Kubulatkan tekad, melakukan apa yang memang sudah semestinya kulakukan sejak awal. Namun terlalu takut mengambil langkah maju karena ketakutan akan terluka. Ada Lee disisiku dan tidak ada yang lebih membahagiakan dan membuatku berani, selain kenyataan ada keberadaannya dalam hidupku. Malam berlalu makin panjang. Melihatnya terbaring di sisiku dalam tidur lelapnya membuatku terbuai seperti anak kecil dalam pangkuan ibu. Sempat kepergiannya kemarin lalu membuatku terseok, jatuh dan tak mampu bangkit. Namun melihatnya detik ini juga seolah menghapus semua bekas luka. Aku terbaring dalam lelap lalu bermimpi akan kehidupan bahagia. Ketika aku terjaga, matahari sudah menyebar nyala cahayanya yang terhalang sendu musim gugur. Aku memalingkan muka ke arah pembaringan Lee berada, namun seperti ya

