Aku lepas kendali, hampir menabrak trotoar jalan -- menyetir dengan kecepatan tinggi. Ban mobil depan terangkat, airbag membengkak. Kepalaku terbentur. Aku merenung dalam ketiadaan perasaan yang mati. Ketika memutuskan meninggalkan Runa, aku tahu bukan hanya dia yang terluka, tapi tak kusadari nyeri ini terlalu menakutkan. Entah dia tahu atau tidak, meninggalkan juga bukan kehendakku. Ada sedikit atau mungkin besar penyesalan dalam hatiku yang terdalam jika saja dia mendengarkan aku. Bukan, ini bukan salahnya, jika saja aku adalah manusia dan lelaki yang cukup baik untuknya mungkin luka ini tidak tertoreh dalam. Tapi semua sudah terjadi tak ada yang bisa diubah. Aku kembali pada diriku yang penuh kelam dan rahasia. Meski jauh sebelum itu aku pernah berharap menapak masa depan bersama. Aku

