Berbaik Hati 1

1232 Kata
    Pagi menjelang, dan pagi ini Puti isi dengan kegiatan memeriksa kebun bunga yang kemarin sempat kembali dirombak penataannya sesuai dengan keinginan serta desain yang dibuat secara pribadi oleh Puti. Tak membuang waktu, Puti pun masuk ke dalam area taman dan bisa melihat hampir delapan puluh persen bagian taman sudah selesai dibangun dan dihias seperti yang ia bayangkan. Tinggal menunggu delapan puluh persen lagi, maka Puti akan melihat taman yang ia ingikan sudah sempurna. Kini, Puti yang terlihat anggun dengan menggunakan gaun yang jatuh lembut sepanjang betis putihnya.     Rambut hitam sepunggung Puti yang tampak tebal, terlihat dikepang menjadi satu dan diikat menggunakan pita yang senada dengan gaun yang ia kenakan. Sebenarnya, tampilan Puti ini bukanlah hasil berias Puti sendiri. Entah kenapa, pagi tadi Yasmin ingin mengepang rambutnya serta memilihkan pakaian yang akan digunakan Puti di hari bersantainya ini. Hari ini, baik Puti maupun Nazhan memang tidak memiliki jadwal kuliah. Jadi, sudah dipastikan, Puti yang memang orang rumahan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam rumah jika tidak ada kegiatan yang mendesak di luar rumah.     Puti menunjuk salah satu sudut taman yang memang belum selesai direnovasi. “Pastikan jika sudut taman itu dibangun dengan baik. Aku ingin ada kursi taman tambahan di sana,” ucap Puti pada Nazhan yang tentu saja mengikuti Puti sejak awal memasuki area taman tersebut. Tentu saja Nazhan mengikuti Puti karena dirinya yang bertugas untuk mengatur dan memastikan pembangunan taman ini sesuai dengan yang diinginkan oleh Puti.     “Saya akan memastikannya, Nona,” ucap Nazhan menggunakan bahasa formal saat berbicara dengan Puti. Tentunya, Puti tidak mempermasalahkan Nazhan yang kembali menggunakan bahasa formal saat berbicara dengan dirinya. Puti tahu jika saat ini Nazhan memang harus menggunakan bahasa formal, agar tidak ada satu pun orang yang merasa jika dirinya bertingkah kurang ajar, dan lupa diri. Nazhan memang diberikan banyak fasilitas istimewa sebagai seorang bodyguard sang nona muda yang begitu disayangi tuan dan nyonya besar. Namun, hal itu bisa menjadi boomerang jika Nazhan tidak bersikap dengan bijak.     Puti mengangguk dan memilih untuk melangkah menuju gazebo yang berada di bagian taman yang memang sudah dibangung secara sempurna. Puti mendesah dan duduk dengan nyaman di kursi yang berada di tengah gazebo. Puti pun membuka buku tebal yang ternyata adalah novel bahasa Jerman yang memang sudah ia baca sejak tadi malam. Sementara itu, Nazhan berdiri di belakang Puti, sembari mengamati apa yang tengah Puti baca dengan seksama. Namun, Puti mengejutkan Nazhan saat tiba-tiba berkata, “Katakan pada pelayan dapur, untuk menyiapkan jamuan teh untukku. Tapi aku ingin Tahani yang menyeduhkan dan menyajikannya untukku.”     Nazhan mengernyitkan keningnya. Tentu saja, Nazhan yang mendengarnya merasa ada hal aneh. Lebih tepatnya, Nazhan merasa jika saat ini Puti tengah merencanakan sesuatu mengenai Tahani. Namun, Nazhan tidak memiliki kuasa untuk menanyakan apa yang saat ini tengah Puti rencanakan, dan apa yang akan ia lakukan pada Tahani. Maka, Nazhan pun membungkuk sedikit dan berkata, “Saya akan melaksanakannya, Nona.”     Nazhan pun beranjak dan meninggalkan Puti di gazebo. Namun, tak lama Nazhan kembali datang dengan Tahani yang membawa sebuah nampan berisi set teh dan beberapa camilan kecil yang memang diminta oleh Puti. Tahani segera beranjak menuju meja di mana Puti duduk dengan anggun, tampak begitu tenang dengan kegiatan yang tengah ia lakukan. Tahani berkata, “Permisi Nona, saya membawakan apa yang Nona inginkan.”     Puti hanya berdeham sebagai isyarat jika dirinya mendengar apa yang dikatakan oleh Tahani. Si pelayan muda tersebut tanpa banyak kata meletakkan set teh dan menyeduhkan teh yang diingikan oleh Puti dengan anggun. Puti untuk sementara memilih bersandar dengan nyaman dan melepaskan pandangannya dari novel yang ia baca. Puti kini mengamati apa yang dilakukan oleh Tahani. Dengan seklilas pandangan saja, Puti bisa menilai jika Tahani tampak begitu lelah dan kehilangan fokusnya. Namun, Puti sama sekali tidak berkomentar dan membiarkan apa yang dilakukan oleh Tahani tersebut.     Seperti yang dipikirkan oleh Puti, Tahani memang kelelahan dan kehilangan fokusnya. Saat ini, Tahani bahkan melakukan kesalahan yang sangat vatal. Tahani tidak bisa menahan teko yang tengah ia pegang dan membuatnya tergelincir. Teh yang mengisi teko tersebut tidak bisa ditahan tumpah begitu saja dan membasahi buku milik Tahani yang terbuka di atas meja. Tahani terlihat begitu ketakutan dengan apa yang telah ia lakukan. Tahani membungkuk berulang kali dan mengucapkan maaf pada Puti.     Namun, Puti sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kemarahan atau kesal sedikit pun. Puti tampak begitu tenang dan hal itu malah membuat Tahani dan Nazhan merasa begitu takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Puti selanjutnya. Takut jika Puti bisa melakukan hal kasar pada Tahani, Nazhan pun beranjak dan berdiri sebagai tameng yang melindungi Tahani. Nazhan kini  berdiri tepat di hadapan Tahani, lebih tepatnya memunggungi Tahani yang masih saja bergetar ketakutan karena merasa sudah membuat Puti marah besar padanya.     Puti menatap Nazhan dengan kening mengernyit dalam. Ia mendongak dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan?”     “Saya ingin meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh Tahani. Maafkan Tahani, Nona. Tahani sama sekali tidak melakukannya dengan sengaja. Saya harap, Nona memaafkan apa yang sudah terjadi barusan,” ucap Nazhan.     Puti menghela napas dan memberikan isyarat pada Nazhan untuk menyingkir. “Apa kamu pikir aku sejahat itu, hingga akan melukai orang lain karena hal seperti ini?” tanya Puti pada Nazhan. Tentu saja Nazhan mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Puti. Ia pun bergeser dam membuat Puti bisa melihat Tahani dengan jelas.     Puti mengambil serbet dan menyeka kertas novelnya dengan perlahan. Untung sekali, novel yang dibaca oleh Puti terbuat dari kertas khusus yang tidak akan mudah basah. Selagi dirinya mengeringkan novelnya tersebut, Puti menatap Tahani yang masih terlihat ketakutan. Puti tampak begitu santai, seakan-akan dirinya memang tidak marah dengan apa yang sudak dilakukan oleh Tahani tersebut. Namun, Nazhan yang melihat sikap tenang dan santai Puti tersebut sama sekali tidak bisa menahan diri untuk berpikir jika Puti saat ini tengah merencanakan sesuatu untuk menghukum Tahani. Bagi Nazhan, Puti adalah sosok iblis cantik yang nyata. Puti memang selalu terlihat cantik, tetapi kapan pun dan di mana pun, Puti bisa berubah menjadi iblis yang mendatangkan penderitaan bagi seseorang.     Namun, Puti malah menyunggingkan sebuah senyum manis yang membuat Tahani dan Nazhan tertegun dengan mudahnya. Tentu saja mereka kaget dengan Puti yang malah tersenyum alih-alih menyemburkan kata-kata pedas yang menusuk. Puti berkata, “Kamu tidak perlu terlihat ketakutan seperti itu di hadapanku. Kamu memang melakukan kesalahan, tetapi aku tidak merasa perlu menghukum dirimu atas kesahan yang sudah kamu lakukan. Hanya saja, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”     Tahani yang mendengarnya tentu saja berpikir lebih baik dirinya menjawab pertanyaa yang diajukan oleh Puti, daripada harus mengahadapi Puti yang marah. Puti terlalu menakutkan saat dirinya marah. Tentunya, Tahani tidak ingin menghadapi kemarahan Puti tersebut. Tahani pun tanpa pikir panjang mengangguk dengan cepat. “Nona bisa menanyakan apa pun. Saya akan menjawab sebisa saya,” ucap Tahani tanpa keraguan sedikit pun.     Puti kembali tersenyum membuat Nazhan yang melihatnya semakin berpikir jika Puti saat ini tengah merencanakan sesuatu. Puti tentu saja bisa menangkap apa yang tengah dipikirkan serta disimpulkan oleh Nazhan, tetapi Puti memilih untuk mengabaikan apa yang ia lihat tersebut. Nazhan tetap menatap Tahani degan senyuman manis yang terukir dengan apik di wajahnya yang jelita. Puti pun tidak membuang waktu untuk menanyakan pertanya yang memang sudah ia siapkan untuk Tahani.     Puti mengubah posisi duduknya menjadi menyangga dagunya dengan salah satu tangan di atas meja dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan malam tadi? Kenapa bisa kamu setidak fokus ini?”     Tahani jelas terkejut. Ia mati-matian berusaha untuk tidak memperlihatkan keterkejutan tersebut. Namun, Puti sudah terlanjur melihat keterkjutan yang dirasakan oleh Tahani. Puti pun tidak melepaskan kesempatan untuk lebih menekan Tahani, dengan bertanya kembali, “Jadi, apa jawabanmu, Tahani? Apa yang kamu lakuakan hingga bisa terlihat selelah ini?”     —Bersambung ke Berbaik Hati 2—
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN