Gadis berseragam putih abu-abu itu menatap pintu kamar Arjuna. Jantungnya berdegup-degup seperti mau meledak. Teringat lagi olehnya kecupan di pipi dari Arjuna semalam. Ya, ia tak bisa melupakannya. Memang tak mungkin bisa dilupakan, kan? Aalea tak tau apa arti kecupan itu. Hanya saja ... rasanya ... senang? Entahlah, yang jelas pipi Aalea memerah sekarang. ... "Kita putus aja," kata pemuda itu dingin. Wajahnya datar dan matanya menatap lurus ke depan. Gadis di hadapannya meremas roknya kuat-kuat. "Apa? Kok kamu mutusin aku gini, sih, Il? Aku salah apa?!" ujarnya tak terima. "Salah lo? Lo ngebosenin." Jleb! Jawaban itu menghunus bagai sebilah pedan

