyadari dia mulai mengemas semua pakaiannya, aku tersadar itu kenyataan. Kupegangi tangan Lee. Aku tahu dia marah sangat marah, tapi kukira segalanya bisa kami bicarakan, hanya perlu be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN