Berhadapan dengan mantan kekasih Runa bukan yang pertama kali untukku dan entah kenapa setiap kali aku melihatnya darahku jadi mendidih. Aku ingin selalu mencari kesempatan untuk sekedar melayangkan tinju ke wajahnya dan sepertinya ini adalah saat yang tepat. “Lepaskan tanganku” ucapnya dengan bibir bergetar, entah karena ketakutan atau tengah berduka, tak sedikitpun aku merasakan iba. “Kau pikir masalah ini akan berakhir begitu saja?” Aku mencengkram tangannya makin kuat, membuatnya mengerang kesakitan. Sedikit heran aku tak mengerti apa dia lelaki atau bukan, tekanan sedikit saja sudah memuatnya meringis. “Apa kau akan menghajarku di sini?” tanya si pengecut itu dengan muka pucat. Aku menyeringai tipis, betapa baik dia membaca isi kepalaku. Tanganku memang sudah sejak tadi mengepal

