Hiks. Suara isakan terdengar sayup-sayup dari arah dapur. Diiringi semilir angin yang menggoyangkan ranting-ranting serta dedaunan di atas pohon sana. Isakan samar itu terdengar makin jelas. Membuat seorang laki-laki paruh baya yang sedang asyik membaca koran di beranda depan mengerutkan keningnya. Ia melipat koran itu dan meletakkannya. Kini kakinya ia langkahkan menuju sumber suara, dapur. Dan benar saja. Pendengarannya tak salah. Seseorang menangis di pojok sana. Menutupi mukanya dengan daster kumal yang sudah dipakai sejak kemarin. "Lho, Bu? Kok nangis?" tanyanya. Tak ada jawaban. Wanita yang tak lain adalah istrinya itu masih saja terus menangis. Seakan kesedihan menghujam keras jantungnya. Hingga beberapa saat kemudian bibirnya berucap, "Ibu kangen Aalea, Pak. Ruma

